MANAGED BY:
SELASA
23 APRIL
UTAMA | SANGGAM | PEMERINTAHAN | PARLEMENTARIA | EKONOMI | ALL SPORT | KOMBIS
Selasa, 29 Januari 2019 15:24
Ilmu Penolak Badai
PERPISAHAN: Penulis (kiri) ketika memberikan lambaian terakhir kepada ratusan Manusia Perahu yang akan meninggalkan dermaga, Tanjung Batu.

PROKAL.CO, SETIAP berkunjung ke Tanjung Batu, ibu kota Kecamatan Pulau Derawan, pasti teringat dengan peristiwa November tahun 2014. Sebanyak 700 Manusia Perahu yang dikumpulkan jadi satu di lapangan bola, sekitar perkampungan Bulalung. Sontak jadi berita dunia. Penangannyapun ekstra hati-hati, karena ini terkait Hak Asasi Manusia (HAM).

Cerita soal Manusia Perahu, bukanlah hal baru di kawasan laut Derawan dan pesisir pantai. Mereka mencari hidup, dengan menyusuri pantai. Menangkap ikan lalu menjualnya untuk mendapatkan makanan. Di laut Derawan, manusia perahu, sering terlihat di Pulau Panjang dan Pulau Rabu-Rabu. Sedang di pesisir, keberadaannya terlihat di laut Kecamatan Batu Putih.

Bila tak salah, waktu itu Bu Susi Pujiastuti (Menteri Perikanan dan Kelautan), berada di Pulau Derawan. Keliling pulau dan berbincang dengan warga. Ketika bertemu dengan warga itulah, terungkap bahasa warga akan kehadiran manusia perahu. Bu Susi terkejut.  Disitulah awal hingga dilakukan operasi untuk mengumpulkan manusia perahu.

Menggunakan perahu sederhana dalam kelompok kecil. Mereka dalam rumpun keluarga tinggal dan hidup di perahu.  Pada Nopember 2014 itu, seluruh manusia perahu dikumpulkan di Tanjung Batu. Setelah didata, jumlahnya sekitar 700 orang.  Termasuk anak-anak dan bayi yang baru dilahirkan.

Yang membuat repot, bagaimana menyediakan tempat tinggal bagi mereka. Belum lagi, bagaimana menyediakan makanan serta layanan kesehatannya. Merekapun dikumpulkan di lapangan bola, dengan bernaung dibawah tenda milik Dinas Sosial. Setiap hari disiapkan makan sebanyak 3 kali. Mereka tidak akrab dengan nasi. Lebih suka dengan Ubi Kayu. Mereka juga tidak bisa mandi air tawar. Lebih senang bila mandi air laut. Yang dikonsumsi, manusia perahu lebih suka minum air hujan.

Sejak manusia perahu ditempatkan di lapangan bola. Sayapun mendapat tugas, untuk selalu ada di sekitar mereka. Memonitor kebutuhan logistik. Sehari bisa tiga kali bolak-balik Tanjung Redeb-Tanjung Batu. Capek memang. Tapi ini persoalan kemanusiaan. Ini juga sekaligus pengetahuan baru bagi saya, mempelajari banyak hal dengan Manusia Perahu.

Memang repot. Ketika komunikasi dengan kedutaan Filipina maupun kedutaan Malaysia, Manusia Perahu yang mengaku berasal dari Bango-Bango, Samporna, Malaysia juga sebagian dari wilayah Filipina, pihak kedutaan tidak mengakui kewarganegaraaan mereka. Sebab, mereka tidak punya tempat tinggal di daratan. Hidupnya hanya di laut.

Banyak pejabat dari Jakarta datang untuk melihat kondisi mereka. Banyak sumbangan juga terus mengalir, baik dalam bentuk makanan maupun pakaian. Minggu pertama, masih biasa saja. Tapi setelah memasuki bulan pertama, Pemkab juga mulai gelisah. Sebab, mereka harus tetap diberi makan. 700 orang, bukan jumlah sedikit.

Bagaimana memulangkan, itu juga jadi pembahasan panjang. Dipulangkan kemana? Mereka tidak punya tanah. Lautlah, tanah air dan tanah kelahiran mereka. Ratusan perahu, terparkir di dermaga Tanjung Batu. Ada yang posisi setengah tenggelam. Ada juga perahu yang penuh dengan Ikan Pari yang sudah dikeringkan. Jenis ini sangat laris di Malaysia.

Ketika saya harus bermalam di Tanjung Batu. Saya menyempatkan diri untuk berbincang banyak dengan mereka. Bayangkan, dengan perahu yang sangat sederhana, bisa menyeberangi lautan luas. Apa rahasianya? Ternyata, Douglas (50), salah seorang tokoh Manusia Perahu, mengaku punya keahlian menaklukkan badai. Jadi mereka tak pernah takut. Hanya dengan duduk hening di haluan perahu, badai bagaimanapun, bisa dilewati. Hehehe, badai saja bisa ditaklukkan. Apalagi hati wanita.

Ada peristiwa jatuhnya pesawat Air Asia QZ 8501 pada Desember 2014 di sekitar laut Pangkalanbun. Saat itu badai, sehingga proses pencarian sulit dilakukan. Sempat saya menemani tiga Manusia Perahu dalam penerbangan ke Balikpapan. Pertama dalam sejarah hidup menumpang pesawat. Takut dan gemetar. Saya sempat membelikan sandal jepit, sebab dari Berau tak punya alas kaki. Tiga hari berada di Pangkalanbun, didampingi Dandim 0902/TRD saat itu. Saya tidak ikut.

Hari-hari bertugas menangani Manusia Perahu bersama tim, pada satu kesempatan malam hari, saya berbincang dengan Anggun (44), Latif (50) dan Douglas (50). Ketiganya yang sempat ke Pangkalanbun. Saya bertanya terkait dengan kemampuan mereka menaklukkan badai.”Kalau bapak mau, saya berikan ilmunya,”kata Douglas kepada saya. Ini dia yang saya tunggu-tunggu. Syaratnya simpel. Cukup menyiapkan kain putih.

Saya jadi penasaran. Dalam hati, saya bukan hanya meminta ilmu penakluk badai. Tapi juga akan meminta penakluk lainnya. Kata Anggun, setelah mengamati wajah saya.

”Bapak ada keturunan Bajau, jadi bisa mewarisi ilmu kami,” kata Anggun. Semakin bersemangat saya. Ini kesempatan emas. Di kampung ibu saya, Pulau Kodingareng, gugusan Pulau Spermonde, Makassar, saya tak sempat dibekali ilmu apapun oleh kakek saya sebagai bekal merantau.

Pada hari yang dijanjikan, juga bersamaan dengan putusan untuk memulangkan semua Manusia Perahu dengan cara membawa ke laut beberapa puluh mil lalu dilepaskan. Tepat di wilayah perairan Malaysia. Kapal mereka setelah dibekali logistik dan bahan bakar minyak, ditarik oleh kapal milik Angkatan Laut. Mereka juga sudah meneken perjanjian tidak akan kembali ke Berau. Evakuasi pemberangkatan dilakukan jam 5 pagi. Hari itu, Rabu 14 Januari 2015. Hampir 3 bulan bersama mereka.

Saya harus bolak balik dari dermaga ke lapangan Bulalung. Mengatur kelompok keluarga yang sudah dibagi sebelumnya. Petugas Polsek juga lebih sibuk lagi mengamankan. Saya antara sibuk dengan memikirkan jadwal untuk menerima “warisan” ilmu penolak badai. Saya kehilangan jejak Douglas bersama dua rekannya. Mereka berbeda angkutan.

Ketika perahu bergerak perlahan, Douglas, Latif serta Anggun melambai saya dari perahu yang ditumpanginya. Saya juga merasa sedih. Lumayan lama mengurus mereka. Bersyukur tak ada yang sakit parah. Mereka berterima kasih. Saya tidak tahu makna lambaian tangan Douglas. Apakah mungkin berjanji memberikan ilmu, lewat angin yang bertiup. Ilmu penolak badai. Heheh, badai asmara. (mps/app)


BACA JUGA

Senin, 22 April 2019 13:25

Nama Saya Menjadi Lim Song

MENGUNJUNGI semua tempat wisata di Tiongkok, butuh waktu yang lama.…

Minggu, 21 April 2019 15:44

KPU JANGAN TUTUP MATA

PEMILU 17 April 2019 sudah berakhir dengan damai, aman, dan…

Sabtu, 20 April 2019 13:45

Mr Lho Tak Sabar Lagi

SALAH satu persoalannya di transportasi. Memang sudah ada rute yang…

Jumat, 19 April 2019 10:46

Memasak Tuba

ADA banyak jenis tuba. Tumbuhan yang sering digunakan untuk meracun…

Rabu, 17 April 2019 11:40

Mengampas Para Pelanggan

ADA usaha yang kadang tidak siap menghadapi pesaingnya. Sehingga, ketika…

Selasa, 16 April 2019 14:08

Memanfaatkan Limbah

PROSES pembukaan lahan perkebunan ataupun kegiatan pertambangan batu bara, menyisakan…

Senin, 15 April 2019 10:50

Paguyuban Kelas Jadi Solusi

KATA Paguyuban sudah tidak asing bagi kita. Kamus Besar Bahasa…

Senin, 15 April 2019 10:47

Udang dari Kampung Sukan

KAMPUNG Sukan sekarang sudah jauh berbeda dengan sepuluh tahun silam.…

Sabtu, 13 April 2019 12:42

Pentingnya Peningkatan Kompetensi Auditor

AUDITOR adalah jabatan yang mempunyai ruang lingkup, tugas, tanggung jawab,…

Sabtu, 13 April 2019 12:37

Santai di Atmosfer

BANYAK tempat kini bisa jadi ajang bertemu. Bisa di loby…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .
*