MANAGED BY:
SELASA
23 OKTOBER
UTAMA | SANGGAM | PEMERINTAHAN | PARLEMENTARIA | EKONOMI | ALL SPORT | KOMBIS
Kamis, 21 Juni 2018 09:56
Mutiara Syawal
Oleh: Siti Aminah, S.Pd.I

PROKAL.CO, align="left">TIDAK terasa sebulan penuh kita berpuasa di bulan Ramadan menahan lapar dan dahaga. Kaum Muslimin meninggalkan bulan Ramadan dan menyambut bulan Syawal penuh suka cita. Hari raya Idulfitri 1 Syawal  jatuh pada 15 Juni 2018 M. Kali ini pemerintah dan Muhammadiyah mengambil keputusan yang sama yaitu menetapkan 15 Juni 2018. Salat Idulfitri kaum Muslimin berbondong-bondong ke masjid-masjid dan ke tanah lapang untuk menunaikan salat Ied dengan selalu berzikir melantunkan takbir, tahmid dan tahlil menyambut hari kemenangan yang agung. Memasuki hari ke-2, ke-3, ke-4 dan seterusnya dari bulan Syawal kaum Muslimin dianjurkan untuk melaksanakan amalan sunnah puasa 6 hari di bulan Syawal. Bukan Syawal pertama karena bertepatan dengan (1 Syawal ) diharamkan untuk berpuasa.

Banyak sekali keutamaan-keutamaan dan pahala yang didapat dari mengerjakan puasa 6 hari di bulan Syawal. Diantaranya  terkait keutamaan-keutamaan dan pahala dari berpuasa 6 hari dibulan Syawal adalah barangsiapa yang mengerjakan puasa 6 hari di bulan Syawal ini maka akan dituliskan baginya puasa satu tahun penuh bila ia berpuasa dibulan Ramadan full. Sebagaimana yang di riwayatkan dalam sebuah hadits shohih  dari Abu Ayyub Al-Anshari Radiyallahu ‘Anhu bahwa Rasulullah SAW bersabda:

“Barangsiapa berpuasa pada bulan Ramadan lalu diiringinya dengan puasa 6 hari dibulan Syawal, berarti ia telah berpuasa setahun penuh.”(HR. Muslim, Abu Dawud, At-Tirmidzi, An-Nasa’i dan Ibnu Majah).

Rasulullah SAW telah menyampaikan dalam sabda beliau bahwa siapa saja dari kalian yang mengerjakan puasa 6 hari di bulan Syawal setelah Idulfitri maka baginya pahala satu tahun penuh berpuasa dan setiap kebaikan diberi ganjaran 10 pahala kebaikan.

Dalam sebuah riwayat berbunyi:

“Allah SWT telah melipatgandakan setiap kebaikan dengan 10 kali lipat. Puasa Ramadan setara dengan berpuasa sebanyak 10 bulan. Dan puasa 6 hari di bulan Syawal setara dengan puasa 2 bulan. Itulah puasa satu tahun”. (HR. An-Nasa’i dan Ibnu Majah dan dicantumkan dalah shohih at-Targhib)

Ibnu Khuzaimah meriwayatkan dengan lafadz:

“Puasa di bulan Ramadan setara dengan puasa 10 bulan, sedang puasa 6 hari dibulan Syawal setara dengan puasa dua bulan. Itulah puasa setahun penuh.”

Sungguh keutamaan yang luar biasa dan betapa beruntungnya seorang hamba bila mengerjakan amalan sunnah tersebut dengan sungguh-sungguh mengharapkan ridanya dan mengharap ampunannya. Tentunya yang harus diperhatikan bagi seorang muslim ketika ingin melaksanakan yang sunnah adalah lebih mengutamakan yang wajib. Bagi seorang muslim yang masih memiliki utang (qodho) puasa di bulan Ramadan lebih baik dan lebih utama baginya untuk menunaikan terlebih dahulu utang puasanya. Hal ini biasanya terjadi pada wanita yang haid atau nifas sehingga puasa mereka tidak tertunaikan dan memiliki kewajiban untuk meng-qodho atau mengganti puasa yang ditinggalkannya karena haid atau nifas. Setelah selesai meng-qodho puasa Ramadan yang ditinggalkannya barulah dianjurkan untuk melaksanakan puasa 6 hari di bulan Syawal. Karena yang wajib lebih utama dibanding yang sunnah.

Kemudian, hal ini sejalan dalam hadits di atas bahwa Nabi SAW mengatakan,”barangsiapa yang telah berpuasa Ramadan”.

Jelas di sini bahwa apabila seorang muslim masih memiliki utang (qodho) puasa Ramadan maka tunaikan dahulu agar mendapatkan ganjaran pahala seperti puasa setahun penuh. Karena bila seorang muslim menunaikan puasa 6 hari di bulan Syawal dahulu dan masih ada tanggungan (qodho) puasa yang belum ditunaikan, maka puasanya dianggap puasa sunnah muthlaq (puasa sunnah biasa) dan tidak mendapat ganjaran puasa Syawal karena kita kembali kepada perkataan Nabi SAW tadi, “Barangsiapa berpuasa Ramadan.”(lihat Syarhul Mumthi 3/89,100).

Syeikh Muhammad bin Sholeh Al-Utsaimin rahimahullah menjelaskan:

Sesungguhnya yang sunnah adalah berpuasa Syawal setelah meng-qodho puasa Ramadan,bukan sebelumnya, jika ada seseorang yang memiliki utang puasa Ramadan, lalu ia berpuasa Syawal sebelum ia meng-qodho-nya, maka ia tidak mendapatkan pahala setahun penuh, karena Nabi SAW bersabda:Barangsiapa yang berpuasa Ramadan (sebulan penuh), dan jika ada puasa Ramadannya yang bolong, maka ia tidak dinamakan puasa Ramadan sebulan penuh, melainkan hanya puasa sebagiannya saja.” (Lihat kitab as-Syarhul al-Mumthi’alaa Zaadil Mustaqni’ juz 6 hal 466,cet.Daar Ibnu Jauzi)

SEPERTI BERPUASA SETAHUN PENUH

Berpuasa 6 hari di bulan Syawal seperti puasa setahun penuh. Hal ini bisa di lihat pada hadits Tsauban di bawah ini:

Dari Tsauban bekas budak Rasulullah SAW, dari Rasulullaah SAW, beliau bersabda:

“Barangsiapa berpuasa 6 hari di bulan Syawal setelah Idulfitri, maka ia telah menyempurnakan puasa setahun penuh. Karena siapa saja yang melakukan kebaikan, maka akan dibalas 10 kebaikan semisal.” (HR. Ibnu Majah).

Dalam hadits di atas bahwa setiap kebaikan yang dilakukan seorang hamba maka akan diganjar 10 pahala kebaikan yang semisal. Hal ini menunjukkan bahwa puasa Ramadan sebulan penuh akan diganjar 10 bulan kebaikan puasa (10x30 hari = 300 hari). Sedangkan puasa 6 hari di bulan Syawal akan dibalas minimal dengan 60 hari (6x10 kebaikan =60) kebaikan puasa. Maka seseorang seperti melaksanakan puasa 10 bulan+2 bulan =12 bulan. Inilah keutamaan yang luar biasa bagi seorang hamba yang melakukan puasa 6 hari di bulan Syawal yakni diganjar pahala puasa satu tahun penuh berpuasa. Semoga kita menjadi hamba-hamba yang lurus (hanif) dalam beribadah kepada Allah SWT, mengharapkan keridaannya, menghrapkan rahmatnya, mengharapkan ampunannya. Selalu mendahulukan yang wajib ketimbang yang sunnah. Karena amaliyah-amaliyah wajib seorang hamba yang kurang akan tertutupi dengan amaliyah-amaliyah seorang hamba yang sunnah (mustahab).

Sebagimana salat yang dilakukan seorang hamba yang belum sempurna boleh jadi ada kelalaian-kelalaian yang dilakukan seorang hamba maka akan tertutupi kekurangan-kekurangan salat tersebut dengan banyaknya salat-salat sunnah yang dikerjakan hamba tersebut. Sunnah itu penyempurna yang wajib. Wallahu a’lam bishshowab.(*/app)

*) Penulis adalah seorang Aktivis di IMM dan pengajar di SD Muhammadiyah Tanjung Redeb


BACA JUGA

Rabu, 15 Agustus 2018 14:06

Makna Kemerdekaan Indonesia

TAK terasa begitu cepatnya perputaran ruang dan perputaran roda waktu yang silih berganti di antara…

Kamis, 09 Agustus 2018 14:46

Jasa Wartawan

Wartawan adalah orang yang pekerjaannya mencari dan menyusun berita untuk dimuat dalam surat kabar,…

Rabu, 08 Agustus 2018 11:17

Surat Cinta Muktamar IMM XVIII Malang

DINAMIKA perdinamika dalam tubuh ikatan terjadi. Idealisme kader bermunculan demi kukuhnya suatu fondasi…

Jumat, 03 Agustus 2018 13:40

Sakit Itu Berat, BPJS Tak Akan Kuat

BADAN Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) tengah mengalami defisit keuangan. Sehingga membuat lembaga…

Kamis, 02 Agustus 2018 13:29

Peduli Lingkungan, Simpel Aja!

Mendengar istilah simpel, identik dengan mudah, sederhana atau praktis. Begitu juga yang ingin dihadirkan…

Rabu, 01 Agustus 2018 14:17

Peduli Lingkungan Berau? SIMPEL Saja!

MENDENGAR istilah SIMPEL, identik dengan mudah, sederhana atau praktis. Begitu juga yang ingin dihadirkan…

Kamis, 26 Juli 2018 13:32

Sekolah Lapuk

TAMPAK sebagian atap tak lagi menutupi gedung tua itu. Penyangganya hampir lepas. Cahaya masuk dengan…

Selasa, 17 Juli 2018 01:07

Menuju Kota Digital

DIGITALISASI merupakan bagian dari revolusi industri 4.0 (four point zero). Jika revolusi industri 1.0…

Rabu, 11 Juli 2018 13:56

Mengukur Tensi Politik Menjelang Pileg 2019

TAK terasa roda perputaran sang waktu silih berganti, dari jam ke jam, dari hari ke hari, dari bulan…

Minggu, 01 Juli 2018 00:54

Kemenangan Pilkada untuk Semua

PERHELATAN akbar sekaligus pertarungan euforiasuksesi pemilihan kepala daerah, baik itu pemilihan gubernur…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .