MANAGED BY:
SELASA
26 MARET
UTAMA | SANGGAM | PEMERINTAHAN | PARLEMENTARIA | EKONOMI | ALL SPORT | KOMBIS
Sabtu, 09 Maret 2019 13:33
Masih Ingat Lapis Banua?
PANEN: Penulis saat berada di lokasi penjualan batu di Pasar Adji Dilayas, saat musim batu beberapa tahun lalu.

PROKAL.CO, TIGA atau lima tahun lalu, tiba-tiba seperti ada berkah yang turun. Serentak di seluruh daerah di Indonesia heboh akan batu mulia. Tak terkecuali di Kabupaten Berau. Di mana-mana yang diperbincangkan soal batu.

Suara bising mesin pemotong dan penghalus batu, terdengar hampir di setiap ruas jalan. Tak kenal siang atau malam. Banyak warga yang berkumpul, mencermati batu yang masih dalam bentuk bongkahan. Ada juga yang sibuk menggunakan senter untuk meyakinkan jenis batu tersebut. Ada juga yang menggunakan alat khusus untuk memastikan keasliannya.

Transaksi batu juga ditawarkan dalam bentuk bongkahan. Harganya pun bervariasi. Lagi-lagi bergantung pada jenisnya. Ada yang berupa fosil ulin yang harganya tidak terlalu mahal. Harga di saat masih bongkahan, lebih murah ketika sudah terbentuk.

Saya sering nongkrong di Jalan AKB Sanipah melihat bagaimana proses pemotongan dalam bentuk bongkahan hingga menjadi kecil untuk ukuran cincin. Prosesnya lama juga. Bongkahan sekepalan tangan lalu menjadi mata kalung ataupun cincin. Soal harga tergantung harga pasar untuk jenis tertentu.

Fenomenal memang. Semua orang tiba-tiba menyenangi batu. Bahkan transaksi antardaerah juga berlangsung. Batu jenis Bacan misalnya, jenis ini paling dikejar. Ada semacam gengsi bila memiliki jenis batu yang berwarna hijau ini. Saya pernah bertamu ke salah seorang teman saya di Jakarta. Dia perlihatkan bongkahan batu mulia jenis Bacan. Warnanya hijau. Saat disenter cahaya tembus. Ia dapatkan ketika berkunjung ke Maluku. Saya bayangkan harganya pasti mahal. Saya merayu minta barang secuil, ia ketawa, hehe.

Saya juga pernah melihat kesibukan di Pasar Rawa Bening di Jakarta. Betul-betul satu tempat yang menjadi bursa batu. Semua jenis batu mulia, dari yang harga puluhan ribu hingga ratusan juta. Ada saja pembeli. Para maniak batu mulia. Bahkan ada yang bersertifikat.

Teman saya di Berau, banyak juga mengoleksi batu mulia. Mulai jenis Kecubung asal Martapura, Kalimantan Selatan, hingga batu mulia asal Afrika. Koleksi teman saya itu ada yang sudah berbentuk cincin, ada juga yang masih utuh.

Banyak warga di Berau, saat itu berburu batu. Termasuk mengejar hingga ke pedalaman. Ada batu yang dianggap warna dan bentuknya baru. Oleh para pencinta batu mulia dinamakan Lapis Banua. Sebagai penanda bahwa batu itu asal Berau. Warnanya dominan cokelat muda berlapis. Mungkin itu alasannya mengapa disebut Lapis Banua.

Berau pernah menjadi tempat bertemunya para pencinta batu. Ratusan jumlahnya. Beberapa jenis dilombakan. Saya melihat, hampir tak ada bedanya. Tapi juri punya kriteria tersendiri. Bila sudah pernah juara, batu akan semakin tinggi harganya. Ketika ‘booming’ di Pasar Adji Dilayas juga pernah menjadi tempat favorit penjualan batu. Bongkahan yang sudah terpotong, direndam dalam air. Calon pembelilah yang memilih sendiri. Kalau cocok, tinggal dibawa pengasah untuk dibentuk sesuai selera.

Sekali waktu, saya mendapat informasi bahwa di Kampung Bukit Makmur, Segah. Batu bongkahan besar yang diduga kuat adalah batu yang sedang dicari warga. Sudah terbayang harganya pasti mahal. Saya tidak tahu selanjutnya apakah batu itu laku terjual. Saya juga punya koleksi tapi tidak banyak. Hanya dua biji yang sudah berupa cincin. Satu batu mulia jenis Kecubung yang diberikan Pak Makmur. Satunya lagi batu mulia yang saya tidak tahu namanya. Batu itu dibelikan teman saya ketika ia pulang ke India. Warnanya merah, tidak tahu namanya.

Irisan batu yang dulu dicari, kini banyak tergolek sepi. Suara mesin pemotong tak lagi terdengar riuh. Batu yang dulu dijual dengan harga tinggi, kini jadi barang tak bernilai lagi. Jenis Bacan memang masih dicari pencintanya. Merah Borneo juga tak dilirik lagi. Fosil ulin yang berwarna hitam juga tinggal kenangan. Banyak lagi jenis lainnya tersimpan di laci meja. Kalung dengan batu berukuran besar, tak pernah lagi melingkar di leher pencintanya.

Tapi, ada juga yang masih menyimpan. Seakan berharap, masa jaya batu akan kembali lagi seperti dulu. Hal yang sama juga dialami, Lapis Banua. Kini semua tinggal kenangan.  Sesekali, ketika kami bertemu Pak Taupan Madjid, Pak Fattah Hidayat, Pak Iwan, masih juga sering bahas saat-saat ramainya warga yang terlibat dengan bisnis batu.(*/asa)


BACA JUGA

Senin, 25 Maret 2019 15:01

Menggagas Wisata Kampung Batik

SEJALAN dengan tugas dan fungsi pemberdayaan masyarakat, Kelurahan Tanjung Redeb…

Senin, 25 Maret 2019 14:20

Di Kota Lain Mulai Tergerus, Angkot di Sini Bertahan

ANGKOT alias Angkutan Kota, masih tetap eksis melayani pelanggannya. Jumlahnya…

Sabtu, 23 Maret 2019 14:08

Tujuh Imbauan Kesultanan

SEPINTAS memang tidak menarik perhatian. Apalagi ketika dua prasasti tersebut…

Jumat, 22 Maret 2019 10:25

Target, Siapa Pesaingmu

PERTANYAAN mengapa Kalimantan Timur (Kabupaten Berau) belum juga masuk 10…

Rabu, 20 Maret 2019 14:20

Meninggal Usia Muda

KEGIATAN penambangan batu bara di Teluk Bayur yang dikelola perusahaan…

Selasa, 19 Maret 2019 12:37

Ke Berau Modal Nekat

TAK bisa membayangkan seorang pemuda nekat meninggalkan kampung halamannya untuk…

Senin, 18 Maret 2019 14:48

Menghayal di Rammang-Rammang

WARGA desa Salenrang, Kecamatan Bontoa, Kabupaten Maros (Sulsel), tak pernah…

Sabtu, 16 Maret 2019 13:53

Selamat Jalan Pak Janna

KAMIS (14/3) lalu, tiba-tiba ada ucapan duka di semua Grup…

Jumat, 15 Maret 2019 14:58

Piano Usia 107 Tahun

BANYAK koleksi benda bersejarah yang ada di rumah Adji Bahrul…

Kamis, 14 Maret 2019 13:51

Jejak Kapal Taiwan

KEGIATAN penangkapan ikan secara ilegal, sudah berlangsung lama. Buktinya, dua…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .
*