MANAGED BY:
SABTU
17 NOVEMBER
UTAMA | SANGGAM | PEMERINTAHAN | PARLEMENTARIA | EKONOMI | ALL SPORT | KOMBIS

UTAMA

Jumat, 24 Agustus 2018 13:40
Operasional Hiperbarik Tunggu Revisi Perda
TIDAK BEROPERASI: Alat terapi oksigen hiperbarik di Puskesmas Tanjung Batu tak bisa dioperasikan untuk sementara.

PROKAL.CO, TANJUNG REDEB – Kepala Bidang Pelayanan Kesehatan (Yankes), Dinas Kesehatan Berau Jimmy, menampik jika pihaknya disebut tak mengalokasikan dana untuk operasional alat terapi oksigen hiperbarik di Puskesmas Tanjung Batu.

“Hiperbarik itu ada anggaran operasionalnya untuk keperluan listrik dan oksigen per tahunnya. Dan itu masuk dalam DPA (Dokumen Pelaksanaan Anggaran) Puskesmas Tanjung Batu,” katanya kepada Berau Post, Kamis (23/8).

Diterangkannya, tahun ini pihaknya mengalokasikan Rp 62 juta untuk memenuhi kebutuhan listrik hiperbarik dan Rp 65 juta untuk pemenuhan oksigennya.

Namun, walau sudah mendapat kucuran anggaran, hiperbarik tetap belum bisa dioperasikan reguler sebagai salah satu fasilitas kesehatan di puskesmas. Sebab pihaknya masih menunggu penyelesaian revisi peraturan daerah (Perda) Nomor 7/2012 tentang retribusi. “Perda itu kami minta direvisi karena tidak mengatur soal hiperbarik di dalamnya. Dan kemungkinan satu atau dua bulan kemudian setelah revisi itu selesai, alat hiperbarik sudah bisa difungsikan reguler dan ditarik biaya,” ujarnya.

Meski begitu, Jimmy menegaskan alat yang menggunakan oksigen sebagai bahan utamanya itu masih bisa digunakan saat keadaan darurat. “Tapi tidak bisa dilakukan penarikan biaya. Karena itu bisa masuk tindak pungutan liar,” tuturnya.

Jimmy juga meminta kepada Operator Hiperbarik Puskesmas Tanjung Batu Gideon Pujo, agar lebih bersabar menunggu pihaknya menyelesaikan revisi perda.

“Kami tahu mas Gideon ingin segera bertugas dan melayani masyarakat dengan hiperbarik. Tapi kami sebagai regulator sedang mengusahakan bagaimana regulasinya berjalan dengan baik,” pungkasnya.

Sebelumnya, karena tak memiliki anggaran operasional yang memadai, terapi oksigen hiperbarik di Puskesmas Tanjung Batu, Kecamatan Pulau Derawan, tak lagi bisa digunakan untuk menangani pasien darurat. Hal ini diutarakan Operator Hiperbarik Gideon Pujo.

Bukan soal anggaran operasional saja, pria yang sudah dua tahun menjadi operator hiperbarik itu juga menyebut alat yang menelan biaya hingga Rp 7 miliar itu, belum bisa dioperasionalkan karena belum memiliki dasar peraturan.

"Bisa saja digunakan kalau ada orang yang kondisinya darurat dan segera butuh pertolongan. Seperti misalnya penyelam yang mengalami dekompresi," katanya kepada Berau Post, Senin (20/8).

Namun, semenjak isi tabung oksigen yang menjadi bahan dasar alat tersebut habis, secara otomatis hiperbarik tidak bisa lagi dimanfaatkan. Kondisi itu menurutnya cukup berpengaruh terhadap pengembangan dunia pariwisata di Berau.

Sebab jika terjadi keadaan darurat yang mengharuskan wisatawan mendapatkan pertolongan terapi, namun hiperbarik yang dimiliki Pemkab Berau tak bisa digunakan.

"Saya ingin saja beli tabung oksigen, tapi biayanya sangat besar sekali. Karena harus ke Tanjung Redeb dulu dan itu harus bayar sopir dan BBM-nya," ujarnya.

Selain itu, untuk keperluan listrik hiperbarik, tak jarang Gideon harus merogoh koceknya sendiri karena tak ada anggaran dari pemerintah.

Untuk itu, Gideon berharap Pemkab Berau bisa benar-benar memanfaatkan alat hiperbarik dengan segera membuat aturan dan mengalokasikan anggaran operasionalnya. Sebab, saat ini, alat hiperbarik di Tanjung Batu merupakan satu-satunya alat terapi oksigen yang ada di Pulau Kalimantan, setelah yang di Balikpapan tidak bisa dimanfaatkan lagi.

"Alat ini sebenarnya nilai plus bagi dunia pariwisata Berau. Kan sayang kalau tidak difungsikan sampai sekarang, yang harusnya ada penambahan PAD bagi Berau, ini malah belum ada," tuturnya.

Di sisi lain, melihat belum adanya perkembangan atas pemanfaatan alat hiperbarik tersebut, Gideon tengah memikirkan tawaran yang sempat diberikan salah satu pemerintah daerah di Pulau Jawa yang ingin menggunakan jasanya. "Tapi saya mau lihat dulu beberapa bulan ke depan. Kalau memang belum ada kepekaan Pemkab Berau terhadap alat ini, mungkin saya akan kembali ke Jakarta saja atau mengambil tawaran itu," pungkasnya. (arp/udi)

 


BACA JUGA

Sabtu, 17 November 2018 11:30

Bisa Saja Ditutup Sementara

TANJUNG REDEB – Minimnya pengusaha sarang burung walet rumahan yang mengantongi kelengkapan perizinan,…

Sabtu, 17 November 2018 11:30

Ar Merasa Jadi Korban Situasi

TANJUNG REDEB – Pengembangan kasus dugaan tindak pidana korupsi (tipikor) pengadaan kapal pariwisata…

Sabtu, 17 November 2018 11:29

Putusan Direncanakan Awal Desember

TANJUNG REDEB – Sidang atas gugatan mantan Direktur Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tirta Segah…

Sabtu, 17 November 2018 11:28

Sepekan untuk Tuntaskan RAPBD

SETELAH nota kesepahaman Kebijakan Umum Anggaran dan Prioritas Plafon Anggaran Sementara (PPAS) 2019…

Sabtu, 17 November 2018 11:28

DPR Pertanyakan Rencana Mendagri Stop Pemekaran

TANJUNG REDEB – Rencana Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tjahjo Kumolo menyetop 314 usulan pemekaran,…

Jumat, 16 November 2018 12:04

Pelaku Masuk Perangkap Polisi

TANJUNG REDEB – Polisi berhasil menggagalkan upaya peredaran narkoba jenis sabu-sabu, Rabu (14/11)…

Jumat, 16 November 2018 12:02

Langsung Kebut Pembahasan RAPBD

TANJUNG REDEB – Sempat mengalami keterpurukan kondisi anggaran dalam beberapa tahun terakhir,…

Jumat, 16 November 2018 11:59

Seperti Jimat yang Buat Dokter Kebingungan

“Saya pikir, kayu itu tidak sekalipun menyakiti saya meski sudah 15 tahun di telapak tangan saya.…

Jumat, 16 November 2018 11:57

Sehari Nyaris Tanpa BBM

TANJUNG REDEB – Tak seperti biasanya, hingga pukul 09.00 Wita beberapa Stasiun Pengisian Bahan…

Kamis, 15 November 2018 12:04

BPS Terancam Buyar Lagi

TANJUNG REDEB - Bendahara Tim Pembentukan Berau Pesisir Selatan (BPS) Andi Amir, menyebut rencana Menteri…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .