MANAGED BY:
RABU
21 NOVEMBER
UTAMA | SANGGAM | PEMERINTAHAN | PARLEMENTARIA | EKONOMI | ALL SPORT | KOMBIS

UTAMA

Senin, 15 Oktober 2018 13:25
Hasilnya Tak Berkah, Ada Cela pada Hukum Indonesia

Kolaborasi Pengusaha dan Mantan Pengebom Menjaga Kelestarian Biota (1)

TOBAT: Ali (kiri) bersama Ismail saat berbincang dengan Berau Post di Tanjung Batu, beberapa waktu lalu.

PROKAL.CO, Hasil tangkapannya melimpah. Namun tidak pernah dirasakan membawa berkah. Ali pun telah menyadarinya. Merusak biota, kini jadi penyesalannya.

/////////////

Hasil tangkapan ikannya kini menurun. Jauh. Drastis.

JIKA dulu. Medio tahun 2000 hingga 2003, sekali melaut Muhammad Ali bisa membawa pulang berton-ton ikan, kini hasil tangkapannya hanya mencapai hitungan kilogram saja.

Mengenakan kaos oblong abu-abu, Ali bertandang ke rumah Ismail, seorang pengusaha ikan ramah lingkungan di Kampung Tanjung Batu, Kecamatan Pulau Derawan. Siang itu, beberapa hari lalu, Ali yang kini menjadi salah satu aktivis lingkungan bersama kelompok Jaringan Nelayan (Jala) Tanjung Batu, menceritakan pengalamannya kala masih menjadi ‘predator’ bagi ribuan jenis ikan dan perusak terumbu karang.

“Dulu (nangkap ikan, red) pakai bom, potasium,” katanya, membuka percakapan dengan beberapa peserta pelatihan penulisan konservasi kelautan yang digagas The Nature Conservancy, di kediaman Ismail, beberapa waktu lalu.

Sebelum mahir menggunakan bom, Ali sebenarnya adalah nelayan tradisional biasa. Melaut hingga berhari-hari untuk mencari ikan, hanya bermodal pancing saja.

Ali memperkirakan, penggunaan bom untuk menangkap ikan di perairan Tanjung Batu dan sekitarnya, adalah ‘warisan’ nelayan-nelayan asing yang masuk ke Indonesia.

Sambil mengingat, Ali menyebut sekira tahun 1993 atau 1994, kapal nelayan asal Hong Kong menurunkan jangkar di perairan Tanjung Batu. Nelayan lokal yang masih buta dengan teknik menangkap ikan menggunakan bom, dibuat takjub dengan tangkapan ikan nelayan Hong Kong yang sangat melimpah saat itu.

Bukan dibuat takjub dengan hasil tangkapan melimpah saja, nelayan-nelayan lokal lanjut Ali, juga diajarkan menggunakan bom dan diberikan alat-alat untuk merakitnya oleh nelayan asing tersebut.

“Tapi saya sendiri mulai terlibat tahun 2001. Awalnya karena ikut sama teman. Lihat sendiri, pelajari, sampai ikut ngebom juga,” terangnya.

Saat itu, menangkap ikan menggunakan bom dan potasium sangat marak di Tanjung Batu dan sekitarnya. “Memang hasilnya banyak. Sehari nelayan bisa dapat ikan sampai 7 ton. Mau yang ukuran kecil sampai yang 200 kilogram bisa naik,” terangnya.

Bom yang digunakan berukuran beragam. Dari kecil hingga besar. “Kalau saya pakai botol kratingdaeng (ukuran bom, red), kadang juga pakai botol bir,” ujarnya. Botol-botol minuman tersebut, sebelumnya memang telah diisi pupuk asal Malaysia yang merupakan bahan utama pembuatan bom.

Di tahun 2003, lanjutnya, pupuk dalam kemasan karung dari Negeri Jiran harganya Rp 550 ribu. Sementara detonator yang juga dibeli dari Malaysia harganya Rp 15 ribu per lembar. Dengan modal itu, Ali sudah bisa membuat banyak bom, disesuaikan dengan ukuran botol yang digunakannya.

“Satu karung pupuk itu bisa untuk beberapa kali ngebom. Detonatornya juga bisa jadi banyak. Jadi beli Rp 15 ribu itu, bisa dibagi menjadi 10,” terangnya. 

Diceritakannya, nelayan pengebom seperti dirinya selalu tak pernah puas dengan hasil tangkapannya. Sebab, berapapun bom yang telah dirakit dan dibawa melaut, maka seluruhnya akan digunakan untuk membunuh ikan. Padahal, tempat penampungan ikan yang dibawa kapasitasnya tidak banyak. Rata-rata hanya bisa menampung 1 hingga 2 ton ikan.

“Berapa bom yang dibawa, itu semua dihabiskan. Seperti kalap. Padahal boks ikannya cuma muat 1 ton. Jadi ketika yang dibom ikan yang mati sampai 2 ton, hanya 1 ton yang dibawa. Sisanya dibiarkan mati di laut, ditinggal aja,” ungkap nelayan berbadan tambun itu.

Tapi, ikan hasil pengeboman kualitasnya jauh di bawah ikan hasil pancingan. Harga jualnya pun sangat rendah. Apalagi ikan hasil pengeboman, tidak bisa diekspor ke negara tetangga.

“Memang tangkapannya banyak, tapi per kilo hanya Rp 3 ribuan, dihitung rata. Karena ikannya enggak bisa dikirim ke luar juga. Malaysia enggak mau beli ikan hasil bom,” terang Ali.

Walau harga jualnya rendah, namun dengan hasil tangkapan melimpah, Ali bisa mendapatkan banyak uang setiap kali habis melaut. Ya, jika dihitung, Ali bisa mengantongi Rp 3 juta dari setiap ton ikan yang didapatkannya.

Namun, Ali merasakan penghasilan dari hasil mengebom ikan tidak pernah membawa berkah. Berapapun uang yang didapatkannya, bisa habis dalam seketika juga.

“Banyak foya-foya aja, tidak bisa menabung. Karena dirasa gampang aja dapat uangnya,” akunya.

Lambat laun Ali mulai tersadar. Rutinitasnya menangkap ikan menggunakan bom, telah merusak terumbu karang, tempat ikan mencari makan. “Saya mikir juga, kalau ini terus berkelanjutan, kalau semua nelayan ngebom, mungkin tidak ada sisa (ikan) sekarang,” ungkapnya.

Dikatakannya, saat ini kondisi laut di Tanjung Batu dan sekitarnya memang masih cukup baik. Namun sangat jauh lebih baik puluhan tahun silam, saat nelayan-nelayan lokal belum mengenal teknik mengebom ikan.

“Dulu kalau memancing pagi sama sore saja sudah bisa dapat ikan banyak. Ketika masuk kapal Hong Kong itulah baru mulai berkurang kalau kami memancing,” terang Ali.

“Sekarang juga kalau mau mancing harus jauh-jauh, kalau dulu di dekat-dekat pantai saja sudah banyak ikan bisa didapat,” sambungnya.

Kini, Ali mulai dihantui rasa bersalah telah merusak habitat ikan di perairan kampungnya. Ali juga semakin gelisah ketika beberapa nelayan turut menjadi korban bom ikan. Bahkan, ada satu keluarga nelayan yang menjadi korban, karena bom ikan yang hendak dilepas ke laut, meledak di kapal. “Begitu dilempar, nyangkut di atas kapal, jatuh ke ruangan. Diambil (hendak dilempar lagi ke laut, red), meledak,” katanya.

“Anaknya hancur badannya, kena serpihan bom di atas kapal. Bapaknya, langsung meninggal,” sambungnya, menceritakan kisah nahas nelayan pengebom ikan.

Bukan ayah dan anak keluarga nelayan itu saja yang pernah merasakan ‘senjata makan tuan’. Ada juga rekannya sesama nelayan yang harus kehilangan tangannya, karena bom ikan yang digunakan, justru meledak saat masih di genggaman.

“Sekarang saya pakai pancing. Lebih berkah saya rasa pakai pancing. Walau hasilnya sedikit, tapi lebih berkah saya rasa,” ujar Ali.

Bukan sekadar kembali menjadi nelayan dengan alat tangkap ramah lingkungan, Ali bersama rekannya di Jala, telah menyatakan perang kepada nelayan yang masih menggunakan alat tak ramah lingkungan. Terutama bom dan potasium.

Diakuinya, hingga saat ini masih ada nelayan-nelayan lokal yang menangkap menggunakan bom. Tapi itu juga didukung karena lemahnya peraturan perundangan di Indonesia, untuk membasmi nelayan nakal.

Dia membandingkan, jika di Negeri Jiran, nelayan yang membawa ikan hasil pengeboman saja bisa langsung dipenjara. Tapi di Indonesia, prosesnya terlalu berbelit yang akhirnya memberikan cela bagi pengebom ikan untuk lepas dari jeratan hukum.

“Makanya, hukumnya juga harusnya tegas kalau mau benar-benar ingin menertibkan pengebom ikan,” tegasnya.

Sebab dari pengalamannya, nelayan pengebom ikan baru bisa terbukti melakukan pengeboman jika tertangkap bersama barang bukti bom yang dibawa melaut. “Bahkan, walau ada botol (bom, red) tapi belum terpasang sumbunya, di sini (Indonesia) belum bisa dikatakan bom,” ungkapnya.

Kondisi itu diperparah dengan minimnya patroli yang dilakukan aparat. Padahal, menurutnya, polisi sebenarnya memiliki data nelayan-nelayan pengebom ikan, tapi sulit melakukan penangkapan karena selalu kekurangan barang bukti. “Soalnya nelayannya juga pintar sekarang. Bomnya kadang disimpan di tempat-tempat tertentu, begitu mau melaut baru diambil,” ungkapnya.

“Kalau kami yang patroli, risikonya besar, karena mereka bawa bom. Jadi kami hanya memberikan laporan kepada polisi, tapi kadang alasan polisinya, biaya patrolinya juga tidak ada,” sambung Ali.

Tapi Ali tidak mau menyerah. Dia terus berjuang dengan melakukan pendekatan kepada nelayan-nelayan yang masih menggunakan bom, agar bisa mengikuti jejaknya. “Kami juga sekadar memberikan masukan kepada mereka, memberikan gambaran bagaimana kalau laut kita rusak, ikan akan habis juga,” pungkasnya. (*/bersambung/udi) 

 


BACA JUGA

Selasa, 20 November 2018 12:28

Belum Ada yang Kantongi Izin

TANJUNG REDEB – Bukan hanya milik PT Nabucco, tapi seluruh…

Selasa, 20 November 2018 12:27

FMP4 Sebut KPU Tak Profesional

TANJUNG REDEB – Forum Masyarakat Peduli Penegakan Peraturan Perundang-undangan (FMP4)…

Selasa, 20 November 2018 12:24

Berau Coal dan Mitra Kerjanya Dukung Rp 1 Miliar

Pada agenda pelepasan kontingen Berau untuk mengikuti Pekan Olahraga Provinsi…

Senin, 19 November 2018 13:53

PPP Berproses, Demokrat Sudah Mengganti

TANJUNG REDEB – Ketua Fraksi Partai Persatuan Pembangunan (PPP) DPRD…

Senin, 19 November 2018 13:43

Direktur PT Nabucco Jadi Pesakitan

TANJUNG REDEB – Direktur PT Nabucco Yusnandi, jadi pesakitan. Yusnandi…

Senin, 19 November 2018 13:37

Golkar Datang untuk Menyelesaikan Permasalahan Masyarakat

Partai Golongan Karya (Golkar) menggelar acara syukuran Hari Ulang Tahun…

Senin, 19 November 2018 13:33

Prihatin dengan Kondisi Jalan HARM Ayoeb

TANJUNG REDEB –Kondisi Jalan HARM Ayoeb, tepatnya di antara simpang…

Minggu, 18 November 2018 13:29

Turut Jadi Caleg, Staf Ahli Fraksi Diminta Mengundurkan Diri

TANJUNG REDEB – Belum selesai persoalan Pegawai Tidak Tetap (PTT)…

Minggu, 18 November 2018 13:26

Proyek ‘Dipaksakan’ Bappeda

TANJUNG REDEB – Penasihat Hukum tersangka Ar, Robert Wilson Berliando,…

Minggu, 18 November 2018 13:22

Peluang BPS Dipastikan Tertutup

TANJUNG REDEB - Juru Bicara Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) Bahtiar…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .