MANAGED BY:
RABU
23 JANUARI
UTAMA | SANGGAM | PEMERINTAHAN | PARLEMENTARIA | EKONOMI | ALL SPORT | KOMBIS

UTAMA

Jumat, 17 Agustus 2018 01:05
Pesawat di Gunung Itu Diduga Martin B-10
PENINGGALAN PERANG DUNIA: Tim Berau Post bersama masyarakat kampung memeriksa kondisi bangkai pesawat yang sudah tak utuh.

PROKAL.CO, BANGKAI pesawat di gunung Kampung Long Keluh, diduga kuat berjenis bomber medium, yakni Martin B-10 atau biasa disebut Glenn Martin. Karena pesawat jenis tersebut pernah digunakan Belanda pada Perang Dunia II melawan Jepang di Tarakan, Kalimantan Utara. Selain itu memang ada beberapa kemiripan dari temuan bangkainya.

Kemiripan yang terlihat seperti bentuk ekor pesawat, baling-baling, double engines, logo segitiga terbalik di badan pesawat, persis dengan logo yang digunakan Belanda saat memakai pesawat Martin. Kemiripan juga terlihat pada tempat duduk awak. 

Komandan Skuadron 13/Serbu, Letkol Cpn Sucipto menyebut, berdasarkan ciri-ciri bangkai, pesawat jenis tersebut tidak pernah digunakan oleh Tentara Nasional Indonesia (TNI), khususnya penerbang angkatan darat.

Namun, berdasarkan temuan double engine, diperkirakannya pesawat tersebut merupakan pesawat perang yang digunakan negara lain. Dan bisa jadi adalah pesawat bomber atau pengangkut prajurit.

“Kemungkinan ya, karena semuanya belum bisa dipastikan sebelum ada penelitian lebih lanjut,” terangnya kepada Berau Post, beberapa waktu lalu.

Sucipto menduga pesawat tersebut tidak terbakar, melainkan jatuh karena beberapa faktor. Seperti kehabisan bahan bakar dan lainnya. Diterangkannya, pesawat yang terbakar biasanya tak menyisakan bagian pesawat cukup banyak, karena badan pesawat terbuat dari bahan yang mudah terbakar habis ketika meledak.

Terpisah, Dandim 0902/TRD Letkol Cpn Ronny Nuswantoro, yang juga penerbang angkatan darat, menduga kuat pesawat tersebut adalah jenis bomber medium. Seperti Glenn Martin, dengan tiga awak yang dilengkapi senapan mesin. Pesawat jenis tersebut pada zamannya digunakan oleh beberapa negara, salah satunya Belanda, terkecuali Jepang.

“Bisa jadi ini pesawat sekutu pada saat perang dunia II. Memang ada terlibat di Kalimantan dengan jenis Martin,” terangnya di penerbangan Nam Air rute Tanjung Redeb-Maratua, kemarin (16/8).

Pesawat Martin B-10, disebutkan Ronny, erat kaitannya dengan sejarah mantan tentara Belanda yang merupakan orang Indonesia, Suryadarma. Berperang melawan Jepang di perairan Tarakan, menggunakan pesawat tersebut.

Meski demikian, perwira berpangkat melati dua ini, tak berani memperkirakan jika Berau pernah terlibat langsung dalam perang dunia II. Ia menduga Berau hanya perlintasan armada udara, laut maupun darat.

Dari referensi yang didapatkan tentang sejarah Suryadarma, besar kemungkinan pesawat yang dimaksud adalah Martin B-10. Dimulai dengan sejarah perjalanan berdirinya TNI AU, yang cukup unik dan penuh perjuangan. Karena bermodal pesawat-pesawat terbang peninggalan Jepang serta Belanda yang ditinggalkan begitu saja.

Kepala Staf TNI AU (KASAU) yang pertama, Marsekal Suryadi Suryadarma pun awalnya merupakan tentara Belanda yang kemudian bergabung dengan Angkatan Perang RI.

Sebagai tentara Belanda yang pernah mengawaki pesawat tempur jenis pengebom Glenn Martin dalam PD II, Suryadarma pernah menjabat sebagai Wakil Komandan Kesatuan Pengebom Grup 7 AU Belanda.

Dalam misi tempurnya, Suryadarma yang bertugas sebagai komandan operator bom, pernah menenggelamkan kapal Jepang (cruiser) di perairan Kalimantan.

Kisah heroik itu berlangsung pada 13 Januari 1942, ketika pesawat Glenn Martin B-10 yang diawaki Suryadarma dan dipiloti Kapten Lukkien serta seorang kopilot lainnya, terbang dari Pangkalan Udara Manggar.

Tujuan misi terbang tempur itu adalah untuk menyerang kapal-kapal perang Jepang yang sedang berlayar menuju Tarakan. Pesawat yang diawaki Suryadarma, Glenn Martin M-588, terbang bersama dua pesawat lainnya dengan formasi segitiga dan saling melindungi dari ancaman sergapan pesawat tempur Zero Jepang.

Dalam misi itu, Suryadarma bertindak sebagai observer sekaligus komandan operator bom bagi dua pesawat Glenn Martin lainnya.

Penerbangan ketiga pesawat Belanda itu dengan mudah menemukan konvoi kapal-kapal perang Jepang dengan jumlah sekitar 50 unit, yang sedang berlayar menuju Tarakan.

Kedatangan pesawat pengebom Belanda langsung disambut tembakan antiserangan udara dari kapal-kapal perang Jepang yang berlayar zig-zag demi menghindari serangan bom.

Pada saat yang sama, sejumlah pesawat tempur Zero Jepang juga berdatangan untuk merontokkan pesawat-pesawat Belanda.

Tanpa membuang waktu, sebagai komandan operator bom, Suryadarma pun membidik salah satu kapal perang Jepang jenis penjelajah berat, dan kemudian memberikan aba-aba untuk kedua Glenn Martin lainnya melalui radio, agar segera menjatuhkan bom.

Sejumlah bom pun jatuh secara bersamaan dari ketiga Glenn Martin. Bom-bom itu berhasil menenggelamkan satu kapal penjelajah Jepang yang ukurannya seperti KRI Irian yang pernah dimiliki TNI AL.

Tapi serangan udara terhadap konvoi kapal perang Jepang harus dibayar mahal. Dua pesawat Glenn Martin lainnya tertembak jatuh setelah disergap Zero, dan pesawat Glenn Martin yang diawaki Suryadarma juga mengalami rusak parah.

Tapi, meski pilotnya dalam keadaan terluka parah, Glenn Martin M-588 bisa mendarat kembali ke Pangkalan Udara Manggar dengan selamat.

Pasukan Belanda yang berusaha melawan serangan Jepang yang mendarat di Indonesia (Hindia Belanda), akhirnya memilih menyerah.

Suryadarma kemudian bergabung dengan pasukan RI untuk bertempur melawan Jepang dan Belanda dalam Perang Kemerdekaan.

Dalam perjalanan karier militernya, Suryadarma juga menjadi salah satu orang dekat Presiden Soekarno.

Suryadarma, seperti termaktub dalam buku Bapak Angkatan Udara Suryadi Suryadarma, kemudian diangkat sebagi KSAU pertama AURI/TNI AU. Dia diberi kepercayaan penuh untuk mengembangkan AURI, yang kemudian menjulukinya sebagai Bapak Angkatan Udara. (app/udi)


BACA JUGA

Selasa, 22 Januari 2019 14:18

Kamaruddin Akui Caleg PBB

TANJUNG REDEB – Walau sempat tak mengetahui kebenarannya, kemarin (21/1)…

Selasa, 22 Januari 2019 14:16

Diduga Tak Bisa Berenang, Nelayan Tewas Tenggelam

TALISAYAN – Setelah melakukan pencarian selama satu malam, pada Minggu…

Selasa, 22 Januari 2019 14:15

Penderita DBD Capai 38 Orang

TANJUNG REDEB – Pada pekan ketiga Januari 2019, jumlah pasien…

Selasa, 22 Januari 2019 14:11

Antisipasi Kemacetan, Jalan Milono Jadi Percontohan

Pemerintah terus bergerak menata Kabupaten Berau, termasuk halnya menata lalu…

Senin, 21 Januari 2019 14:16

Kerugian Negara Capai Rp 149 Juta

TANJUNG REDEB – Walau sudah mendapatkan angka kerugian negara berdasarkan…

Senin, 21 Januari 2019 14:16

Bakal Gunakan Desain Lama

TANJUNG REDEB – Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR)…

Senin, 21 Januari 2019 14:15

KPU Tunggu Inkrah

TANJUNG REDEB – Salah satu calon legislatif (caleg) Berau, telah…

Senin, 21 Januari 2019 14:13

Awalnya Tak Tertarik, Kini Hasilkan Ratusan Juta Rupiah

Menjadi petani atau pembudidaya tambak Udang Windu, sebelumnya tak pernah…

Minggu, 20 Januari 2019 13:06

Diduga Sakit, Wahab Ditemukan Tak Bernyawa

GUNUNG TABUR -  Warga kampung Merancang Ulu, Kecamatan Gunung Tabur,…

Minggu, 20 Januari 2019 13:05

Penabrak Portal Setor Rp 35 Juta

TANJUNG REDEB – Kepala Dinas Perhubungan Abdurrahman, mengaku sudah mulai…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .
*