MANAGED BY:
SENIN
17 DESEMBER
UTAMA | SANGGAM | PEMERINTAHAN | PARLEMENTARIA | EKONOMI | ALL SPORT | KOMBIS
Selasa, 12 Juni 2018 14:40
Konsumerisme di Bulan Ramadan
Oleh: Siti Aminah, Spd.I

PROKAL.CO, BULAN Ramadan adalah bulan di mana umat Islam berbondong-bondong untuk menggenggam keberkahan dan rahmat yang terdapat di dalamnya. Bulan Ramadan adalah bulan Rahmat, bulan ampunan dan bulan di bukanya surga dan ditutupnya pintu neraka.

Banyak dari kaum muslimin berbondong-bondong ke masjid menyesaki setiap sudutnya untuk mengejar pahala dari Allah SWT, mulai dari rutin salat lima waktu, salat tarawih, tadarus Alquran hingga i’tikaf di akhir malam dari Ramadan.

Datangnya bulan Ramadan memberikan keberkahan yang nyata, terlebih aurat-aurat tertata dan tertup dengan rapi. Lihat saja di televisi artis-artis semua memakai busana yang sopan dan santun. Layar televisi dan berita up todate mengabarkan terkait suasana Ramadan dengan segala pernak pernik dan warna warni jajanan pasar Ramadan.

Para pedagang kue berjejajalan sepanjang jalan terlebih ada pasar khusus yang menjajakan jajanan khusus Ramadan. Tak kalah menarik adalah pakaian mulai dari atasan, bawahan, luaran, hingga pekakas rumah tangga kekinian hingga barang lama di diskon besar-besaran. Terlebih puncaknya menjelang lebaran akan sangat tampak konsumsi masyarakat untuk barang-barang tersebut.

Bukankah puasa pada dasarnya adalah untuk menahan segala sesuatu dari terbit matahari hingga terbenamnya matahari. Menahan diri dari segala yang membatalkan puasa dari makan dan minum dan segala sifat-sifat yang mengurangi pahala puasa baik amarah, dengki, dan nafsu syahwati lainnya.

Namun, pada realitanya di lapangan, konsumtif masyarakat kian tidak terbendung. Mengamati dan memperhatikan dari diri sendiri, keluarga dan masyarakat luas, belanja lebih besar pasak daripada kebutuhan. Semua apa yang akan di beli dikuti. Contoh saja ketika menjelang berbuka puasa, mulai dari es kelapa, es dawet, kue risolis, bakwan, bolu , sayur masak sop, sayur santan semua di beli untuk persediaan untuk berbuka puasa nanti. Setiap hari seperti itu dan selalu banyak makanan dan minuman yang kadangkala terbuang bahkan mubazir.

Gejala konsumerisme di kalangan umat Islam begitu kencang tak terbendung. Pasar Ramadan yang di sediakan dari ujung keujung habis dan ludes terjual. Bahkan ada yang sampai membeli di beberapa tempat untuk mencari makanan dan minuman yang menjadi favorit.

Gejala konsumerisme yaitu pemborosan yang amat dilarang oleh Allah SWT yang jauh dari tujuan berpuasa itu sendiri, yakni menahan diri. Masih banyak kaum muslimin yang tidak mampu menahan diri dari konsumerisme. Puasa yang sebenarnya bila dipikir secara logika dapat mengurangi dan menghemat perbelanjaan beberapa pekan kedepan, malah tidak cukup dan bahkan kurang karena konsumtif yang terlewat besar dari kaum muslimin, bahkan barang kali ada yang sampai berutang untuk memenuhi kebutuhan konsumtif tersebut.

Hampir setiap Ramadan, gejala konsumerisme Ramadan begitu pesat membendung kaum muslimin. Wabil khusus di akhir 10 Ramadan, setiap keluarga sibuk dengan menyiapkan persediaan lebaran seperti kuekering, kue basah, masak-masakan di hari lebaran seperti Soto, lontong sayur, bakso, rawon dan lainnya. Tak kalah lagi semua serba baru, gorden baru, toples,  kue baru, gelas baru, sofa baru, akan merasa malu dan minder kalau tidak mengenakan pakaian baru, akan iri ketika melihat tetangga dan anak-anaknya serba baru di hari lebaran. Tidak masalah ketika hal tersebut di penuhi, asal ibadah tetap terjaga, salat tetap jalan, tadarus tetap jalan. Ketika perabot rumah masih bagus, mengapa harus membeli yang baru? Cukup dengan yang ada digunakan untuk menjamu tamu di hari lebaran. Momen silaturahmi yang sangat langka dan ditunggu kehadirannya setiap keluarga Muslim.

Terjadi penyimpangan ketika puasa yang notabene-nya untuk menahan nafsu diri malah terabaikan dengan nafsu konsumerisme tak terbendung yang ada pada diri setiap muslim.

 Sebagaimana Allah SWT berfirman sebagai berikut

 “Dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan.” (QS. Al Isro’ [17]: 26-27).  

Jelas di dalam ayat diatas larangan untuk berlaku boros dan pelaku boros adalah teman baiknya syaithon. Maka, setelah membaca tulisan ini penulis harapkan senoga kaum muslimin kembali mengingat tujuan sebenarnya puasa adalah untuk apa. Tidak perlu terlalu memaksakan kehendak memenuhi apa yang belum tentu untuk di konsumsi. Hendaknya berusaha membentengi keimanan diri agar kaum muslimin terhindarkan dari gejala konsumerisme yang tidak terbendung.

Biaya-biaya yang ada bisa di gunakan untuk kebutuhan- kebutuhan di lain waktu setelah lebaran. Karena aktifitas dan kebutuhan akan tetap berjalan seperti biasanya. Tahanlah diri dari nafsu konsumerisme, selagi kebutuhan itu tidak terlalu mengganggu ketika tidak memilikinya cukup gunakan yang lama, bersihkan dengan baik maka perabot rumah tangga, pakaian menjelang lebaran akan tetap indah dan rapi tanpa mengurangi sisi kesucian diri.

Tidak perlu iri dan dengki dengan  orang lain yang memiliki kecukupan harta, sederhana dan bijak menyambut lebaran. Karena hari kemenangan yang sesungguhnya adalah mereka yang benar dalam menjalankan puasanya tentu yang menang melawan hawa nafsunya dan nafsu lainnya nafsu konsumerisme.

Demikianlah sekilas tulisan pendek dari penulis, semoga bermanfaat dan menambah pengetahuan.Billahifisabililhaq, fastabiqulkhoirot. (*/app)

*)Penulis adalah aktivis IMM dan pengajar di SD Muhammadiyah Tanjung Redeb

 

 

 

 


BACA JUGA

Rabu, 12 Desember 2018 14:24

Jadikan Pusat Perbelanjaan

KETIKA awal dikerjakan, pasar ini belum punya nama. Ini lokasi…

Senin, 10 Desember 2018 14:14

Manjakan Pejalan Kaki

MINIMNYA anggaran di tahun 2018 ini, tak berarti Pemkab Berau…

Minggu, 09 Desember 2018 08:21

Catatan Pak Daeng

DATANGLAH ke Talisayan. Banyak hal menarik yang bisa disaksikan.  Bukan…

Jumat, 07 Desember 2018 13:29

Sedikit Lagi, Kata Pak Dahlan

ENTAH seberapa banyak bedanya, ketika Pak Dahlan Iskan membandingkan Bandara…

Jumat, 30 November 2018 13:59

Manajemen Pendidikan di Indonesia

“PEMIMPIN yang tak melakukan kesalahan adalah pemimpin yang tak melakukan…

Sabtu, 24 November 2018 13:44

Peran Sektor Pariwisata di Indonesia

”MASALAH ekonomi Indonesia sudah terlalu ruwet dan ribet. Tidak bisa…

Sabtu, 17 November 2018 11:38

Authentic Relationship Membentuk Karakter Positif

APA itu Authentic relationship? Istilah ini dari bahasa Inggris. Bila…

Rabu, 31 Oktober 2018 00:42

Masyarakat Tanpa Miras

MINUMAN keras atau minuman beralkohol jelas hukumnya haram dalam pandangan…

Minggu, 28 Oktober 2018 11:41

Tolak Bala

BELAKANGAN ramai status media sosial masyarakat Pulau Maratua tengah mengadakan…

Jumat, 26 Oktober 2018 13:36

Hujan Jadi Berkah bagi Petani Sayur

TANJUNG REDEB - Hujan yang terus mengguyur Tanjung Redeb dan…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .