MANAGED BY:
MINGGU
26 MEI
UTAMA | SANGGAM | PEMERINTAHAN | PARLEMENTARIA | EKONOMI | ALL SPORT | KOMBIS
Kamis, 10 Januari 2019 12:50
Mundu Tekka
Catatan Daeng Sikra

PROKAL.CO, INGAT Mundu? Ya, bagi warga Maratua dan Derawan sangat mengenal kata ini. Mundu  sama dengan Perampok. Sedangkan Tekka, juga bahasa Bajau artinya datang. Bila dua kata ini dipadukan, berarti perampok datang. Datang kemana?

Sebagai pulau terluar, yang saat itu masih minim pengamanan, sering menjadi incaran datangnya perampok (mundu). Bukan hanya menjarah dan menakut-nakuti warga di Pulau Maratua, juga ke Pulau Derawan. Gegernya sampai di Tanjung Batu.

Saya masih ingat, ada peristiwa yang terjadi di Tahun 1992. Mundu Tekka.  Kawanan perampok menyisir Pulau Maratua. Dimulai dari Kampung Maratua Payung-Payung. Lalu bergerak ke Maratua Bohe Bukut. Kejadiannya malam hari. Tak ada alat komunikasi yang canggih. Tengah malam, fasilitas listrik juga sudah padam.

Di saat perampok berada di Payung-Payung, warga di Bohe Bukut sudah menyingkir. Tahu dari mana? Indera warga sangat tajam. Hanya dengan suara mesin, mereka hafal bahwa itu pasti Mundu. Dan ini juga didasarkan pengalaman sebelumnya. Suara deru mesin tempel. Perahunya ramping, dan laju.

Warga terus berlarian menuju bukit. Kecuali yang sakit dan orangtua yang bertahan di rumah. Suara mesin semakin mendekat ke arah Bohe Bukut. Kalau tidak salah, ada petugas kepolisian yang ditempatkan. Tapi jumlahnya sangat sedikit. Ketika Mundu naik ke darat, semua berlarian. Termasuk petugas yang mencari lokasi aman.

Menurut cerita warga, sebanyak 3 orang Mundu naik ke darat, langsung menghamburkan tembakan ke rumah penduduk. Beberapa rumah tua hingga kini masih terlihat, di sekitar dermaga kampung. Bahkan bekas tembakan juga masih nampak. Ada korban jiwa, tapi tak disebut berapa banyak.

Informasi sampai di Tanjung Redeb, pagi hari. Ada petugas yang segera meluncur ke Maratua. Saya juga ikut serta. Saya bersama Pak Syamsuddin (Alm) dari Kodim 0902, Pak Tumundo Kamawil Hansip saat itu. Dan beberapa personel lainnya. Meluncur siang hari ke Maratua. Tak ada yang tersenyum selama perjalanan. Pak Syamsuddin, juga tegang. Pak Tumundo apalagi. Hehehe tentu saya juga ikut tegang.

Tiba menjelang magrib. Suasana Pulau masih sepi. Masih banyak warga yang tidak mau meninggalkan tempat persembunyiannya. Di bukit batu, yang menuju Lawang-Lawang. Semua tegang. Saya berpikir, bahwa setelah kejadian, korban yang terkena tembakan Mundu sudah dimakamkan. Ternyata belum. Saya baru pertama kali melihat, mayat dengan luka tembak seperti itu. Nama korban M Nasir.

Saksi yang melihat penembakan itu, menyebutkan bahwa almarhum sebetulnya mau melawan. Mau menghantam dengan parang sang Mundu dalam kegelapan. Tapi, teman Mundu lainnya melihat kejadian itu dan langsung menembak. Usai menembak, Mundu meninggalkan pulau dan tak sempat menjarah harta penduduk.

Saya bertemu dengan anggota polisi, kalau tidak salah namanya Suharna. Saya nanya sambil bergurau. Mengapa tidak melawan? Bagaimana mau melawan, target yang dicari juga adalah petugas. Sehingga harus mencari jarak aman. Tiarap di bibir pantai, tak jauh dari belakang kantor camat sekarang.

