MANAGED BY:
SELASA
26 MARET
UTAMA | SANGGAM | PEMERINTAHAN | PARLEMENTARIA | EKONOMI | ALL SPORT | KOMBIS
Senin, 11 Maret 2019 13:40
Jadi Koki Dadakan
DARURAT: Penulis (kiri) bersama Pemred Berau Post Azis Sakti (kanan), dan mantan Direktur Berau Post, Robithoh Johan Palupi saat menunggu giliran jatah telur dadar di tengah laut, beberapa waktu lalu.

PROKAL.CO, PERNAHKAH merasakan perjalanan ke pulau wisata dalam kondisi cuaca yang tidak bersahabat? Pada saat yang sama, harus pindah tumpangan kapal lain, karena tak mungkin melanjutkan perjalanan. Pada situasi yang tidak berbeda, perut lapar dengan logistik terbatas.

Kapan tepatnya, saya sudah lupa. Tapi peristiwa itu berlangsung tahun 2018. Bersama teman-teman komunitas Berau Journalist Divers (Berjudi), melakukan perjalanan ke Pulau Sangalaki bersama Wakil Bupati Berau Pak Agus Tantomo. Jumlahnya lumayan banyak.

Ada dua tumpangan yang digunakan.  Satu unit perahu cepat milik salah satu perusahaan, satunya lagi kapal Olivia Pearl milik Pak Johan Ramli. Memang harus menggunakan kapal berukuran besar dengan daya dukung muatan yang banyak. Maklum, peralatan penyelam ini beratnya hampir sama dengan peralatan pentas Band Soneta (Rhoma Irama).

Saya termasuk yang diikutkan sebagai anggota Berjudi, tapi tidak bisa menyelam. Jadi, bila bicara soal keindahan bawah laut, hanya menyalin hasil video bawah laut yang dihasilkan tim selam Berjudi. Bila ada sesi foto bersama, saya pasti tidak pernah ketinggalan. Makanya, sering Pak Agus nyentil dengan kalimat ‘spesialis foto bareng’ hehehe.

Pulau Sangalaki termasuk satu dari sekian banyak pulau wisata yang ada di Berau. Banyak rahasia yang belum terkuak di darat maupun di bawah laut. Saya pernah melihat seperti ayam berwarna hitam. Oleh penjaga pulau disebut Burung Maleo. Saya dibuat berpikir, setahu saya, Maleo hanya ada di Sulawesi Tengah. Ayam itu, selalu hadir di sekitar lokasi budidaya Penyu yang dikelola BKSDA.

Beberapa tahun lalu, Sangalaki merupakan ‘Mes’ bagi puluhan Penyu Hijau yang naik ke darat untuk bertelur setiap malam. Saya pernah menyaksikan sekitar 30 ekor penyu naik ke darat bersamaan untuk bertelur. Luar biasa. Sehingga saya sering berhitung, bila jumlahnya setiap malam sebanyak itu, setidaknya ada 3.000 butir telur penyu yang siap menjadi tukik (anak penyu).

Saya juga pernah menemani rombongan Pak Awang Faroek bersama keluarga liburan ke Sangalaki. Beliau datang khusus hanya untuk berenang dan juga melepas tukik. Karena melepas siang hari, beliau menyaksikan bagaimana tukik itu diserang burung Elang. Hari itu, Pak Awang melepas sekitar 100 ekor. Saya tidak tahu berapa ekor yang bisa selamat. Sebab, di laut pun ada banyak predator siap memangsa.

Yang ingin menikmati liburan tanpa gangguan dering telepon, ya Sangalaki-lah tempatnya. Ada sinyal ‘liar’ yang bisa didapatkan, tapi harus ke ujung pulau. Di Sangalaki bisa tenang.  Pemandangan bawah lautnya juga indah, pasir putihnya apalagi. Di Pulau itu dulu, Menteri Agama, tertusuk ikan Pari.

Siang menyelam, setelah selesai, lalu mengevaluasi bagaimana kondisi terumbu karang. Pak Wabup juga menyampaikan ada hal-hal menarik yang ia saksikan di bawah laut.  Evaluasi sambil menikmati santap malam. Ada petugas resor yang lincah menyiapkan santap malam. Menu sederhana, tapi nikmatnya jangan ditanya.

Pagi hari, karena harus berkejaran dengan air pasang. Harus meninggalkan pulau lebih cepat dari pergerakan surutnya air laut.  Sementara cuaca bergelombang, angin kencang. Seperti syair dalam lagu Ambon “Ombak Putih-Putih”.

Kapal Olivia Pearl sudah lebih dahulu bergerak kembali. Sementara saya ikut bersama Pak Agus dengan perahu cepat. Awalnya, perjalanan biasa saja. Gelombang seperti ini sudah sering dihadapi. Tak ada masalah. Toh, ketika melewati Pulau Semama, cuaca pasti akan mereda.

Ada kejadian di luar dugaan. Tumpuan mesin speedboat penggerak 250PK, robek. Bila dilanjutkan, akan lebih bahaya. Jarak Perahu cepat dengan Kapal Olivia Pearl lumayan berjauhan. Kendaraan lain tak nampak. Sinyal telepon timbul tenggelam. Ketika sinyal tertangkap, langsung menghubungi salah seorang penumpang di kapal tersebut. Dan menerima isyarat agar berbalik arah ke speedboat yang kami tumpangi itu.

 

Suasananya menegangkan, sebab semua penumpang diwajibkan menggunakan pelampung. Satu persatu penumpang dievakuasi dari speedboat ke Kapal Olivia Pearl. Kemudian, perjalanan dilanjutkan.  Speedboiat yang ditumpangi mengarah ke Tanjung Batu untuk perbaikan. Muncul persoalan baru. Penumpang kelaparan. Sementara persediaan logistik terbatas. Yang tersisa hanya dua piring telur. Ada saus lombok. Ada biskut. Dan sedikit minyak goreng. “Ini bisa dimanfaatkan,” kata saya dalam hati.

Saya pun berinisiatif membuat telur dadar ala Daeng Sikra. Telor dadar menunggu lama, menu diubah menjadi telur urak-arik. Tak masalah, apapun namanya, yang penting ada buat mengganjal perut. Azis Sakti dan Robi melihat aksi saya memasak sambil menunggu giliran jatah telur urak-arik ala Daeng Sikra. Semua penumpang kebagian. Semua penumpang melupakan peristiwa rusaknya speedboat tersebut. Memang kadang-kadang dalam perjalanan apapun, dalam situasi darurat, dibutuhkan juga juru masak darurat. Bisa jadi koki di tengah badai.(*/asa)

 

 

 

 


BACA JUGA

Senin, 25 Maret 2019 15:01

Menggagas Wisata Kampung Batik

SEJALAN dengan tugas dan fungsi pemberdayaan masyarakat, Kelurahan Tanjung Redeb…

Senin, 25 Maret 2019 14:20

Di Kota Lain Mulai Tergerus, Angkot di Sini Bertahan

ANGKOT alias Angkutan Kota, masih tetap eksis melayani pelanggannya. Jumlahnya…

Sabtu, 23 Maret 2019 14:08

Tujuh Imbauan Kesultanan

SEPINTAS memang tidak menarik perhatian. Apalagi ketika dua prasasti tersebut…

Jumat, 22 Maret 2019 10:25

Target, Siapa Pesaingmu

PERTANYAAN mengapa Kalimantan Timur (Kabupaten Berau) belum juga masuk 10…

Rabu, 20 Maret 2019 14:20

Meninggal Usia Muda

KEGIATAN penambangan batu bara di Teluk Bayur yang dikelola perusahaan…

Selasa, 19 Maret 2019 12:37

Ke Berau Modal Nekat

TAK bisa membayangkan seorang pemuda nekat meninggalkan kampung halamannya untuk…

Senin, 18 Maret 2019 14:48

Menghayal di Rammang-Rammang

WARGA desa Salenrang, Kecamatan Bontoa, Kabupaten Maros (Sulsel), tak pernah…

Sabtu, 16 Maret 2019 13:53

Selamat Jalan Pak Janna

KAMIS (14/3) lalu, tiba-tiba ada ucapan duka di semua Grup…

Jumat, 15 Maret 2019 14:58

Piano Usia 107 Tahun

BANYAK koleksi benda bersejarah yang ada di rumah Adji Bahrul…

Kamis, 14 Maret 2019 13:51

Jejak Kapal Taiwan

KEGIATAN penangkapan ikan secara ilegal, sudah berlangsung lama. Buktinya, dua…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .
*