MANAGED BY:
KAMIS
20 JUNI
UTAMA | SANGGAM | PEMERINTAHAN | PARLEMENTARIA | EKONOMI | ALL SPORT | KOMBIS

SANGGAM

Sabtu, 16 Maret 2019 14:02
Bupati Sayangkan Perusahaan Tolak TBS Masyarakat
Ilustrasi

PROKAL.CO, TANJUNG REDEB - Bupati Berau Muharram sayangkan masih adanya perusahaan sawit di pesisir tak membeli tandan buah segar (TBS) dari masyarakat. 

Menurutnya, selama daya tampung pabrik perusahaan masih sanggup melakukan pengolahan, maka wajib hukumnya pihak perusahaan membeli TBS milik masyarakat. Karena perlu adanya peran serta perusahaan untuk ikut menyejahterakan masyarakat sekitar.

"Kita wajibkan perusahaan membeli punya masyarakat, salah satu tujuannya supaya perusahaan turut mewujudkan kesejahteraan masyarakat,” katanya saat diwawancara Berau Post, Jumat (15/3).

Mengenai persoalan adanya perusahaan yang tak membeli TBS masyarakat, Muharram menyebut apabila faktanya demikian, maka perlu adanya pengecekan perihal alasan perusahaan tidak mau membeli.

Apabila pengecekan nantinya diketahui alasan perusahaan disebut logis dan masuk akal, maka pihaknya akan memaklumi hal tersebut. "Tetapi bila alasannya tidak masuk akal dan tidak ada upaya kerja sama, tentu akan kita ingatkan dan diajak secara baik-baik mencari solusi," sebutnya.

"Tapi kalau tetap tidak mau, maka tentu pemerintah kabupaten akan melakukan tindakan yang sesuai dengan kewenangan dan aturan yang berlaku," sambungnya.

Sebelumnya, keberadaan PT Jabontara Eka Karsa (JEK) di Kecamatan Batu Putih menjadi sorotan masyarakat. Hal itu dibenarkan Camat Batu Putih Muzakkir, kepada Berau Post belum lama ini.

Disebutkannya, banyaknya keluhan masyarakat akan perusahaan yang bergerak di bidang kelapa sawit itu diduga karena tidak menerima sawit masyarakat, khususnya yang dikembangkan di Kampung Batu Putih.

Akibatnya, banyak petani sawit menjual hasil panennya ke PT Dwiwira Lestari Jaya (DLJ) yang berada di Kampung Lempake, Kecamatan Biatan.

Hal itu tentu tidak sesuai dengan keinginan Bupati Berau Muharram yang mewajibkan setiap perusahaan yang beroperasi di suatu wilayah tak terkecuali di Kecamatan Batu Putih, untuk berkontribusi dalam mensejahterakan masyarakat di sekitar beroperasinya perusahaan tersebut.

"Pak bupati kan ingin setiap perusahaan seperti kelapa sawit yang berinvestasi di suatu wilayah, termasuk di Kecamatan Batu Putih wajib memberikan kontribusinya. Dengan kata lain, PT Jabontara wajib mengambil sawit milik petani di sini, sementara kenyataan di lapangan tidak seperti itu," ungkapnya.

Sebenarnya diutarakan Muzakkir, dirinya sempat mencoba memediasi persoalan itu, dengan langsung menghubungi pimpinan PT JEK meminta klarifikasi langsung terkait keluhan masyarakat.

"Waktu itu saya sempat komunikasi walau hanya sebatas di telepon saja. Asalannya karena mereka kesulitan air,” ujarnya.

Dilanjutkan Mantan Camat Segah ini, Bupati Berau Muharram yang mendengar keluhan tersebut saat pelaksanaan Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) beberapa waktu lalu, mengaku sempat kecewa dengan sikap PT JEK.

Sebab, sebagai perusahaan yang cukup lama berinvestasi di Kecamatan Batu Putih, seharusnya dapat memperhatikan dan memberdayakan masyarakat di sana.

Dikonfirmasi, Manajer PT JEK Syamsuddin, membenarkan bahwa saat ini pihaknya memang belum bisa mengakomodir hasil sawit masyarakat setempat. Itu dijelaskannya karena minimnya air yang digunakan untuk mengolah kelapa sawit.

Air disampaikannya, merupakan bahan baku agar kelapa sawit dapat diproses dengan baik. Untuk pengolahan sawit 1 ton, maka air yang harus digunakan juga sebanyak 1 ton. Sementara, sekali panen hasil perkebunan PT DLJ bisa mencapai 700 ton.

Karena itu, saat ini pihaknya juga masih kesulitan bahkan untuk mengelola hasil perkebunan PT JEK sendiri. "Di Jabontara itu kesulitan air, dan Disbun (Dinas Perkebunan) sudah lihat sendiri. Jika sawit masyarakat diterima nanti tidak akan optimal. Jadi kita bukannya sengaja tidak menerima," ungkapnya Selasa (12/3).

Memang sambungnya, di Kecamatan Batu Putih cukup banyak sumber air, hanya saja jaraknya cukup jauh dari pabrik mereka. Solusi yang sempat dilakukan pihaknya yakni membangun bendungan sekitar 8 kilometer dari pabrik juga tidak berbuah maksimal karena banyaknya perbukitan. Begitu juga dengan pembangunan sumur di sekitar pabrik yang sudah memakan biaya Rp 1,2 miliar.

“Itulah kenapa sampai sekarang kami belum bisa menerima sawit masyarakat. Kalau ada hujan masih bisa lega, tapi jika sudah kemarau mendapatkan air jadi sangat sulit," tandasnya.

“Sehari setelah musrenbang juga kami sudah dipanggil ke Disbun. Tapi apa boleh buat kendala kita memang di air. Kita bisa tinjau sama-sama untuk membuktikan apakah itu benar atau tidak," jelasnya.(arp/asa)


BACA JUGA

Rabu, 19 Juni 2019 14:22

Ditarget Tinggi, Realisasi Rendah

TANJUNG REDEB – Diberi target untuk menambah 6.000 sambungan rumah…

Rabu, 19 Juni 2019 14:21

Janji Tak Segan Tindak Pembakar Lahan

TANJUNG REDEB – Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Berau…

Rabu, 19 Juni 2019 14:21

Andalkan Air Sungai untuk Mandi

TABALAR – Ketersediaan air bersih di Kampung Tabalar Muara, Kecamatan…

Selasa, 18 Juni 2019 19:41

Jalan Menuju Tabalar Muara Segera Diaspal

TABALAR – Kerap terima keluhan dari warga, Kepala Kampung Tabalar…

Selasa, 18 Juni 2019 19:36

Hari Ini JPU Tentukan Sikap

TANJUNG REDEB – Berkas perkara dugaan penganiayaan terhadap anak di…

Selasa, 18 Juni 2019 19:34

TPS Kejauhan, Buang di Pinggir Jalan

SAMBALIUNG –Tak ada tempat pembuangan sampah sementara, masyarakat Limunjan pun…

Selasa, 18 Juni 2019 19:33

Longsor Ancam Pekerjaan Jalan H Isa III

TANJUNG REDEB – Peningkatan Jalan H Isa III belum selesai,…

Senin, 17 Juni 2019 15:38

Tiga THM Ketahuan Edarkan Miras

TANJUNG REDEB – Peredaran minuman beralkohol atau miras secara ilegal…

Senin, 17 Juni 2019 15:35

Jalan Padat Karya Butuh LPJU

TANJUNG REDEB – Jalan Padat Karya yang menghubungkan Jalan Bukit…

Minggu, 16 Juni 2019 00:49

Masih Gunakan Dapur Kayu untuk Memasak

TALISAYAN - Meskipun stok elpiji 3 Kilogram atau gas melon…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .
*