MANAGED BY:
MINGGU
26 MEI
UTAMA | SANGGAM | PEMERINTAHAN | PARLEMENTARIA | EKONOMI | ALL SPORT | KOMBIS

UTAMA

Jumat, 25 Januari 2019 14:15
Cegah Kekurangan Gizi Sejak Dini
Ilustrasi

PROKAL.CO, TANJUNG REDEB — Tepat 59 tahun lalu, Pemerintah Republik Indonesia telah menetapkan tanggal 25 Januari menjadi Hari Gizi Nasional. Berbagai upaya pun turut dilakukan oleh pemerintah untuk memperingatinya setiap tahun.

Namun sayang, upaya yang dilakukan pemerintah selama 59 tahun terakhir belum mampu membuat Indonesia bebas dari ancaman penyakit akibat kekurangan gizi. Padahal penyakit tersebut diketahui bukanlah merupakan penyakit menular.

Sebagaimana yang terjadi di Kabupaten Berau. Berdasarkan hasil pendataan yang dilakukan Dinas Kesehatan maupun jumlah penderita gizi buruk yang mendapatkan perawatan di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr Abdul Rivai, tahun 2018 masih ditemukan 19 penderita gizi buruk di Bumi Batiwakkal —sebutan Kabupaten Berau.

Hanya disebutkan Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat (Kesmas) Dinas Kesehatan Berau, Basuki, yang ditemui Berau Post belum lama ini, walau masih ditemukan masyarakat menderita gizi buruk, namun jumlahnya lebih sedikit khususnya bila dibandingkan dengan data lima tahun terakhir (selengkapnya lihat grafis).

Berdasarkan pengamatan pihaknya, penyebab masih adanya anak yang menderita penyakit gizi buruk di Kabupaten Berau, berbeda dengan di daerah-daerah lain di Indonesia pada umumnya, khususnya di Pulau Jawa.

Jika umumnya penyakit gizi buruk diakibatkan faktor ekonomi masyarakat yang tidak mampu membeli makanan setiap hari, hingga memaksanya mengonsumsi makanan bekas yang lebih dulu dijemur. Sedangkan penyebab munculnya penyakit gizi buruk di Berau hanya karena masalah sepele, yakni kesalahan pola asuh orang tua.

Umumnya anak penderita gizi buruk yang pihaknya temukan, melalui pemeriksaan di Pos Kesehatan Terpadu (Posyandu) karena sang ibu tidak memberikan Air Susu Ibu (ASI) eksklusif kepada anak saat usia 0-6 bulan.

Setelah usia bayi 6 bulan sampai satu tahun, disebutkannya bayi baru bisa mendapatkan makanan pendamping (MP) ASI seperti lomak (bubur saring) atau nasi tim. “Kalau kasus-kasus di sini karena orang tuanya tidak melakukan itu, anak baru lahir sudah diberikan susu formula. Padahal untuk anak itu, tidak ada makanan yang lebih hebat daripada ASI,” katanya.

Padahal diklaimnya, Pemerintah Berau (Pemkab) Berau, melalui Dinas Kesehatan Berau, sudah kerap mensosialisasikan kepada masyarakat untuk memberikan ASI eksklusif tersebut.

Walau demikian ditekankannya, Pemkab Berau tentu tidak akan lepas tangan jika memang ditemukan adanya masyarakat yang menderita penyakit gizi buruk. Salah satu upaya yang sudah lakukan ialah pendampingan terhadap penderita.

Selain memberikan rujukan ke rumah sakit untuk melakukan perawatan, jika dalam dua kali pemeriksaan di Posyandu berat dan tinggi badan anak tidak bertambah sebagaimana mestinya, Pemkab Berau melalui ahli gizi di setiap puskesmas selalu melakukan konseling ke rumah penderita.

Untuk mendukung membaiknya kondisi anak, Pemkab Berau pun telah mengalokasikan anggaran untuk membeli makanan pasca perawatan di rumah sakit yang disebut formula 75 dan formula 100, konseling dan pemberian formula itu pun dilakukan hingga penderita telah dipastikan sembuh.

“Dan itu semua diberikan secara gratis terhadap penderita,” jelas pria berkacamata ini.

Tapi diingatkannya, untuk mencegah persoalan gizi pada anak lebih parah, dirinya mengimbau agar setiap orang tua rutin memeriksakan anaknya yang baru lahir ke posyandu, sehingga ketika ditemukan ciri anak menderita gizi buruk dapat segera ditangani.

"Upaya pencegahan sejak dalam kandungan juga harus dilakukan dengan rutin memeriksakan kandungannya ke dokter kandungan guna memastikan kondisi janin benar-benar sehat," bebernya.

Sementara itu, Humas RSUD dr Abdul Rivai, Erva Anggriana, menyebut, bahwa kebanyakan penderita penyakit gizi yang ditangani pihaknya dipicu karena penderita lebih dulu mengalami penyakit lain yang membuat nafsu makannya berkurang dan membuat yang bersangkutan kekurangan gizi.

Kepada Berau Post, Erva menyebut bahwa untuk mengatasi persoalan kekurangan gizi, dibutuhkan asupan nutrisi berupa kalori dan protein yang mencukupi. Namun, pemberian nutrisi tersebut harus dilakukan secara bertahap.

Pada tahap awal harus diberikan asupan kalori untuk memenuhi kebutuhan energinya tanpa melibatkan asupan protein terlebih dahulu. Jika kebutuhan kalori sudah tercukupi, barulah asupan protein bisa mulai diberikan.

Pemberian protein dapat dilakukan dari kadar yang rendah yang secara bertahap terus ditambah. Hal ini dilakukan supaya saluran cerna penderita tidak kaget bila langsung diberi asupan tinggi kalori tinggi protein.

Adapun penanganan di rumah bisa dilakukan dengan mencukupkan kebutuhan gizi seimbang bagi anak. Makanan yang dikonsumsi harus lengkap mengandung karbohidrat, lemak, protein, vitamin dan mineral.

Sumber protein yang bernilai tinggi bisa didapatkan dari produk hewani seperti susu, keju, daging, telur, dan ikan. Anda juga bisa juga memanfaatkan protein nabati yang didapat dari kacang hijau dan kacang kedelai

"Namun ingatlah, untuk memberikannya secara perlahan dan terkontrol. Untuk tahap awal, pastikan melibatkan bantuan dokter dalam mengontrol kondisi anak yang Anda rawat. Untuk mencegah terjadinya kekurangan gizi pada anak Anda, berikanlah makanan dengan gizi yang seimbang. Cukupi kebutuhan karbohidrat, lemak dan proteinnya," beber wanita berhijab ini. (sam/app)


BACA JUGA

Minggu, 26 Mei 2019 14:07

Perindo Gugat Hasil Pileg Berau

TANJUNG REDEB –Meski proses rekapitulasi dan pengumuman pemenang pemilu telah…

Minggu, 26 Mei 2019 13:56

Ancaman Sanksi Belum Bertaji

TANJUNG REDEB – Geliat usaha sarang burung walet rumahan terus…

Minggu, 26 Mei 2019 13:53

Terlindung dari Marabahaya, Menutup 70 Pintu Keburukan

Bersedekah dapat menghapus dosa. Seperti sabda Nabi Muhammad SAW, “Sedekah…

Sabtu, 25 Mei 2019 13:21

NasDem Belum Tentukan Nama

TANJUNG REDEB – Sesuai hasil rekapitulasi perolehan suara Pemilihan Umum…

Sabtu, 25 Mei 2019 13:10

Pelaku Usaha Jangan ‘Aji Mumpung’

TANJUNG REDEB - Libur Lebaran tinggal beberapa hari lagi. Objek…

Jumat, 24 Mei 2019 14:25

Dirut IPB yang Pertama

TANJUNG REDEB – Sama seperti tahun-tahun sebelumnya, pada Bulan Ramadan…

Jumat, 24 Mei 2019 14:24

Masyarakat Berau Jangan Terprovokasi

BUPATI Berau Muharram mengimbau masyarakat untuk tetap menjaga kondusivitas Bumi Batiwakkal…

Kamis, 23 Mei 2019 14:52

Libur Panjang Lebaran, Pulau Derawan Siap Sambut Wisatawan

DERAWAN – Sambut momen libur lebaran, Pemerintah Kampung Pulau Derawan…

Rabu, 22 Mei 2019 15:11

Tuntut Bisa Bekerja Kembali

TANJUNG REDEB – Puluhan buruh Tenaga Kerja Bongkar Muat (TKBM)…

Rabu, 22 Mei 2019 15:09

Dinkes Harus Berinovasi

TANJUNG REDEB – Wakil Ketua I DPRD Berau Saga, meminta…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .
*