MANAGED BY:
SELASA
20 NOVEMBER
UTAMA | SANGGAM | PEMERINTAHAN | PARLEMENTARIA | EKONOMI | ALL SPORT | KOMBIS
Jumat, 26 Oktober 2018 13:34
Mengenal Bendera Islam
Oleh: Monalisa Simamora, S.Pd

PROKAL.CO, PERINGATAN Hari Santri Nasional di Limbangan, Garut, Jawa Barat, Senin 22 Oktober 2018 telah dinodai dengan beredarnya video pembakaran bendera tauhid La ilaha illa Allah Muhammad Rasulullah.

Dari rekaman video berdurasi 02.05 menit yang viral di jagad maya, pembakaran dilakukan oleh oknum anggota Banser sambil menyanyikan mars NU. (Voa-islam.com 22/10/2018).

Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengeluarkan pernyataan sikap terkait insiden pembakaran bendera bertuliskan kalimat tauhid pada perayaan Hari Santri Nasional tersebut.

"Pertama, MUI merasa prihatin dan menyesalkan kejadian pembakaran bendera yang bertuliskan kalimat tauhid tersebut karena telah menimbulkan kegaduhan di kalangan umat Islam," ujar Sekjen MUI Anwar Abbas membacakan pernyataan di Kantor MUI, Jalan Proklamasi, Jakarta Pusat, Selasa (23/10/2018). (Liputan6.com 23/10/2018).

Insiden pembakaran bendera itu menyisakan tanda tanya apakah bendera yang dibakar adalah bendera Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) atau bendera dengan kalimat tauhid tanpa ada kaitan dengan ormas tertentu.

MUI menyatakan bendera yang dibakar itu merupakan bendera berkalimat tauhid yang tidak ada hubungannya dengan HTI. "Dalam perspektif MUI karena tidak ada tulisan 'Hizbut Tahrir Indonesia', maka kita mengatakan kalimat tauhid. Kalau menjadi milik partai kelompok harus ada desain yang berbeda atau warna yang berbeda tidak persis meng-copy seperti dalam sejarah," Waketum MUI Yunahar Ilyas dalam konferensi pers di kantornya.(Detiknews.23/10/2018).

Sedangkan pernyataan Ketua Umum PBNU, Said Aqil Siradj menyampaikan penulisan kalimat Tauhid di bendera maupun medium lainnya seperti tembok dan pakaian hukumnya makruh atau tidak disukai. Hal ini disampaikan Said Aqil saat menggelar konferensi pers di Gedung PBNU, Jalan Kramat Raya, Jakarta Pusat.

"Mayoritas ulama dengan empat mazhab itu berpendapat menulis Alquran, kalimat thoyyibah di bendera, di tembok, di pakaian, di atap rumah itu makruh. Bahkan ada yang mengatakan itu haram," jelas Beliau. (Liputan6.com 24/10/2018).

Pro kontra pun ramai berseliweran di jagad maya. Banyak yang menilai bendera yang dibakar oknum Banser tersebut adalah bendera tauhid, yakni bendera milik umat Islam secara keseluruhan. Bendera berwarna dasar hitam atau putih tersebut kerap dipakai Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam.

Sebetulnya, Kementerian Dalam Negeri jauh-jauh hari sudah mengeluarkan sikap soal persoalan ini. Melalui Dirjen Politik dan Pemerintahan Umum (Polpum) Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri), Soedarmo mengungkapkan perbedaan antara bendera HTI dengan bendera Rasulullah.

“Yang kami larang itu adalah bendera dengan simbol HTI, bukan bendera tauhid. Keduanya berbeda, kalau HTI ini mencantumkan tulisan Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) di bawah kalimat Laillahaillallah,” kata Soedarmo seperti dikutip dari laman Kemendagri, 22 Juli 2017.

Eks juru bicara HTI Ismail Yusanto juga pernah membantah. Menurut Ismail, bendera tersebut adalah bendera umat Islam yang ditetapkan Rasulullah dalam hadisnya.

Menurut KH. Hafidz Abdurrahman, jika ada yang menuduh bahwa hadis-hadis tentang Ar-Rayah dan Al-Liwa’ itu lemah, apalagi kemudian menuduh bahwa itu merupakan rekaan Hizbut Tahrir, maka tuduhan itu jelas bukan dari orang yang mengerti hadis, jika tidak boleh disebut bodoh tentang ilmu hadis. Mengapa? Karena terdapat banyak hadis sahih, atau minimal hasan, yang menyebutkan bahwa Rayah (Panji) Rasul itu berwarna hitam dan Liwa’ (Bendera)-nya berwarna putih.

Ibn ‘Abbas berkata, “Rayah Rasulullah SAW itu berwarna hitam dan Liwa’-nya berwarna putih.” (HR at-Tirmidizi).

Makna Bendera/Panji Rasulullah saw.

Rasulullah SAW adalah teladan yang baik (uswat[un] hasanah) bagi umat Islam (QS al-Ahzab [33]: 21). Apa saja yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW wajib diikuti oleh umat Islam. Sebaliknya, umat Islam haram menyelisihi beliau.

Menurut K.H. Shiddiq Al-Jawi, bahwa bendera Rasulullah SAW baik al-Liwa‘ (bendera putih) maupun ar-Rayah (bendera hitam) bukanlah sembarang bendera yang berhenti sebagai simbol. Keduanya mengekspresikan makna-makna mendalam yang lahir dari ajaran Islam. Di antara makna-makna di balik bendera Rasulullah SAW tersebut adalah:

Pertama, sebagai lambang ‘Aqidah Islam. Pada al-Liwa‘dan ar-Rayah tertulis kalimat syahadat: Lâ ilâha illalLâh Muhammad rasûlulLâh. Kalimat inilah yang membedakan Islam dan kekufuran; kalimat yang menyelamatkan manusia di dunia dan akhirat. Dalam hadis-hadis sahih yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Tirmidzi, dan Thabrani dari Buraidah ra. diterangkan,“Rayah Nabi SAW berwarna hitam dan Liwa‘-nya berwarna putih.”

Maka dari itu, sebagai simbol syahadat, bendera tersebut akan dikibarkan oleh Rasulullah SAW kelak pada Hari Kiamat. Bendera ini disebut oleh Beliau sebagai Liwa‘ al-Hamdi (Bendera Pujian kepada Allah). Beliau bersabda, “Aku adalah pemimpin anak Adam pada Hari Kiamat dan aku tidak sombong. Di tanganku ada Liwa‘ al-Hamdi dan aku tidak sombong.” (HR at-Tirmidzi).

Kedua, sebagai pemersatu umat Islam. Lâ ilâha illalLâh Muhammad rasûlulLâh adalah kalimat yang mempersatukan umat Islam sebagai satu kesatuan tanpa melihat lagi keanekaragaman bahasa, warna kulit, kebangsaan ataupun mazhab dan paham yang ada di tengah umat Islam.

Ketiga, sebagai simbol kepemimpinan. Faktanya, al-Liwa‘ dan ar-Rayah itu selalu dibawa oleh komandan perang pada zaman Rasulullah saw. dan Khulafaur Rasyidin. Misalnya pada saat Perang Khaibar, Rasulullah SAW bersabda, “Sungguh aku akan memberikan ar-Rayah ini kepada seorang laki-laki yang mencintai Allah dan Rasul-Nya. Allah akan memberikan kemenangan kepada dirinya.”

Umar bin al-Khaththab berkata, “Tidaklah aku menyukai kepemimpinan kecuali hari itu.” (HR Muslim).

Keempat, sebagai pembangkit keberanian dan pengorbanan dalam perang. Makna ini khususnya akan dirasakan dalam jiwa pasukan dalam kondisi perang. Pasalnya, dalam perang, pasukan akan terbangkitkan keberaniannya dan pengorbanannya selama mereka melihat benderanya masih berkibar-kibar. Pasukan akan berusaha mati-matian agar bendera tetap berkibar dan menjaga jangan sampai bendera itu jatuh ke tanah sebagai simbol kekalahan (Abdul Hayyi al-Kattani, ibid., I/267).

Bendera sebagai pembangkit semangat dan keberanian itu tampak jelas dalam Perang Mu’tah. Saat itu komandan perang yang memegang bendera berusaha untuk tetap memegang dan mengibarkan bendera walaupun nyawa taruhannya. Imam al-Bukhari meriwayatkan bahwa yang memegang ar-Rayahdalam Perang Mu’tah awalnya adalah Zaid bin Haritsah, tetapi ia kemudian gugur. Ar-Rayah lalu dipegang oleh Ja’far, tetapi ia pun gugur. Ar-Rayah lalu berpindah tangan dan dipegang oleh Abdullah bin Rawwahah, tetapi ia akhirnya gugur juga di jalan Allah SWT (HR al-Bukhari, Ibnu Katsir, Al-Bidâyah wa an-Nihâyah, IV/281).

Kelima, sebagai sarana untuk menggentarkan musuh dalam perang. Bagi diri sendiri bendera berfungsi untuk membangkitkan semangat dan keberanian. Sebaliknya, bagi musuh bendera itu menjadi sarana untuk memasukkan rasa gentar dan putus asa kepada mereka. Imam Ibnu Khaldun dalam kaitan ini menyatakan, “Banyaknya bendera-bendera itu, dengan berbagai warna dan ukurannya, maksudnya satu, yaitu untuk menggentarkan musuh…” (Ibnu Khaldun, Muqaddimah, II/805-806).

Semenjak Khilafah di Turki runtuh tahun 1924, negeri-negeri Islam terpecah-belah atas dasar konsep nation-state (negara-bangsa) mengikuti gaya hidup Barat. Implikasinya, masing-masing negara-bangsa mempunyai bendera nasional dengan berbagai macam corak dan warna. Ketika itulah al-Liwa‘ dan ar-Rayah seakan-akan tenggelam dan menjadi sesuatu yang asing di tengah masyarakat muslim.

Hal ini menimbulkan pandangan curiga terhadap bendera Islam yang bertuliskan Lâ ilâha illalLâh Muhammad rasûlulLâh. Bendera yang dicontohkan sendiri oleh Rasulullah SAW ini pun kemudian sering dicap atau dihubungkan dengan terorisme atau radikalisme.

Akhirnya, kita sebagai umat muslim seharusnya sadar dan kembali mengkaji ajaran Islam yang dibawa Rasulullah SAW termasuk dalam persoalan bendera Islam ini, agar kita tidak mudah diadu domba dan difitnah, karena akan besar pertanggung jawabannya dihadapan Allah SWT. (*/app)

*) Pemerhati Sosial/Guru SD 012 Tanjung Redeb.


BACA JUGA

Rabu, 31 Oktober 2018 00:42

Masyarakat Tanpa Miras

MINUMAN keras atau minuman beralkohol jelas hukumnya haram dalam pandangan…

Minggu, 28 Oktober 2018 11:41

Tolak Bala

BELAKANGAN ramai status media sosial masyarakat Pulau Maratua tengah mengadakan…

Jumat, 26 Oktober 2018 13:36

Hujan Jadi Berkah bagi Petani Sayur

TANJUNG REDEB - Hujan yang terus mengguyur Tanjung Redeb dan…

Jumat, 26 Oktober 2018 13:34

Mengenal Bendera Islam

PERINGATAN Hari Santri Nasional di Limbangan, Garut, Jawa Barat, Senin…

Selasa, 23 Oktober 2018 12:59

Generasi Siap Tempur dari Labanan Makmur

" MAS Endro, kami ingin mengadakan pelatihan jurnalistik. Bisa kah…

Minggu, 21 Oktober 2018 14:04

Santari Inni Bayyang (Santri Si Penyembahyang)

KONON asal-usul kata Marancang berasal dari serapan bahasa melayu—sebuah silang…

Minggu, 21 Oktober 2018 13:54

Bayar Renminbi, Kembalian Dolar

INI makan malam pertama saya di Korea Utara: bayar pakai…

Sabtu, 13 Oktober 2018 14:10

Detak Jantung di Multaqa, Pertemuan Ulama Se-Kaltim

RABU dan Kamis (10-11 September 2018) Iring-iringan roda empat dari…

Senin, 08 Oktober 2018 14:37

Tesla Antara Gosip dan Fakta

ITULAH kenyataan di pasar modal. Ketika mendengar rumor orang berbondong…

Minggu, 07 Oktober 2018 13:52

Rendang Unta William Wongso

BARU sekali ini saya makan daging unta. Dimasak rendang. Yang…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .