MANAGED BY:
SELASA
26 MARET
UTAMA | SANGGAM | PEMERINTAHAN | PARLEMENTARIA | EKONOMI | ALL SPORT | KOMBIS
Selasa, 12 Maret 2019 14:01
Petak 4x6 Meter
MILIK SIAPA: Penulis ketika berada di kawasan 4x6, Jalan AKB Sanipah I. Tanjung Redeb. Lahan ini adalah aset Pemkab Berau yang disewakan kepada warga.

PROKAL.CO, MEMANG ada nama jalannya. Yakni Jalan AKB Sanipah I.  Tapi, nama ini bisa saja banyak yang tidak tahu. Tapi, bila menyebut 4x6, warga sangat paham. Terutama warga Berau yang lebih suka menyebut 4x6 ketimbang nama jalan yang ada.

Ketika peristiwa kebakaran terjadi di Jalan Ahmad Yani, puluhan tahun silam, Pemkab kesulitan mencarikan lahan bagi para korban kebakaran untuk penampungan sementara. Maka, dibangunlah petak yang tidak terlalu luas. Sebuah bangunan bangsal berukuran 4x6 meter. Di sinilah penampungan bagi para korban kebakaran.

Walaupun dibangun Pemkab, tapi ada kewajiban untuk membayar setiap bulan. Saya bertemu dengan Pak Syahril, mantan pegawai Dispenda Berau yang tugasnya menagih iuran ataupun sewa tempat tinggal 4x6 tersebut. "Kalau tidak salah dulu nilainya sekitar Rp 7500 per bulan,? kata Syahril.

Awalnya masih lancar. Sebab, petak 4x6 meter tersebut, oleh penghuninya juga dijadikan sebagai lahan usaha. Namanya petak 4x6 meter, tapi tampilannya tak lebih dari sebuah kios untuk kegiatan usaha. Maklum, para korban kebakaran perlu segera bangkit membangun ekonominya.

Informasi yang saya dapatkan dari Pak Ibnu Sina, mantan Sekda Berau yang kini sudah purna tugas, menyebutkan bila tak salah jumlah petak yang dibangun sekitar 84 unit.  Bangunannya ada dua blok. Blok yang berada dalam kawasan Jalan AKB Sanipah maupun yang ada pada blok bagian dalam sekitar Kantor Kelurahan Bugis.

Waktu berjalan, Pemkab sudah mulai kesulitan melakukan pendataan. Siapa sebetulnya pemilik pertama dari setiap petak tersebut. Hampir seluruh unit sudah berganti nama.  Bukan lagi pemilik awal. ?Lahan tersebut merupakan aset daerah, namun bangunannya merupakan bantuan provinsi, yang saat itu gubernurnya adalah Pak Ery Suparjan,? kata Pak Ibnu.

Saya mencoba mendapatkan informasi dari salah seorang penghuni di blok Jalan AKB Sanipah. Menurut mereka, petak yang digunakan untuk berjualan Coto Makassar sudah dibeli sekitar 17 tahun silam. Harganya tak lebih dari Rp 60 juta. Menariknya, jual beli tersebut hanya selembar kuitansi. Tak ada surat-surat yang menyatakan kepemilikan lahan maupun bangunan.

Pemilik warung Sop Saudara, juga punya penjelasan yang hampir sama. Bahkan, wajah lama 4x6 meter sudah tidak terlihat lagi, karena harus diperluas. Termasuk membeli lagi bangunan yang ada di bagian belakang. Ini juga bagian dari bangunan petak 4x6 meter yang dibangun Pemkab Berau dulu.

Terkait sewa, sampai saat ini mereka masih lancar membayar melalui rekening bank sebesar Rp 250 ribu per bulan. Ibaratnya, ini sewa pakai. Hampir seluruh bangunan atau kios yang ada di sepanjang Jalan AKB Sanipah sudah tidak jelas siapa pemilik pertamanya. Bahkan, sudah ada yang merubah bentuknya.

Pernah ada wacana untuk merubah wajah 4x6 meter tersebut dengan membangun Rumah Toko (Ruko), lalu disewakan kembali pada warga yang menempati terakhir. Tapi, saya tidak tahu persis bagaimana kelanjutan wacana itu. Padahal, warga lebih suka sekalian menjadi Ruko untuk disewa. Ada warga yang kabarnya menguasai 4 petak yang kemudian disewakan kembali kepada warga lainnya.

Tempat ini memang strategis untuk kegiatan berusaha. Ini terlihat pada jam sibuk, parkir kendaraan sisi kiri dan kanan jalan. Malam hari, penghuni 4x6 meter tersebut ada yang tetap melakukan aktivitas, karena memang dijadikan rumah tinggal. Ada juga yang tertutup, karena lebih memilih tinggal di rumahnya yang lain.

Saya tidak tahu persis bagaimana penanganan aset tersebut ke depan. Sebab, pemimpin daerah sebelum-sebelumnya juga hanya ada wacana untuk membangun. Pernah juga dilakukan penelusuran siapa pemilik awal dari petak tersebut, namun kesulitan mendapatkan data. Tapi, umumnya mereka mengaku memiliki tapi tak punya kelengkapan surat menyurat, atas lahan dan bangunan tersebut.(*/asa)

 


BACA JUGA

Selasa, 26 Maret 2019 13:39

Madu hingga Walet

MODALNYA hanyalah kemauan dan kerja keras. Peluang bagi mereka cukup…

Senin, 25 Maret 2019 15:01

Menggagas Wisata Kampung Batik

SEJALAN dengan tugas dan fungsi pemberdayaan masyarakat, Kelurahan Tanjung Redeb…

Senin, 25 Maret 2019 14:20

Di Kota Lain Mulai Tergerus, Angkot di Sini Bertahan

ANGKOT alias Angkutan Kota, masih tetap eksis melayani pelanggannya. Jumlahnya…

Sabtu, 23 Maret 2019 14:08

Tujuh Imbauan Kesultanan

SEPINTAS memang tidak menarik perhatian. Apalagi ketika dua prasasti tersebut…

Jumat, 22 Maret 2019 10:25

Target, Siapa Pesaingmu

PERTANYAAN mengapa Kalimantan Timur (Kabupaten Berau) belum juga masuk 10…

Rabu, 20 Maret 2019 14:20

Meninggal Usia Muda

KEGIATAN penambangan batu bara di Teluk Bayur yang dikelola perusahaan…

Selasa, 19 Maret 2019 12:37

Ke Berau Modal Nekat

TAK bisa membayangkan seorang pemuda nekat meninggalkan kampung halamannya untuk…

Senin, 18 Maret 2019 14:48

Menghayal di Rammang-Rammang

WARGA desa Salenrang, Kecamatan Bontoa, Kabupaten Maros (Sulsel), tak pernah…

Sabtu, 16 Maret 2019 13:53

Selamat Jalan Pak Janna

KAMIS (14/3) lalu, tiba-tiba ada ucapan duka di semua Grup…

Jumat, 15 Maret 2019 14:58

Piano Usia 107 Tahun

BANYAK koleksi benda bersejarah yang ada di rumah Adji Bahrul…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .
*