MANAGED BY:
KAMIS
24 JANUARI
UTAMA | SANGGAM | PEMERINTAHAN | PARLEMENTARIA | EKONOMI | ALL SPORT | KOMBIS
Rabu, 09 Januari 2019 13:19
Merindukan Teluk Sumbang
RINDU BERAT: Penulis (dua kanan) dan Ronal Lolang (tiga kiri), saat foto bersama dengan warga Teluk Sumbang.

PROKAL.CO, SAYA lupa tahun berapa. Ketika pertama kali mengunjungi Teluk Sumbang, Kecamatan Bidukbiduk.

Saya memang tak punya kebiasaan menulis catatan harian. Padahal Bapak saya paling rajin. Nonton bioskop dan potongan karcis serta judul film, pasti dicatat. Dan masih tersimpan rapi. Lupakanlah. Kali ini, saya ingin bercerita tentang Teluk Sumbang. Kampung yang ada di ujung Timur Kabupaten Berau.

Belum ada angkutan reguler. Saya ingat, waktu itu menumpang speedboat yang dikemudikan Pak Kimming. Ingat Pak Kimming? Bersama beliaulah dan rombongan dari Departemen Sosial, Jakarta. Mengapa ke Teluk Sumbang? Ingin merekam kembali bagaimana kehidupan Suku Punan Basap, yang ada di kampung itu.

Nyali saya masih kuat waktu itu. Tak peduli cerita teman-teman, yang menyebut bagaimana tingginya gelombang. Tidak seperti sekarang. Kalau melihat ombak putih-putih, hahaha rasanya mau pulang saja.

Hitungan waktu sekitar 4 jam. Agak molor. Sempat mogok di sekitar Pulau Manimbora. Pak Kimming pusing. Padahal ia sangat paham soal mesin. Akhirnya dia ketawa, ternyata slang bensin terjepit. “Pantasan,” kata Kimming.

Saya lupa nama kepala kampungnya. Tapi, saya tahu beliau asli Bugis. Jangan salah, di Teluk Sumbang, tak bisa membedakan yang mana warga asal Bugis dan warga Punan Basap. Sebab, warga Punan Basap bisa berbahasa Bugis, sebaliknya warga Bugis juga bisa berbahasa Punan Basap. Tapi kalau lama-lama, ketahuan juga. Aksennya itu. Hehehe.

Tidak tahu alasan apa, mengapa tim dari Jakarta itu mengajak saya. Membuat film dokumenter. Hampir seminggu lamanya. Bagaimana kehidupan Punan Basap dahulu, yang menempati gua dan hidup di tengah hutan. Itu yang ingin diangkat kembali.  Pemainnya, adalah warga Punan Basap itu sendiri.

Ada dua nama yang masih saya ingat sampai sekarang. Yakni, Ibu Pusenai (maaf kalau salah tulis) juga Julekes. Ditambah tetua yang ikut memainkan peran itu. Mereka masih ingat betul, sebab pernah melakoni kehidupan yang sesungguhnya. Bagaimana membuat api, bagaimana berburu, bagaimana memasak, serta sisi kehidupan lainnya.

Lokasinya, tak jauh dari gua yang pernah mereka tempati. Bagaimana lihainya menyumpit kelelawar, juga diperlihatkan. Asyiklah. Juga cerita sekitar manfaat beberapa akar yang ada di dalam hutan. Ada akar kuning (masih saya simpan sampai sekarang), juga ada akar yang berguna bagi ibu rumah tangga yang sulit hamil. Hehehe, gara-gara akar ini, saya banyak ditelepon teman-teman di luar daerah. Minta.

Prosesnya pengambilan gambar tuntas. Saya waktu itu, masih aktif menulis dan perjalanan itu saya tuangkan dalam tulisan. Pak Rizal Effendi (Wali Kota Balikpapan), waktu itu masih koresponden majalah Tempo. Ia minta tulisan dan foto saya. Gemparlah tulisan itu. Kalau sekarang mungkin disebut hoaks. Saya yang salah, karena tidak menyebutkan bahwa itu dokumenter. Geger, karena tulisan itu.

Yang repot justru saya sendiri. Saya didatangi dua wisatawan asal Prancis. Minta diantar ke lokasi, seperti yang ada di foto saya. Secara halus saya menolak. Caranya, saya minta jasa 2.000 Dollar Amerika per hari. Hahaha, mikir-mikir juga rupanya.

Itu kisah dulu. Sekian belas tahun lalu. Saya pernah berkunjung ke Teluk Sumbang lagi. Saya sedih, tidak sempat ketemu Pusenai dan Julekes. Keduanya sibuk berkebun. Saya hanya jumpa dengan anak-anak usia belasan tahun, yang pasti belum lahir saat itu. Mereka menempati bangunan kayu. Ada juga rumah permanen, yang dibuatkan pemerintah.

Saya ditemani Pak Ronal Lolang, mengunjungi rumah mereka. Kebetulan, ada tiga anak yang akan melanjutkan sekolah. Karena di kampung itu, tak ada SMP, ia harus berpisah dengan orangtuanya, dan bersekolah SMP di Bidukbiduk. Pak Ronal bercerita banyak soal kehidupan warga Teluk Sumbang.

Pak Ronal, membuat satu lokasi wisata yang namanya Lamin Guntur. Ia melibatkan warga Punan Basap sebagai karyawan. Juga sebagai pemandu wisata. Yang diperlihatkan, sama dengan film dokumenter yang dibuat itu. Ini jadi wisata menarik. Juga melihat di mana berada Ayam Hutan yang sering muncul di sekitar resor milik Pak Ronal.

Tentu jauh bedanya. Kampung Teluk Sumbang kini sudah tertata baik. Pusenai masih tetap menganyam rotan. Katanya usianya sudah 80-an tahun. Kebun kelapa juga rapi. Teluk Sumbang sudah dilayani listrik 24 jam. Dulu hanya 6 jam. Hasil nelayan juga melimpah. Apalagi, jalan darat sudah dibuatkan. Komunikasi semakin lancar. Dulu, hubungan lewat darat, sangat terbatas.

Rinduku pada Teluk Sumbang, sama dengan rinduku pada Lamin Guntur. Bermalam di resor milik Pak Ronal, sangat mengesankan.  Tenang. Tak ada sinyal telepon. Ternyata itu yang disukai Pak Ronal.

Bagi yang ingin mencari ketenangan. Ke Teluk Sumbang saja, dan menginap di resor Lamin Guntur. Murah lagi. (mps/udi)


BACA JUGA

Selasa, 22 Januari 2019 14:25

Revitalisasi Kader Ikatan Dalam Regenerasi Kepemimpinan

SETIAP masa pasti ada kepemimpinannya dan setiap pemimpin pasti ada…

Selasa, 22 Januari 2019 14:13

Perjuangan Pak Ir

HARI Sabtu (19/1) saya ikut penerbangan dari Balikpapan ke Kalimarau,…

Kamis, 17 Januari 2019 13:13

Empat Penyebab Anak Tak Bisa Dikendalikan

BELUM lama ini, saya mendapat curahan hati dari pasangan suami…

Rabu, 16 Januari 2019 13:48

13 Ribu Masih Kurang

SAYA harus mengatur rute perjalanan hari Selasa (14/1) kemarin. Sebab,…

Selasa, 15 Januari 2019 12:51

Adipura Pelipur Lara

SAYA harus katakan spektakuler. Setelah sekian lama menunggu, akhirnya apa…

Senin, 14 Januari 2019 13:57

Pak Sulaiman yang Hebat

CATATAN  hari ini, sebetulnya peristiwa cukup lama. Masih ada sisi…

Minggu, 13 Januari 2019 14:13

Tak Sengaja Bertemu

INI bukan lagu “Tenda Biru”nya Desy Ratnasari. Tapi, ketika saya…

Sabtu, 12 Januari 2019 12:29

Mengejar Pesawat

TIAP pagi mesti melintas di Jalan Ahmad Yani. Rute tetap…

Jumat, 11 Januari 2019 13:55

Akhirnya Terjawab Juga

SAYA pernah melihat sendiri, bagaimana dengan santainya warga membuang sampah…

Kamis, 10 Januari 2019 12:50

Mundu Tekka

INGAT Mundu? Ya, bagi warga Maratua dan Derawan sangat mengenal…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .
*