MANAGED BY:
KAMIS
20 JUNI
UTAMA | SANGGAM | PEMERINTAHAN | PARLEMENTARIA | EKONOMI | ALL SPORT | KOMBIS

UTAMA

Sabtu, 22 September 2018 11:27
Keteladanan Lebih Baik dari Seribu Nasihat
PENGHARGAAN: Makmur HAPK menunjukkan salah satu penghargaan bidang lingkungan yang pernah diraihnya.

PROKAL.CO, TANJUNG REDEB – Rangkaian kegiatan memeriahkan perayaan Hari Jadi ke-208 Kota Tanjung Redeb dan ke-65 Kabupaten Berau, telah berlangsung sejak beberapa hari lalu. Melalui momen tahunan itu, mantan Bupati Berau Makmur HAPK, mengajak semua pihak untuk memaknainya dengan berkomitmen untuk menjalin kebersamaan dalam membangun Bumi Batiwakkal. 

Bertempat di kediamannya, Makmur menjelaskan, dalam pelaksanaan pembangunan di Berau saat ini, tentu tak terlepas dari pahit dan getirnya perjuangan yang dibangun para pemimpin terdahulu. Melalui pemikiran dan konsep pembangunan yang telah ditorehkan dan dibangun dalam sebuah peradaban pembangunan yang merata, berkelanjutan dan berkeadilan, yang kini manfaatnya dirasakan masyarakat.

“Hari jadi Berau saat ini yang kita rayakan, tidak terlepas dari pengaruh dan peranan dua kesultanan di Berau, yaitu Kesultanan Gunung Tabur dan Sambaliung,” katanya kepada Berau Post, Jumat (21/9).

Kedua kesultanan itu disebutnya, mempunyai andil dan peranan mendasar sebagai peletak fondasi dasar pembangunan. Sebab, di awal pembangunan Berau, kedua kesultanan tersebut yang silih berganti memimpin Berau dalam menjalankan roda pemerintahan.

Hari jadi juga menjadi momentum introspeksi diri dalam melaksanakan perbaikan dan pembenahan di dalam semua lini. “Namun bukan berarti yang sekarang ini buruk, melainkan harus lebih baik lagi. Jangan kita saling menyalahkan dan menyudutkan, karena masa lalu terkait dengan masa kini, dan masa kini terkait dengan masa yang akan datang,” ucapnya.

Melalui peringatan hari jadi itu juga, bupati Berau dua periode tersebut berharap semua pihak bisa memaknainya dengan komitmen untuk menjalin kerja sama. Hal ini dianggapnya sangat penting dalam membangun Bumi Batiwakkal –sebutan Kabupaten Berau.

Makmur juga menjelaskan, dalam setiap perayaan hari jadi, biasanya selalu menampilkan nilai-nilai sejarah Kerajaan, adat-istiadat dan sosial budaya, olahraga tradisional dan kegiatan kearifan lokal lainnya. “Ada pameran pembangunan yang biasanya diselingi dengan hiburan artis ibu kota yang selama ini kita tidak anggarkan, tapi partisipasi dari teman-teman yang menawarkan diri untuk mendatangkan artis,” tuturnya.

Tak hanya itu, pesta rakyat tahunan Menutung Jukut, bermula dari anjuran ibu negara agar masyarakat gemar memakan ikan. Bahkan, hal tersebut pernah dilombakan secara nasional di Jakarta, yang akhirnya menobakanerau sebagai juara per.

Tahun 2015, pesta rakyat Menutung Jukut yang pertama digelar. Makmur yang kala itu masih menjadi bupati, memang pernah menganggarkan pengadaan tungku untuk pembakaran ikan. Namun pengadaan itu kini menjadi aset daerah yang bisa digunakan setiap tahunnya. “Anggaran pengadannya juga tidak miliaran. Tapi jika pemerintah maupun swasta menyediakannya ikannya, itu juga wajar, karena rakyat yang menikmatinya. Toh uang kita dari rakyat juga. Dari rakyat  untuk rakyat. Itu juga dilaksanakan hanya satu tahun sekali,” terang Ketua Harian DPD Golkar Kaltim ini.

Pada kesempatan tersebut, Makmur turut berbicara tentang kondisi keuangan Berau saat ini, yang juga turut dirasakan beberapa daerah lain. Ia mengatakan, pemimpin masa lalu juga mengalami pasang surutnya kondisi keuangan.

Namun, sebagai pemimpin, harus benar-benar berupaya agar tetap memenuhi pelaksanaan pembangunan. Salah satu caranya dengan berjuang mendapatkan bantuan anggaran dari pemerintah pusat, provinsi maupun pihak swasta yang semua tetap berpijak pada aturan.

“Beliau-beliau (pemimpin sebelumnya) tidak pernah membandingkan, menyalahkan pemimpin masa lalu dalam menjawab tantangan yang dihadapi. Itulah konsekuensi amanah dan kepercayaan yang diberikan oleh rakyat,” ujarnya.

“Apabila kita merasa ada keterbatasan soal keuangan, sesuaikan apa yang penting dan tidak penting. Apa yang dibutuhkan masyarakat pada saat itu. Bagi penyelenggara, tunjukan sikap kita efisiensi,” tambahnya.

Di akhir periode kepemimpinannya, Makmur bersama Ahmad Rifai berhasil mendapat penilaian opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) oleh Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) RI. Sebab, di era kepemimpinannya, dirinya harus menginventarisasi dan mendata aset-aset yang dimiliki daerah. Hal itu tidaklah mudah. Pasalnya ada aset peninggalan zaman Belanda, pemerintah pusat, maupun provinsi yang tidak tercatat dengan sempurna, yang harus diselesaikannya.

“Begitu juga dalam pencapaian kegiatan-kegiatan lainnya, seperti pencapaian indeks pembangunan manusia, derajat kesehatan masyarakat, hingga pemenuhan kebutuhan air bersih dan listrik. Itu tidak terlepas dari program masa lalu yang pada titik klimaksnya, saat ini kita merasakannya dan mendapat penghargaannya,” jelasnya.

Hal serupa juga terjadi di bidang pariwisata. Yang pembangunannya telah dirintis pemimpin-pemimpin terdahulu. Seperti pembangunan sarana pendukung seperti jalan dan sebagainya.

Syukur alhamdulillah, lanjut Makmur, pemimpin-pemimpin Berau terdahulu telah meletakkan fondasi yang kokoh di berbagai sektor pembangunan. Seperti pembangunan Bandara Kalimarau yang turut didukung Prajurit Tentara Nasional Indonesia (TNI), Letna Dakri, dan sejak era pemerintahan Bupati H Masdhar Jhon BA telah dibuka. Pihak swasta juga turut berperan, seperti saudara Beby Kwang yang dilanjutkan Oetomo Lianto, hingga akhirnya sangat berkembang sekarang. “Kemudian dalam memperkenalkan pariwisata Berau, itu sudah dimulai sejak zaman Gubernur HM Ardans dan Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Kaltim, Drs Benythan, putra daerah Berau,” jelasnya.   

Secara pribadi, dalam menghadapi suasana kebangsaan saat ini, dirinya sebenarnya merasa tidak enak menyampaikan hal-hal tersebut. Namun karena sembilan pemimpin Berau sebelum dirinya telah almarhum, maka menjadi tanggung jawab dirinya untuk menyampaikan informasi tersebut walau tidak detail dan rinci.

Sehingga masyarakat Berau dapat memahami yang sebenarnya terjadi.

“Ini juga mengingatkan kepada kita dan diri sendiri bahwa membangun Berau ini bukanlah kita sendiri. Tapi ada jasa-jasa pemimpin masa lalu dan masyarakat. Sehingga, mari kita introspeksi, supaya kita tidak menyombongkan diri seolah bisa  membangun Berau ini hanya sendiri,” tandasnya. (arp/udi)

loading...

BACA JUGA

Rabu, 19 Juni 2019 14:20

Tunggakan Listrik PLN Capai Rp 6 M

TANJUNG REDEB – Jumlah tagihan rekening listrik pelanggan PLN hingga…

Rabu, 19 Juni 2019 14:19

Kerugian Ditaksir Capai Rp 350 Juta

GUNUNG TABUR - Kebakaran yang menghanguskan satu unit rumah milik…

Rabu, 19 Juni 2019 14:18

Disdik Langsung Ralat Surat Edaran

TANJUNG REDEB - Dinas Pendidikan (Disdik) Berau kembali menerbitkan surat…

Selasa, 18 Juni 2019 19:31

Maksudnya Unjuk Rasa, Eh Malah Berujung Pidana

TANJUNG REDEB – Aksi unjuk rasa yang dilakukan beberapa buruh…

Selasa, 18 Juni 2019 19:27

Ditinggal ke Pasar, Rumah Jadi Arang

GUNUNG TABUR – Kebakaran terjadi sekira pukul 20.40 Wita, Senin…

Selasa, 18 Juni 2019 19:27

“Jangan Foto-Foto, Nanti Viral”

TANJUNG REDEB – Rencana pemerintah menghapuskan perdagangan Bahan Bakar Minyak…

Senin, 17 Juni 2019 15:34

Investor asal Tiongkok Belum Beri Kepastian

TANJUNG REDEB – Rencana kerja sama PT Indo Pusaka Berau…

Senin, 17 Juni 2019 15:25

Jaksa Kesulitan Hadirkan Saksi

TANJUNG REDEB – Lima terdakwa perkara penyeludupan narkotika jenis sabu-sabu…

Senin, 17 Juni 2019 15:09

Berani Jual Langsung Disita

TANJUNG REDEB – Pembentukan tim pengawas untuk mengatasi keberadaan pengetap…

Minggu, 16 Juni 2019 00:49

Sepekan, 2.000 Orang Serbu Wisata Mangrove

PULAU DERAWAN - Objek wisata Hutan Mangrove di Kampung Tanjung…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .
*