MANAGED BY:
SABTU
20 APRIL
UTAMA | SANGGAM | PEMERINTAHAN | PARLEMENTARIA | EKONOMI | ALL SPORT | KOMBIS
Senin, 15 April 2019 10:50
Paguyuban Kelas Jadi Solusi
Usman,M.Pd

PROKAL.CO, KATA Paguyuban sudah tidak asing bagi kita. Kamus Besar Bahasa Indonesia mendefinisikannya sebagai perkumpulan yang bersifat kekeluargaan, didirikan oleh orang-orang yang sepaham untuk membina kerukunan di antara para anggotanya. Bisa jadi karena istilahnya yang sangat merakyat itulah sehingga paguyuban direkomendasikan sebagai bagian dari gerakan Penyelenggaraan Pendidikan Keluarga di sekolah. Ada harapan besar pada program nasional ini untuk bisa mewarnai karakter generasi penerus bangsa yang semakin mengkhawatirkan.

Kekhawatiran itu bukan tanpa alasan. Siang dan malam orangtua disuguhi berita penyimpangan perilaku pelajar. Salah satu yang paling mencolok adalah kasus kekerasan pelajar. Tidak tanggung-tanggung, jumlah kasus perundungan atau bullying di Indonesia tertinggi di dunia, menurut UNICEF pada tahun 2016. Yang paling terkini adalah kasus tragis yang menyayat hati, yang menimpa Audrey, pelajar SMP di Pontianak. Dia dianiaya oleh 12 siswi SMA karena alasan yang sepele. Ini menambah data KPAI bahwa perundungan dan tawuran menempati posisi teratas dalam jumlah kasus penyimpangan perilaku pelajar. 

Status pelajar dilekatkan pada penyimpangan perilaku tersebut selain karena usia pelaku yang masih belasan juga karena tak jarang perilaku buruk itu dilakukan di saat mereka masih mengenakan seragam sekolahnya. Rasa khawatir itu sudah seharusnya bisa mengantar kita pada kesadaran bahwa pelajar hari ini dihadapkan pada berbagai keadaan yang menuntut perhatian serius.

Masalah yang dihadapi pelajar hari ini semakin kompleks sehingga penanganannya pun harus menggunakan pendekatan yang komprehensif dan terintegrasi. Komprehensif artinya permasalahan harus diatasi dari akar dan menyeluruh, sedangkan terintegrasi artinya segala upaya mencegah hal yang mengancam masa depan anak harus dilakukan bersama-sama, terencana dan terukur.

Anak hanya menghabiskan beberapa jam di sekolah, selebihnya di masyarakat dan keluarga. Jadi, menyerahkan sepenuhnya pada sekolah untuk membentuk karakter anak juga tidak bijak. Masalah siswa harus dipandang sebagai masalah bersama. Sekolah, keluarga, dan masyarakat harus merasa bertanggungjawab dan bekerjasama mengatasi penghambat perkembangan generasi penerus.

Pendidikan pertama dan utama ada di keluarga karena di keluarga-lah anak mendapat sentuhan pertama. Sentuhan yang membentuk karakter anak. Seperti yang disampaikan para psikolog bahwa 80 persen otak anak terbentuk di usia lima tahun ke bawah. Artinya karakter dasar anak sangat diwarnai oleh pola pengasuhan di rentang usia itu. Sebab di masa itu intensitas dan frekuensi interaksi dengan keluarga sangat tinggi. Meskipun begitu, disadari bahwa tidak mungkin anak hanya selalu berada di lingkungan keluarga. Mereka juga harus disiapkan sebagai mahkluk sosial yang berinteraksi di sekolah maupun di lingkungan masyarakat yang lebih luas.

Masalahnya adalah tidak semua orangtua memiliki pengetahuan yang sama seputar bagaimana menerapkan pola asuh terhadap anaknya. Bahkan, masih banyak orangtua yang belum memiliki pengetahuan memadai mengenai tumbuh kembang anak beserta pola asuh positif yang dibutuhkan. Anak yang tidak mendapatkan pola asuh positif cenderung akan menunjukkan perilaku yang menyimpang dan mengganggu. Perilaku itu mulai terlihat ketika anak sudah masuk lingkungan yang lebih luas seperti sekolah. Ketika ditangani, justru terkadang melahirkan kesalahpahaman antara pihak sekolah dan orangtua. Saling menyalahkan dan lempar tanggung jawab.

Berdasarkan kondisi tersebut, pendidikan keluarga berbasis sekolah diharapkan bisa ikut membantu  meminimalisasi kesenjangan pemahaman dari semua unsur yang terlibat dalam dunia pendidikan anak, sehingga pada gilirannya anak akan mendapatkan pengasuhan positif baik di rumah, di sekolah, maupun di masyarakat. Pengasuhan yang penuh kasih sayang, penghargaan. Untuk membangun kesepahaman dibutuhkan komunikasi yang intensif dan terprogram. Selama ini komunikasi antara orangtua dan pihak sekolah hanya terjadi ketika anak baru masuk sekolah, atau ketika orangtua mendapat undangan karena anaknya bermasalah. Oleh karena itu, pembentukan wadah bersama dalam bentuk forum komunikasi akan sangat bermanfaat.

Orangtua siswa dalam satu kelas yang sama bisa berhimpun dalam wadah komite kelas atau paguyuban kelas. Wadah ini menjadi tempat orangtua saling mengenal, berbagi pengetahuan, dan saling menginspirasi. Melalui wadah ini, para orangtua bisa ikut terlibat aktif memikirkan dan mengatasi faktor penghambat kelancaran pendidikan anak mereka. Melalui wadah ini pula, komunikasi orangtua dan sekolah melalui wali kelas bisa terbangun. Manfaat lainnya, anak-anak akan terpantau keberadaan dan kegiatan yang terkait sekolahnya. Pertemuan rutin bisa dilakukan di ruang kelas anak-anak mereka selain komunikasi berbasis social media group.

Pengurus paguyuban kelas ini yang selanjutnya bisa menjalin komunikasi intensif dengan pengurus komite pada tingkat sekolah untuk menyelenggarakan program penguatan pemahaman untuk merespons kendala-kendala yang dihadapi sekolah secara umum. Misalnya komite sekolah dan paguyuban menginisiasi kegiatan penguatan pemahaman pola asuh anak dalam bentuk kelas orangtua atau parenting class. Kelas orangtua menjadi wadah orangtua belajar mengupgrade pengetahuan tentang tumbuh kembang anak dan keterampilan menerapkan pola pengasuhan yang tepat. Khusus untuk siswa, kegiatan bisa diarahkan dalam bentuk kelas inspirasi atau inspiration class. Kedua program bisa saja menghadirkan salah satu orangtua untuk berbagi kisah dan pengalaman inspiratif.

Semua kegiatan bisa diselenggarakan di sekolah, dimana pihak sekolah berperan sebagai fasilitator. Peran ini juga menuntut perubahan pola manajemen sekolah yang semakin inklusif. Diperlukan pola hubungan terbuka yang memungkinkan orangtua ikut peduli dengan kondisi sekolah tempat anak-anak mereka belajar.           

Besar harapan program penyelenggaraan pendidikan keluarga berbasis sekolah ini bisa berjalan sebagaimana mestinya. Mengingat kebijakan ini sejatinya terkait dengan program penguatan pendididikan karakter yang dicanangkan Presiden tahun 2017 lalu. Dengan demikian segala keluhan terkait problematika yang melanda anak-anak sekolah bisa diatasi bersama. Termasuk menihilkan kasus kekerasan yang melibatkan anak usia sekolah melalui pembiasaan baik, tauladan, dan penegakan disiplin positif, yaitu disiplin yang bebas dari kekerasan fisik maupun mental.(*/asa)

 

*) Penulis adalah Guru SMKN 1 Berau.


BACA JUGA

Sabtu, 20 April 2019 13:45

Mr Lho Tak Sabar Lagi

SALAH satu persoalannya di transportasi. Memang sudah ada rute yang…

Jumat, 19 April 2019 10:46

Memasak Tuba

ADA banyak jenis tuba. Tumbuhan yang sering digunakan untuk meracun…

Rabu, 17 April 2019 11:40

Mengampas Para Pelanggan

ADA usaha yang kadang tidak siap menghadapi pesaingnya. Sehingga, ketika…

Selasa, 16 April 2019 14:08

Memanfaatkan Limbah

PROSES pembukaan lahan perkebunan ataupun kegiatan pertambangan batu bara, menyisakan…

Senin, 15 April 2019 10:50

Paguyuban Kelas Jadi Solusi

KATA Paguyuban sudah tidak asing bagi kita. Kamus Besar Bahasa…

Senin, 15 April 2019 10:47

Udang dari Kampung Sukan

KAMPUNG Sukan sekarang sudah jauh berbeda dengan sepuluh tahun silam.…

Sabtu, 13 April 2019 12:42

Pentingnya Peningkatan Kompetensi Auditor

AUDITOR adalah jabatan yang mempunyai ruang lingkup, tugas, tanggung jawab,…

Sabtu, 13 April 2019 12:37

Santai di Atmosfer

BANYAK tempat kini bisa jadi ajang bertemu. Bisa di loby…

Sabtu, 13 April 2019 12:35

Pertarungan Ego Kedaerahan

PEMILU Serentak tahun ini sebentar lagi digelar. Sabtu (13/4) hari…

Jumat, 12 April 2019 14:16

Menumbuhkan Nilai Kesetiakawanan

SEIRING dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, pada tingkat masyarakat…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .
*