MANAGED BY:
SELASA
19 MARET
UTAMA | SANGGAM | PEMERINTAHAN | PARLEMENTARIA | EKONOMI | ALL SPORT | KOMBIS
Rabu, 31 Oktober 2018 00:42
Masyarakat Tanpa Miras
Oleh: Ridho Anugrah, S.Pd.I, M.Sos

PROKAL.CO, MINUMAN keras atau minuman beralkohol jelas hukumnya haram dalam pandangan Islam. Sebagai seorang muslim tentu harus terikat kepada setiap ketentuan-ketentuan Allah SWT termasuk dalam hal makanan dan minuman.

Bagi setiap muslim, ada makanan dan minuman yang Allah SWT larang untuk dikonsumsi, salah satunya adalah minuman keras (miras)/minuman beralkohol atau dalam istilah Islam sering disebut dengan khamr. Dalil tentang haramnya khamr adalah sesuatu yang sudah sangat jelas, hampir setiap muslim paham bahwa mengonsumsi khamr adalah haram. Pelakunya akan mendapatkan sanksi baik di dunia maupun akhirat.

Dari sisi dampak negatif terhadap masyarakat, hal ini juga sudah sangat jelas. Sebut saja kasus Yuyun 2016 silam. Kasus yang mungkin sulit hilang dari kepala siapa saja yang pernah mengetahuinya. Seorang gadis berusia 14 tahun diperkosa oleh 13 orang yang sedang mabuk karena miras, setelah diperkosa gadis remaja tersebut pun dibunuh. Sesuatu yang sangat menyayat dan mengiris hati. Hal ini belum ditambah dengan banyaknya kasus kematian karena mengonsumsi miras oplosan.

Siapa saja yang masih memiliki akal sehat tentu akan menolak segala hal yang bisa mengundang kejahatan. Apalagi dikatakan bahwa miras adalah induk dari segala kejahatan. Sudah seharusnya miras ditiadakan dalam kehidupan bermasyarakat. Dengan ditiadakannya miras, akal manusia lebih terjaga. Yang kita inginkan tentu bukan mengatur peredaran miras melainkan peniadaan miras. Sebab, jika hanya diatur berarti miras masih ada dan potensi merusak tersebut masih mengancam. Apalagi negeri ini mayoritas muslim, sudah semestinya mereka yang berada pada level penentu kebijakan membuat aturan yang melarang miras karena sudah paham bahwa miras atau khamr adalah sesuatu yang Allah haramkan. Bagaimana mungkin sesuatu yang telah nyata-nyata Allah haramkan malah dihalalkan?

Untuk mewujudkan masyarakat yang terlindungi dari bahaya miras, secara umum ada tiga solusi yang bisa diwujudkan. Pertama, perlu adanya desain pendidikan mulai dari tingkat dasar hingga tinggi yang menanamkan iman dan taqwa. Sebab, penanaman nilai iman dan takwa sejak dini akan menjadi pencegahan yang paling efektif untuk terhindar dari miras, bahkan bukan hanya miras melainkan juga segala bentuk kemaksiatan. Seseorang yang meyakini bahwa setiap perbuatannya akan berdampak terhadap akhirat tentu akan menghindari hal-hal yang dapat mencelakakannya di akhirat. Di samping itu, ia akan memiliki kesadaran iman dalam dirinya bahwa Allah mengharamkan khamr dan ia takut kepada Allah jika ia melanggar perintah tersebut.

Namun yang mesti dipahami, sistem pendidikan yang dimaksud bukan hanya menambah jam pelajaran agama saja, namun harus menjadikan pembentukan kepribadian Islami sebagai tujuan pendidikan. Artinya, harus ada sistem pendidikan yang berangkat dari pandangan akidah Islam. Jika hal ini mampu diwujudkan, output dari proses pendidikan akan melahirkan pribadi-pribadi yang bertakwa yang memiliki kesadaran untuk selalu terikat dengan aturan-aturan Allah SWT.

Kedua, harus adalah regulasi tegas untuk melarang baik produksi miras, menjual dan mengonsumi. Negara harus menetapkan bahwa miras adalah sesuatu yang terlarang dan merupakan kejahatan yang besar. Jangan sampai karena alasan besarnya setoran pajak ke negara membuat miras malah dibolehkan dengan alasan akan diatur. Sebab keberadaan miras adalah sesuatu yang telah jelas keharamannya. Masih banyak alokasi pendapatan lain untuk negara, seperti pengelolaan sumber daya alam yang hari ini masih banyak dikuasai korporasi asing.

Ketiga, penerapan sanksi yang tegas bagi yang memproduksi, menjualkan dan yang mengonsumsi. Fiqh Islam memiliki pandangan yang tegas terhadap orang yang mengkonsumsi miras. Membaca Fiqh Islam yang ditulis Sulaiman Rasjid, bahwa sanksi bagi orang yang meminum minuman yang memabukkan adalah didera sebanyak 40 kali. Adapun berkaitan dengan yang menjualkan dan yang memproduksi negara dapat menetapkan ta’zir sesuai dengan dampak kerusakannya di tengah-tengah masyarakat.

Terakhir, harus ada perubahan paradigma dalam menjalankan kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Pandangan sekuler yang memisahkan agama dari kehidupan mesti diganti dengan pemahaman alternatif. Paham sekuler atau sekularisme adalah paham yang menganggap bahwa agama adalah urusan individu masing-masing. Sedangkan untuk mengatur urusan publik baik ekonomi, sosial, politik, pendidikan dan hukum jangan bawa-bawa agama. Agama hanya dijadikan urusan ritual dan moral semata. Sudah seharusnya kita mengganti pemahaman ini dengan pemahaman yang lebih sesuai fitrah manusia. Yakni pandangan bahwa aturan Sang Pencipta, aturan Allah harus dijadikan rujukan dalam menentukan sistem ekonomi, politik, sosial, pendidikan dan hukum.

Kita meyakini bahwa dengan menerapkan sistem Islam akan mampu menjaga masyarakat dari kerusakan dan mendatangkan kebaikan yang banyak. Aturan siapakah yang terbaik untuk mengatur kehidupan ini kalau bukan aturan Allah? Semoga kita bisa merasakan indahnya kehidupan dalam penerapan sistem Islam yang kaffah. (*/app)

*) Mubalig/Dai dan Pengajar di Tanjung Redeb

 

 


BACA JUGA

Sabtu, 16 Maret 2019 13:53

Selamat Jalan Pak Janna

KAMIS (14/3) lalu, tiba-tiba ada ucapan duka di semua Grup…

Jumat, 15 Maret 2019 14:58

Piano Usia 107 Tahun

BANYAK koleksi benda bersejarah yang ada di rumah Adji Bahrul…

Kamis, 14 Maret 2019 13:51

Jejak Kapal Taiwan

KEGIATAN penangkapan ikan secara ilegal, sudah berlangsung lama. Buktinya, dua…

Rabu, 13 Maret 2019 12:48

Koi seharga Rp 27 M

INI berlangsung di Jepang. Negara yang dikenal asalnya ikan Koi.…

Selasa, 12 Maret 2019 14:01

Petak 4x6 Meter

MEMANG ada nama jalannya. Yakni Jalan AKB Sanipah I.  Tapi,…

Senin, 11 Maret 2019 13:40

Jadi Koki Dadakan

PERNAHKAH merasakan perjalanan ke pulau wisata dalam kondisi cuaca yang…

Sabtu, 09 Maret 2019 13:41

Fenomena Dunia Pendidikan Zaman Milenial (3-Habis)

MENURUT Kemendikbud (2016 : 61) menyatakan bahwa bimbingan klasikal merupakan…

Sabtu, 09 Maret 2019 13:33

Masih Ingat Lapis Banua?

TIGA atau lima tahun lalu, tiba-tiba seperti ada berkah yang…

Jumat, 08 Maret 2019 14:12

Fenomena Dunia Pendidikan Zaman Milenial (2)

DALAM pemberian layanan bimbingan kelompok ada beberapa cara atau yang…

Jumat, 08 Maret 2019 14:08

Perumahan di Tengah Rimba

MUNGKIN perlu juga warga mengunjunginya. Bagaimana kehidupan warga Basap sekarang. …
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .
*