MANAGED BY:
SELASA
19 MARET
UTAMA | SANGGAM | PEMERINTAHAN | PARLEMENTARIA | EKONOMI | ALL SPORT | KOMBIS
Minggu, 30 Desember 2018 13:51
Terbayar Sudah Rinduku
AKRAB: Sulaiman (kiri) Ismail (kanan) dan Jorjis kepala kampung Tanjung Batu, saat bertemu di rumah Ismail, kemarin (sabtu,29/12).

PROKAL.CO, SEKARANG terserah kita. Mau tiba lebih awal, tiba tepat waktu atau tiba lambat sedikit. Terserah kita. Jalan menuju Tanjung Batu (Ibu kota Kecamatan Pulau Derawan), sudah mulus. Ada lubang kecil, tapi tak lebih dari 10. Pengemudi bisa dengan kecepatan yang ia sukai. Dengan jarak 103 kilometer lebih, bisa ditempuh 2 jam. Lewat darat, sudah sangat nyaman bila hendak liburan ke Pulau Derawan.

Saya tak ada target waktu, kapan berangkat dan jam berapa harus kembali. Makanya, saya sempatkan minum teh susu di warung anak Acil Ona di Jalan Pulau Derawan. Lalu melanjutkan perjalanan, melewati jalan utama. Juga melewati jalan depan Pasar Sanggam Adji Dilayas, yang masih belum sempurna.

Sebetulnya, ada jalan pintas yang bisa hemat sekitar 15 menit. Jalan pintas antara Kampung Samburakat dan Kampung Sembakungan. Karena dalam pengerjaan pengaspalan, sehingga jalan itu terpaksa ditutup. Tetap di jalur utama, yang melewati bursa komoditas Jagung. Banyak yang berbelanja, walau tahun baru masih beberapa hari lagi.

Ada jalan mendaki yang harus hati-hati karena berlubang, sekarang sudah mulus. Ada garis marka berwarna kuning, tak lupa juga ditanam lampu pantul bagi pengendara di malam hari. Tak ada kendaraan karyawan perusahaan. Bus yang sering “merajai” jalanan hingga ke lokasi penambangan batu bara di Lati.

Merancang, menjadi titik lelah. Saya harus mampir. Lama juga tidak jumpa dengan penjualnya. Lama tidak menikmati gogos Merancang.  Pagi hari, biasanya masih panas. Masih sepi, padahal libur akhir pekan.  Hanya ada Pak Harjaka, Kadiskominfo yang akan liburan bersama keluarga. Juga mampir menikmati mi kuah.

Lanjut melewati jalan By Pass Batu-Batu, hingga ke perempatan perusahaan tambang Lati Tanjung Harapan. Tak seperti biasanya.  Tak ada aktivitas pengangkutan batu bara dari lokasi tambang menuju stock pile di tepi sungai Berau. Beberapa karyawan yang biasanya menjaga kendaraan, hanya duduk sambil main catur.

Awalnya, saya ingin mampir di SMK Perikanan. Sebab, katanya ada berbagai fasilitas wisata di dalam kompleks. Tapi, saya urungkan, tak jadi masuk ke dalam kompleks sekolah yang dibangun dengan biaya, hampir sama dengan pembangunan Bandara Kalimarau. Mungkin lebih baik dijadikan perguruan tinggi, atau Politeknik Perikanan atau apalah. kampusnya juga punya fasilitas asrama.

Sekitar kafe tepian juga di dermaga Tanjung Batu, sudah penuh dengan kendaraan. Banyak juga kendaraan luar Berau. Saya membayangkan, betapa penuhnya Pulau Derawan. Dipintu masuk ada loket yang ditempati petugas Pelindo.  Ada beberapa anak muda yang menghadang kendaraan menawarkan angkutan speed boat ke Pulau Derawan.

Pak Camat Kudarat, salah seorang yang lama tidak jumpa, duduk santai di ruang tunggu. Baju merah sewarna dengan sepatu yang dipakainya. Santai sekali. Ia juga bercerita, bila malam pergantian tahun nanti, ia berencana meggelar zikir bersama warga. Tak ada pesta kembang api. Semua warga sepakat. Kegiatan digelar di halaman parkir kantor kecamatan.

Saya berlalu, menuju lokasi wisata Mangrove. Saya tidak masuk mengitari kawasan yang luas trakingnya 1,7 kilometer.  Saya hanya di depan pintu masuk. Belum berkarcis, hanya ada tulisan sumbangan kebersihan. Saya yakin, banyak warga yang berjalan mengitari kawasan wisata itu.

Ada anak muda penuh inspiratif yang juga lama saya rindukan.  Namanya Ismail Mustaming. Anak muda asal Sulawesi Selatan yang kini sukses usaha perikanan. Dan, ia mencoba masuk dalam dunia politik. Banyak nelayan dan warga yang senang. Banyak pendukungnya. Saya yakin, bisa berhasil. Sebagai teman tentu saya ikut mendoakan.

Saya bertemu langsung tiga orang, yang kebetulan bertamu di rumah Ismail. Ada Pak Jorjis, kepala kampung Tanjung Batu. Ada juga Pak Sulaiman, putera Madura yang lebih sering berbahasa bugis. Pak Sulaiman ini nelayan bagan apung. Saya pernah bermalam di bagannya. Wisata yang luar biasa mengasyikkan. Bulan Januari, saya diajak lagi untuk bermalam di bagan. Saya ingat dulu, setelah pulang saya dapat ikan sebanyak 30 kilogram.

Saya berempat dan ada juga warga lainnya, asyik berbincang di rumah Ismail. Banyak hal yang dibahas. Termasuk berbagai program kampung yang sudah mendapat banyak dukungan dari Pemkab. Pak Sulaiman juga merasa bersyukur, sebab hasil tangkapan ikannya juga melimpah. Apalagi, bila bagan yang dibiayai Bank Indonesia rampung, berharap dialah yang mengoperasikan.

Ismail hanya senyum-senyum. Ia memang disukai warga. Banyak membantu. Banyak mengajarkan kepada nelayan, bagaimana menangkap ikan yang ramah lingkungan. Ketika pamit pulang, hehe saya dapat bekal ikan sebanyak 10 kilogram. Ada Kakap Merah dan ikan Cepak. Haha rupanya Pak Ismail tahu juga selera saya, yang suka makan ikan.

Terbayar sudah rinduku.  Rinduku pada warga Tanjung batu. Rinduku pada Pak Kudarat. Rinduku pada Pak Darwis, penjual ikan yang tak pernah lelah. Rinduku pada Pak Ismail dan Pak Jorjis juga Pak Sulaiman. Juga terbayar sudah rinduku, menikmati ikan bakar di kafe tepian. Ikan bakar Ketambak, Arut , Gembung laki yang digoreng serta Cumi-Cumi tepung. Sambalnya terlalu pedas. Tak apa, ini juga yang kurindukan.(mps/app)


BACA JUGA

Sabtu, 16 Maret 2019 13:53

Selamat Jalan Pak Janna

KAMIS (14/3) lalu, tiba-tiba ada ucapan duka di semua Grup…

Jumat, 15 Maret 2019 14:58

Piano Usia 107 Tahun

BANYAK koleksi benda bersejarah yang ada di rumah Adji Bahrul…

Kamis, 14 Maret 2019 13:51

Jejak Kapal Taiwan

KEGIATAN penangkapan ikan secara ilegal, sudah berlangsung lama. Buktinya, dua…

Rabu, 13 Maret 2019 12:48

Koi seharga Rp 27 M

INI berlangsung di Jepang. Negara yang dikenal asalnya ikan Koi.…

Selasa, 12 Maret 2019 14:01

Petak 4x6 Meter

MEMANG ada nama jalannya. Yakni Jalan AKB Sanipah I.  Tapi,…

Senin, 11 Maret 2019 13:40

Jadi Koki Dadakan

PERNAHKAH merasakan perjalanan ke pulau wisata dalam kondisi cuaca yang…

Sabtu, 09 Maret 2019 13:41

Fenomena Dunia Pendidikan Zaman Milenial (3-Habis)

MENURUT Kemendikbud (2016 : 61) menyatakan bahwa bimbingan klasikal merupakan…

Sabtu, 09 Maret 2019 13:33

Masih Ingat Lapis Banua?

TIGA atau lima tahun lalu, tiba-tiba seperti ada berkah yang…

Jumat, 08 Maret 2019 14:12

Fenomena Dunia Pendidikan Zaman Milenial (2)

DALAM pemberian layanan bimbingan kelompok ada beberapa cara atau yang…

Jumat, 08 Maret 2019 14:08

Perumahan di Tengah Rimba

MUNGKIN perlu juga warga mengunjunginya. Bagaimana kehidupan warga Basap sekarang. …
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .
*