MANAGED BY:
KAMIS
20 JUNI
UTAMA | SANGGAM | PEMERINTAHAN | PARLEMENTARIA | EKONOMI | ALL SPORT | KOMBIS
Jumat, 12 April 2019 14:16
Menumbuhkan Nilai Kesetiakawanan
Harjupri, S.ST

PROKAL.CO, SEIRING dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, pada tingkat masyarakat terjadi transformasi sosial yang berlangsung dengan cepat dan masif. Trasnformasi sosial seperti dua sisi mata uang, masing-masing sisi punya nilai dan dampak.

Di antara dampak negatif yang dirasakan adalah memudarnya nilai-nilai kesetiakawanan sosial di tengah-tengah masyarakat. Padahal kesetiakawanan sosial merupakan nilai luhur masyarakat yang sudah ada sejak zaman perjuangan.

Pada masa perjuangan kesetiakawanan sosial bahkan menjadi senjata untuk melawan penjajah. Masyarakat pada waktu itu merasa senasib seperjuangan yang diaktualisasikan dalam bentuk perlawanan kepada penjajah.

Kesetiakawanan sosial merupakan bentuk kepedulian sosial untuk membantu orang lain yang membutuhkan pertolongan dengan empati dan kasih sayang. Jika dilihat dari berbagai perspektif, dalam perspektif psikologis dimaknai pola pikir, sikap peka, peduli dan berbagi. Dalam perspektif sosiologis dimaknai sebagai bentuk solidaritas yang menghasilkan interaksi sosial yang baik, kompak serta inklusif tanpa diskriminasi. Dalam perspektif antropologis dimaknai sebagai nilai dasar yang bersumber dari kearifan lokal.

Jika dilihat dari bentuk implementasinya, dalam kehidupan beragama berupa kesadaran pemeluk agama membayar zakat, infaq dan sedekah serta amal-amal sosial lainnya. Dalam kehidupan sosial masyarakat, berupa kepedulian terhadap sesama, seperti arisan, gotong royong, mudik lebaran dan lain sebagainya.

Di masyarakat Berau wujud kesetiakawanan sosial dikenal dengan istilah “Baturunan”. Baturunan merupakan sebutan untuk sebuah kegiatan kerja yang dilakukan secara bersama-sama untuk meringankan pekerjaan atau kegiatan. Dulu Baturunan dilakukan masyarakat pada kegiatan bercocok tanam atau pada saat panen.

Masyarakat yang punya sawah berdekatan dalam satu hamparan luas, mulai memotong rumput, menanam benih padi sampai memanen dilakukan secara bergotong-royong. Baturunan juga dilakukan dalam proses membangun rumah tempat tinggal. Pembangunan dilakukan secara baturunan dengan saling bergantian.

Baturunan pada masa lalu juga berupa kegiatan menurunkan perahu ke sungai secara bersama-sama tetangga dan warga masyarakat setempat. Hal ini dikarenakan perahu pada masa itu menjadi sarana melakukan pekerjaan dan transportasi.

Jadi nilai kesetiakawanan sosial itu sudah ada disetiap daerah sejak lama. Bahkan sejak zaman nenek moyang. Menjadi tradisi yang lestari secara turun-temurun dengan sebutan yang berbeda sesuai budaya dan kearifan lokal masing-masing daerah. Namun memiliki  substansi yang sama yakni gotong-royong membangun kepedulian kolektif guna meringankan beban sesama. Ada Baturunan (Berau), Sambatan (sebagian masyarakat Jawa), Sipakatau (Makassar) dan seterusnya.

Dengan demikian, nilai-nilai kesetiakawanan sosial yang sudah lestari harus dipertahankan, ditumbuhkembangkan dan dikuatkan. Potensi luhur ini merupakan kekayaan kultur masyarakat kita yang bisa menjadi perekat dan pemersatu bangsa. Nilai kesetiakawanan sosial yang lestari bisa meminimalisir potensi konflik sosial, mewujudkan kesejahteraan dan  memperkuat ketahanan Nasional.

Secara umum, tradisi budaya Indonesia mengutamakan keselarasan hubungan orang perorang dalam masyarakat yang dilandasi prinsip rukun dan hormat. Menggali dan melestarikan nilai-nilai tersebut di atas menjadi tanggung jawab bersama antara pemerintah dan masyarakat.

Gempuran pengaruh negatif modernisasi yang melunturkan nilai-nilai kebersamaan, munculnya kerenggangan hubungan antar individu maupun kelompok, kurang peduli, sikap acuh dan lain sebagainya, perlu dilakukan upaya bersama oleh semua pihak untuk terus-menerus melakukan proses penyadaran.

Menumbuhkan nilai-nilai kesetiakawanan sosial bisa dimulai dari diri sendiri. Selanjutnya pada tingkat keluarga, masyarakat maupun institusi. Dimulai dari hal-hal yang kecil dan sederhana sampai kepada hal-hal yang besar dan kompleks. Dilakukan secara terus-menerus dan berkesinambungan.

Mari bersama menghidupkan nilai-nilai kesetiakawanan sosial. (*/har)


BACA JUGA

Rabu, 19 Juni 2019 14:16

Nyaman Juga Rasanya

TERKADANG dihadapkan pada situasi yang harus memilih. Tergantung tingkat kesabaran.…

Selasa, 18 Juni 2019 19:32

Wisata Syariah di Pantai Losari

JANGAN pernah ragu bila ingin berlama-lama di sepanjang Pantai Losari,…

Senin, 17 Juni 2019 15:32

Sup Ubi Nostalgia

LOKASI tak lagi masalah. Walaupun kadang-kadang jadi pertimbangan untuk membuka…

Minggu, 16 Juni 2019 00:47

Salah Masuk Antrean

MASING-MASING daerah tentu ada satu tempat yang menjadi favorit warganya.…

Sabtu, 15 Juni 2019 00:12

Tertolong Poin Garuda

PULANG kampung jadi repot ketika akan pulang. Tidak tahu, kalau…

Jumat, 14 Juni 2019 16:08

Satu Harga Tiga Rasa

TAK susah untuk menikmati Pisang Epe alias pisang gapit. Datang…

Kamis, 13 Juni 2019 15:01

Menanti Senja di Pantai Losari

APA yang paling dinantikan saat berada di Pantai Losari, Makassar?…

Rabu, 12 Juni 2019 15:33

Pertemuan Dua Daeng

INGIN terkenal dan dikenal, banyak jalannya. Tak perlu ke Jakarta…

Selasa, 11 Juni 2019 13:51

Namanya Buroncong

JUMLAHNYA banyak sekali. Saya tak bisa menyebut satu persatu, nama…

Senin, 10 Juni 2019 14:35

Merantau di Kampung Sendiri

BAGI banyak orang, merantau tentu sebagai hal yang mengasyikkan. Bahkan,…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .
*