Saat Mundu akan meninggalkan pulau, Suharna berniat untuk menembak. Iapun tersenyum, menceritakan kekuatan senjata yang dipegangnya. Sementara Mundu membawa M-16. “Tak seimbang mas,”kata Suharna.

Bukan hanya Maratua yang geger. Derawan dan Tanjung Batu juga heboh. Berau juga gempar. Hanya satu teriakan “Mundu Tekka” kata warga. Status Maratua pada saat itu, adalah kampung. Sementara masuk dalam Kecamatan Pulau Derawan. Sehingga pengerahan aparat juga terbatas. Kalau tidak salah camatnya waktu itu adalah Pak Suriansyah, sekarang kepala Inspektorat. Takkan pernah hilang dalam kisah warga, tentang Mundu yang kabarnya berasal dari Filipina.

Karena Mundu itulah, menurut cerita, banyak warga Derawan yang pindah ke Tanjung Batu. Posisi rumah di Derawan juga, banyak yang dapurnya di pinggir laut. Sehingga bila ada Mundu, bisa cepat-cepat pergi dengan menumpang kapal yang di parkir di belakang rumahnya.

Itu Maratua di Tahun 1992. Sekarang sudah menjadi kecamatan sendiri. Sudah ada Polsek dan Koramil. Didukung dari kesatuan lainnya, seperti angakatan Laut dan Batalion. Semua diperlengkapi dengan senjata M-16. Jadi, kalau Mundu mau coba-coba datang lagi, siap-siap jadi santapan petugas.

Maratua juga sudah ada akses jalan beraspal yang menghubungkan empat kampung. Sudah banyak mobil lagi. Sekarang jadi pulau wisata yang hebat. Banyak resor yang berdiri di tepi pantai maupun di darat. Satu lagi, Maratua kini punya bandara. Setiap Hari Sabtu, mendarat pesawat Garuda ATR-72 membawa wisatawan. Hehehe, kini yang datang wisatawan. Wisatawan Tekka. (mps/app)

 

 


BACA JUGA

Minggu, 26 Mei 2019 14:12

Saring sebelum Share

PENGGUNA media sosial (medsos) baru saja dibuat gelisah dengan pembatasan…

Minggu, 26 Mei 2019 13:51

Tepi Jalan Rasa Mal

SEJAK lama banyak yang bertanya-tanya, mengapa Kabupaten Berau yang kini…

Sabtu, 25 Mei 2019 13:08

Jangan Takut Kehabisan

SEMUA konsentrasi jelang Lebaran. Juga angkutan kapal laut maupun Kapal…

Jumat, 24 Mei 2019 14:23

Menangis Dalam Hati

  ADA banyak infrastruktur yang ditinggalkan, pasca kegiatan penambangan batu…

Rabu, 22 Mei 2019 15:10

Tumpeng untuk Senior

RASANYA baru kemarin. Balita itu kini beranjak, dan memasuki masa…

Selasa, 21 Mei 2019 16:19

Pak Ali Memang Jooss

ENTAH kapan dimulainya berjualan dengan menggunakan kendaraan (Food Car). Di…

Senin, 20 Mei 2019 14:06

Tak Memenuhi Syarat

BULAN puasa, saatnya menjaring pahala sebanyak-banyaknya. Bukan hanya pada siang…

Sabtu, 18 Mei 2019 13:56

Penukaran Uang

BUKAN jadi persoalan yang muncul belakangan. Sejak awal dibukanya Pasar…

Jumat, 17 Mei 2019 14:23

Isyarat Jempol Diana

BUKAN hanya beban puncak pemakaian listrik maupun air bersih yang…

Kamis, 16 Mei 2019 13:02

Butuh Dua Huruf Baru

SELAIN yang ada di Gunung Tabur, ada museum yang tidak…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .
*