MANAGED BY:
SELASA
20 NOVEMBER
UTAMA | SANGGAM | PEMERINTAHAN | PARLEMENTARIA | EKONOMI | ALL SPORT | KOMBIS
Minggu, 21 Oktober 2018 14:04
Santari Inni Bayyang (Santri Si Penyembahyang)
Oleh: Syamsuddin Juhran

PROKAL.CO, KONON asal-usul kata Marancang berasal dari serapan bahasa melayu—sebuah silang budaya dari Deutro Malay yang masuk ke Berau sekitar abad XIII SM (baca:ajirahmatsyah). Ma-r-ancang memiliki akar kata “ancang” yang berarti persiapan, dan juga kata “rancang” artinya rencanakan.

Dari pengertian etimologi (bahasa) tersebut, kita dapat memahami secara harfiah bahwa Marancang diartikan sebagai “sesuatu yang dipersiapkan dengan perencanaan akurat”. Kemudian kita bisa merujuk pada fakta sejarah bahwa Nagari Marancang adalah salah satu dari kawasan tujuh banua.

Sebagai sebuah Nagari, Marancang menjadi menjadi pusat dalam merencanakan berbagai sesuatunya untuk keberlangasungan hajat masyarakat di kawasaan kekuasaan yang dipimpin oleh raja-raja. Salah satu dari sekian rajanya bernama Rangga Sari Banua dan Sultan Zainal Abidin (Mahrum di Bangun).

Pusat pemerintahan Nagari Marancang berpusat di daerah yang bernama Pulau Bangsawaan. Tak heran jika nama pulau tersebut berimbuh bangsawan, karena menjadi puasat pemirintahan raja-raja dan ratu kerajaan. Sekarang pulau itu dikenal dengan sebutan Pulau Bassing.

Di Pulau Bassing selain menjadi pusat pemerintahan, juga menjadi pusat relegius masyarakat—tempat peribadatan (sembahyang), pengajian dan acara-acara selamatan masyarakat. Suasana religius itu tumbuh sejak Gelar Raja yang dulunya Aji menjadi Sultan—yang berarti raja dari bahasa arab Sultanun. Hampir disemua wilayah kekuasaan Islam kerajaan seperti Turki Usmani berubah menjadi gelar Sultan.

Spirit religius itu tumbuh diperkirakan saat Sultan Zainal Abidin I menjadi pemimpin di Nagari Marancang. Kepemimpinan beliau yang berwibawa dan bijaksana sangat dirasakan dan dielukan oleh masyarakatnya. Beliau aktif dalam berdakwah hingga menjadikan anak-anak dipusat pemerintahnnya menjadi aktif untuk berkegiatan di masjid—menjadi Santari (santri).

Santari dalam bahasa Berau artinya Santri. Santri secara umum adalah sebutan bagi seseorang yang mengikuti pendidikan agama Islam di pesantren, biasanya menetap di tempat tersebut hingga pendidikannya selesai. Namun, tidak hanya pada selesainya pendidikan. Seorang santri mesti ikut dalam partisipasi dalam meggerakkan evolusi masyarakat ke arah yang baik bahwa madrasah akhirnya ialah masyarakat.

Disinyalir bahwa masjid tua Al-Khairat yang ada di Pulau Bassing adalah bagian dari  peninggalan Sultan Zainal Abidin—walaupun sekarang kita sudah tidak dapatkan artefak aslinya, disana yang tersisa hanya bedug yang berumur tua. Dari bedug itu kita bisa menggali hingga mengungkap fakta sejarah mengenai umur Masjid tersebut. Masjid menjadi tempat madrasah untuk membina para santari kala itu yang bertujuan melahirkan Imam-Imam yang tangguh untuk kampungnya.

Kemudian dalam tradisi kepemimpinan yang berlangsung dalam masyarakat Pulau Bassing, yakni di pimpin oleh seseorang yang bergelar Imam (wewenang). Imam inilah yang menjaga kampung dari berbagai bala (musibah) dan sebagai perpanjangan tangan Sultan Zainal Abidin untuk mensejahtrakan kawasaannya. Untuk melacak historis tersebut kita bisa mengecak makam (kuburan) yang ada di Marancang Ulu, sebagian makam ada yang digelari Imam—seperti (Imam) Udin. (baca:kawalliterasiberau)

Seorang Imam bukan jabatan yang biasa, Ia juga merupakan bagian dari didikan atau santari Sultan Zanal Abidin dan juru kunci dari kampungnya, karena giatnya beribadah sembahyang. Salah satu dari sekian santari dapat menjadi Imam kampung.

Hingga ia dijuluki sebagai santari sekaligus Imam “Inni Bayyang” Si Peyembahyang. Dengan ketekunannya beribadah, Ia dipercaya untuk dapat memimpin dan menghindarkan kampung dari musibah dan bala.

Tanpa kehadirannya di masjid atau ditempat hajatan, masyarakat menuai gelisah. Akan tetapi jika ia hadir bersama masyarakat Ia dapat meghidupkan kebahagiaan masyarakat. Jiwa seorang santari sekaligus Imam menyatu dalam batin masyarakat.

Dari cerita santari Inni Bayyang, kita dapat merefleksikan bahwa pengetahuan dan keteguhan seseorang adalah dasar bagi kepemimpinan. Dengan wewenang yang dimiliki setiap pemimpin semestinya segala kebijakannya dapat dibumikan dengan bahasa masyarakat agar dapat menyentuh inti jiwa masyarakat. Seorang pemimpin seyogyanya menjadi oase dikala masyarakat dilanda kekeringan dan kehausan ilmu pengetahuan dan spiritual. Santari Sejati adalah obatnya. (*/app)

*) Pegiat Kawal Literasi Berau.

 


BACA JUGA

Rabu, 31 Oktober 2018 00:42

Masyarakat Tanpa Miras

MINUMAN keras atau minuman beralkohol jelas hukumnya haram dalam pandangan…

Minggu, 28 Oktober 2018 11:41

Tolak Bala

BELAKANGAN ramai status media sosial masyarakat Pulau Maratua tengah mengadakan…

Jumat, 26 Oktober 2018 13:36

Hujan Jadi Berkah bagi Petani Sayur

TANJUNG REDEB - Hujan yang terus mengguyur Tanjung Redeb dan…

Jumat, 26 Oktober 2018 13:34

Mengenal Bendera Islam

PERINGATAN Hari Santri Nasional di Limbangan, Garut, Jawa Barat, Senin…

Selasa, 23 Oktober 2018 12:59

Generasi Siap Tempur dari Labanan Makmur

" MAS Endro, kami ingin mengadakan pelatihan jurnalistik. Bisa kah…

Minggu, 21 Oktober 2018 14:04

Santari Inni Bayyang (Santri Si Penyembahyang)

KONON asal-usul kata Marancang berasal dari serapan bahasa melayu—sebuah silang…

Minggu, 21 Oktober 2018 13:54

Bayar Renminbi, Kembalian Dolar

INI makan malam pertama saya di Korea Utara: bayar pakai…

Sabtu, 13 Oktober 2018 14:10

Detak Jantung di Multaqa, Pertemuan Ulama Se-Kaltim

RABU dan Kamis (10-11 September 2018) Iring-iringan roda empat dari…

Senin, 08 Oktober 2018 14:37

Tesla Antara Gosip dan Fakta

ITULAH kenyataan di pasar modal. Ketika mendengar rumor orang berbondong…

Minggu, 07 Oktober 2018 13:52

Rendang Unta William Wongso

BARU sekali ini saya makan daging unta. Dimasak rendang. Yang…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .