MANAGED BY:
RABU
21 NOVEMBER
UTAMA | SANGGAM | PEMERINTAHAN | PARLEMENTARIA | EKONOMI | ALL SPORT | KOMBIS

UTAMA

Minggu, 04 November 2018 13:58
Kepincut karena Ronaldo, Bawa Keluarga ke Giuseppe Meazza

Fitrianl Noor, Suporter Sejati Inter Milan dari Bumi Batiwakkal

FANS SEJATI: Fitrial Noor menyaksikan Derby della Madonnina yang mempertemukan Inter Milan kontra rival sekota AC Milan di Giuseppe Meazza, Milan, Italia, beberapa waktu lalu.

PROKAL.CO, Mengidolakan klub dari Benua Biru dan menjadi suporternya, merupakan hal yang biasa. Namun, terasa luar biasa apabila bisa datang dan menyaksikan klub kebanggaan bertanding langsung di stadion. Seperti yang dilakukan Interisti asal Berau, Fitrial Noor.

ARI PUTRA, Tanjung Redeb

INTERNAZIONALE Milan atau yang lumrah disebut Inter Milan, adalah salah satu raksasa Serie A dan Eropa. Rival abadi AC Milan itu, juga menjadi satu-satunya klub asal Italia yang mampu meraih treble winner dengan menjuarai Serie A, Piala Italia dan Liga Champions musim 2009-2010.

Klub dengan warna kebanggaan biru-hitam itu juga punya basis suporter fanatik di berbagai negara, salah satunya Indonesia.

Besarnya dukungan yang diberikan suporter saat Inter Milan bertanding di “rumahnya” Stadion Giuseppe Meazza, menjadi awal Fitrial Noor jatuh cinta pada La Beneamata – julukan Inter Milan.

Kala itu, pria yang akrab disapa Bung Pipit in, masih duduk di bangku SMP, sekitar tahun 1996 atau 1997. Tak sengaja ia menyaksikan pertandingan Inter Milan di televisi. “Entah kenapa meliat euforia pendukung (Inter Milan) dan hubungan antara pemain dan pendukung itu setelah pertandingan selesai, saya langsung jatuh cinta,” katanya bercerita kepada Berau Post, Sabtu (3/11).

Terlebih, sahabatnya Rizal Fachriansyah yang saat itu tengah menempuh pendidikan di Pulau Jawa, juga menyukai klub yang menjadi idola baru bagi Pipit saat itu.

Akhirnya, Pipit bersama sahabatnya bersepakat untuk bisa menyaksikan langsung klub idola mereka bertanding di Giuseppe Meazza, suatu saat nanti.

Untuk mewujudkan itu, mereka juga bersepakat harus menempuh pendidikan perkuliahan agar bisa menjadi pengusaha sukses, demi mewujudkan mimpi mereka tersebut.

“Faktor masuknya Ronaldo Brasil dan Alvaro Recoba dari Uruguay, makin menambah kesukaan kami terhadap Inter,” ujarnya.

Sepakat untuk terbang ke Milan bersama sahabatnya, membuat dirinya semangat untuk kuliah, meskipun harus mengimbangi dengan bekerja. Sebab dirinya tak ingin mengurangi beban sang ibu dan kakaknya yang membiayai kuliahnya kala itu.

Alhasil, setelah menjadi seorang pengusaha dan kebetulan pada 2012 silam Inter melakukan kunjungan ke Indonesia, benar-benar tak disia-siakan ayah tiga anak ini. Dari Kabupaten Berau, ia datang ke Jakarta untuk menyaksikan pertandingan persahabatan Inter Milan di Stadion Gelora Bung Karno. 

Meski belum kesampaian menyaksikan langsung di Giuseppe Meazza, namun momen itu tetap membuatnya merinding, merasakan euforia fans Inter Milan dari seluruh Indonesia yang tergabung di Inter Club Indonesia. Ribuan fans tersebut tak henti-hentinya menyanyikan lagu-lagu Inter Milan dalam bahasa Italia. “Keadaannya persis seperti suasana kalau kita nonton di TV gemuruhnya,” kenangnya.

Tiga tahun berselang, tepatnya pada 2015, Pipit kembali berkesempatan menyaksikan langsung laga Inter Milan. Namun bukan lagi di Indonesia, melainkan di Tiongkok.

Jarak yang jauh tak menjadi penghambat Pipit untuk menyaksikan langsung Inter Milan bertanding. Bahkan, bersama rekan-rekannya dari Inter Club Indonesia (ICI), ia membawa sang anak pertamanya dan adik iparnya untuk datang ke Tiongkok dan menyaksikan secara langsung di stadion.

Di negara tersebut, sebuah momen berharga dirasakan Pipit bersama para Interisti Indonesia lainnya. Ya, mereka diterima khusus oleh sang legenda Javier Zanetti atau yang dikenal Il Capitano.

“Di Tiongkok, saya dan rekan saya Arden, malah diminta fans Inter di Tiongkok untuk mengajarkan chant Inter, supaya bisa dinyanyikan saat Inter bertanding,” ujarnya.

“Meski saat itu Inter kalah, tapi berkat euforia para Interisti, media cetak di Tiongkok lebih menyorot tentang fans Inter yang terus bernyanyi selama pertandingan berlangsung,” sambungnya.

Setelah berhasil menyaksikan langsung Inter Milan di Tiongkok, Pipit bersama rekan-rekannya di ICI bertekad untuk benar-benar bisa menyaksikan laga di Giuseppe Meazza (GM). Hingga akhirnya pada 2016 lalu, 15 fans Inter Milan termasuk dirinya berangkat ke Milan dan berkesempatan menonton dua laga klub idolanya secara langsung.

Kegiatan ini pun terus berlanjut hingga tahun ini. “Saya juga pernah ngajak keluarga saya lengkap, main ke Stadion GM pada tahun 2016, dan juga pernah berangkat sendiri ke Italia pada 2017 karena ingin nonton Derby della Madonnina, laga bergengsi antara Inter vs AC Milan. Entah kenapa Inter benar-benar punya makna khusus dalam hidup saya,” tuturnya.

Ditanya mengenai kunjungannya yang paling berkesan saat ke Milan, Pipit menyebut semuanya berkesan. Karena punya kenangan yang berbeda-beda. Tapi di antara semuanya, ia memilih tahun 2018 yang paling berkesan. Karena ia berkesempatan mewakili fans Indonesia untuk mengibarkan bendera Inter Milan, tepat sebelum pertandingan.

Kesempatan tersebut merupakan pengalaman yang jarang didapatkan para fans Inter Milan yang datang jauh dari Italia. “Saya juga beruntung mempunyai keluarga, istri dan anak-anak yang mengerti bahwa Inter Milan sudah jadi bagian hidup saya sejak dahulu,” terangnya.

Di balik cerita bahagia itu semua, ternyata sahabat yang telah mengikrarkan janji untuk nonton langsung Inter di Italia, mengembuskan napas terakhir pada April 2015 lalu. Padahal, sebelum itu pria kelahiran Tanjung Redeb tersebut mengakui sempat memiliki rencana untuk ke Milan di tahun berikutnya, yaitu 2016.

“Akhirnya saya pun membawa foto almarhum agar keinginannya nonton Inter bisa saya wujudkan walaupun hanya lewat fotonya,” kenangnya.

Setelah masa keemasan Inter pada era 2005 hingga 2010 berakhir, dan kini mengalami penurunan prestasi, Pipit tetap optimistis  Inter Milan akan kembali ke jalur juara dan mempertegas identitas aslinya sebagai salah satu tim kuat Eropa.

“Jangan lupa, Inter merupakan klub Italia yang tidak pernah degradasi ke Serie B dan satu-satunya klub Italia yang pernah meraih treble winner,” terangnya.

“Menang, kalah kami tak peduli, karena Inter Milan sudah bagian dari hidup kami,” tegasnya. (*/udi)


BACA JUGA

Selasa, 20 November 2018 12:28

Belum Ada yang Kantongi Izin

TANJUNG REDEB – Bukan hanya milik PT Nabucco, tapi seluruh…

Selasa, 20 November 2018 12:27

FMP4 Sebut KPU Tak Profesional

TANJUNG REDEB – Forum Masyarakat Peduli Penegakan Peraturan Perundang-undangan (FMP4)…

Selasa, 20 November 2018 12:24

Berau Coal dan Mitra Kerjanya Dukung Rp 1 Miliar

Pada agenda pelepasan kontingen Berau untuk mengikuti Pekan Olahraga Provinsi…

Senin, 19 November 2018 13:53

PPP Berproses, Demokrat Sudah Mengganti

TANJUNG REDEB – Ketua Fraksi Partai Persatuan Pembangunan (PPP) DPRD…

Senin, 19 November 2018 13:43

Direktur PT Nabucco Jadi Pesakitan

TANJUNG REDEB – Direktur PT Nabucco Yusnandi, jadi pesakitan. Yusnandi…

Senin, 19 November 2018 13:37

Golkar Datang untuk Menyelesaikan Permasalahan Masyarakat

Partai Golongan Karya (Golkar) menggelar acara syukuran Hari Ulang Tahun…

Senin, 19 November 2018 13:33

Prihatin dengan Kondisi Jalan HARM Ayoeb

TANJUNG REDEB –Kondisi Jalan HARM Ayoeb, tepatnya di antara simpang…

Minggu, 18 November 2018 13:29

Turut Jadi Caleg, Staf Ahli Fraksi Diminta Mengundurkan Diri

TANJUNG REDEB – Belum selesai persoalan Pegawai Tidak Tetap (PTT)…

Minggu, 18 November 2018 13:26

Proyek ‘Dipaksakan’ Bappeda

TANJUNG REDEB – Penasihat Hukum tersangka Ar, Robert Wilson Berliando,…

Minggu, 18 November 2018 13:22

Peluang BPS Dipastikan Tertutup

TANJUNG REDEB - Juru Bicara Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) Bahtiar…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .