MANAGED BY:
SENIN
27 MEI
UTAMA | SANGGAM | PEMERINTAHAN | PARLEMENTARIA | EKONOMI | ALL SPORT | KOMBIS
Selasa, 23 April 2019 13:22
Membangun Wisata Kota yang Memberdayakan
Harjupri,S.ST

PROKAL.CO, PEMBANGUNAN adalah suatu proses perubahan ke arah yang lebih baik melalui upaya yang dilakukan secara terencana. Pembangunan juga merupakan proses transformasi ekonomi, sosial dan budaya melalui serangkaian kebijakan beserta implementasinya. Fungsi pembangunan nasional secara sederhana adalah melaksanakan tugas pertumbuhan ekonomi, tugas perawatan masyarakat dan tugas pengembangan manusia. Pembangunan dalam rangka melaksanakan tugas pertumbuhan dan perubahan merupakan kombinasi berbagai proses ekonomi, sosial dan politik untuk mencapai kehidupan yang lebih baik.

 

Pemberdayaan menurut para ahli adalah menyediakan sumber daya, kesempatan, pengetahuan dan keterampilan bagi masyarakat guna meningkatkan keterampilan mereka dalam pengambilan keputusan dan berpartisipasi dalam kegiatan yang mempunyai dampak pada kehidupan masa depan. Pemberdayaan juga memiliki pengertian meningkatkan kemampuan masyarakat dengan cara mengembangkan dan mendinamisasikan potensi-potensi masyarakat dalam rangka meningkatkan harkat dan martabat seluruh lapisan masyarakat.

 

Wisata Kota merupakan konsep atau gagasan untuk mengeksplorasi potensi dan sumber daya, dikelola secara partisipatif, dielaborasi secara maksimal sehingga menghasilkan daya tarik wisata guna meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Dalam proses menyiapkan kawasan agar memiliki daya tarik wisata setidaknya harus bisa menjawab pertanyaan : What to See (obyek dan atraksi), What to Do (fasilitas yang membuat wisatawan betah tinggal), What to Buy (fasilitas belanja), What to Arrived (akses transportasi), What to Stay (fasilitas tempat tinggal sementara seperti hotel dll). Jadi yang harus ada dalam kawasan wisata adalah atraksi, aksesibilitas dan fasilitas.

 

Maka perlu dibuat peta jalan (strategi) guna mengimplementasikan, termasuk menentukan sasaran. Sasaran utama program ini adalah masyarakat yang menjadi lokus utama kegiatan, namun demikian dalam implementasinya intervensi program harus dilaksanakan secara terintegrasi dengan destinasi wisata yang sudah berjalan seperti wisata keraton, etnik, sejarah dan seni-budaya yang berada di Sambaliung dan Gunung Tabur. Karena membangun kawasan wisata merupakan investasi jangka panjang, tidak bisa menjadi program yang berdiri sendiri dengan area tunggal. Membangun kawasan wisata harus dilakukan secara terintegrasi dengan semua kawasan yang punya potensi.

 

Sebagai lokus utama program maka masyarakat berperan sebagai subjek dan objek program, sebagai subjek masyarakat harus partisipatif dan sebagai objek warga harus terbuka menerima perubahan yang akan terjadi. Maka perubahan yang akan dilakukan harus sejalan dengan nilai-nilai yang sudah berlaku seperti nilai keagamaan, budaya dan kearifan lokal yang dianut masyarakat.

 

Sasaran berikutnya intervensi kebijakan. Meskipun proses pembangunan dilakukan dengan melibatkan banyak pihak, namun demikian tanggung jawab utama pelaksana pembangunan ada di pundak pemerintah. Maka diperlukan usaha secara sistematis agar kegiatan membangun kawasan wisata bisa masuk program pemerintah, masuk dalam kebijakan pemerintah. Kebijakan (policy) berbeda dengan kebijaksanaan (wisdom/kearifan). Kebijakan adalah prinsip atau cara bertindak yang dipilih untuk mengarahkan pengambilan keputusan. Kebijakan berorientasi pada masalah dan tindakan menyelesaikan masalah tersebut. Secara sederhana, program membangun wisata kota harus masuk dalam arah kebijakan dan program prioritas pemerintah.

Selanjutnya, strategi pelaksanaan. Strategi yang pertama adalah partisipasi. Partisipasi diperlukan untuk merumuskan masalah dan kebutuhan secara bersama guna mencari konklusi dengan melibatkan sebanyak mungkin pihak terkait agar mereka bisa memberikan peran serta secara berkelanjutan. Dalam proses ini masyarakat diarahkan untuk mampu (berdaya) dan mandiri, tidak ada eksploitasi dan dominasi. Kepemimpinan dalam proses ini bersifat fasilitatif.

 

Strategi yang kedua adalah kolaborasi. Sasaran program ini adalah masyarakat, bukan individu. Tujuan dan proses kerjanya pun bersifat kolektif. Karena itu, dalam pelaksanaannya harus dilakukan secara kolaborasi, bekerja bersama melaksanakan ide dan gagasan bersama. Membangun rasa saling pengertian dalam sebuah sistem yang kompleks serta mewujudkan tanggung jawab sesuai peran masing-masing pihak. Jadi yang ditekankan dalam kolaborasi ini adalah kebersamaan, kerja sama, berbagi tugas, saling memberi manfaat, kesetaraan dan tanggung jawab antar berbagai pihak yang terlibat untuk mencapai tujuan bersama tersebut.

Strategi yang ketiga adalah integrasi. Konsep wisata yang dibangun tidak berdiri sendiri, konsep yang dibangun harus terintegrasi baik kawasannya maupun produk pariwisatanya. Kekayaan etnik, sejarah, seni-budaya, keraton, wisata alam, kampung batik, merchandise dan semua potensi wisata dibuat desain perencanaannya secara komprehensif, terintegrasi dan berkesinambungan. Semua bagian harus link (terhubung) dan match (cocok).

 

Strategi keempat adalah bertahap dalam pelaksanaan. Pentahapan dimaksudkan untuk memudahkan pelaksanaan, membuat milestone atau roadmap menuju kondisi yang diinginkan. Adapun milestone jangka pendek meliputi tahap persiapan, soft launching (memperkenalkan konsep wisata kota), dan capacity building. Milestone jangka menengah meliputi kegiatan membatik, branding (memperkuat merek/produk batik), membuat badan usaha (Koperasi), kampanye sosial, dan intervensi kebijakan. Milestone jangka panjang meliputi produksi batik, diversifikasi produk wisata, promosi wisata dan pengembangan wisata.

 

Strategi kelima adalah berkelanjutan. Program wisata kota harus dilaksanakan secara berkesinambungan oleh pemerintah dan stakeholder lainnya di berbagai jenjang. Secara konsep, pembangunan berkelanjutan mencakup 3 hal yakni aspek ekonomi, sosial dan budaya. Aspek sosial mempunyai arti bahwa pembangunan berkelanjutan berpusat pada manusia dalam hal interaksi, interelasi dan interdependensi. Aspek ekonomi mempunyai arti kegiatan yang dilakukan secara sistematis dan terencana dalam kerangka peningkatan kesejahteraan, kualitas kehidupan dan lingkungan. Aspek budaya dimaksudkan untuk menjaga keberlangsungan budaya dan pengakuan terhadap keanekaragaman budaya. Dalam konteks ini maka pengembangan wisata, kampung batik mengambil tema batik ramah lingkungan.

Tentu saja desain maupun strategi membangun wisata kota dan pemberdayaan di atas adalah argumentasi yang debatable. Meski demikian, upaya konkret melaksanakan gagasan itu sudah dimulai. Semoga bisa terwujud.(*/asa)

 

*) Penulis adalah Lurah Tanjung Redeb.


BACA JUGA

Senin, 27 Mei 2019 14:24

Kenangan Ramadan

ANDAI waktu bisa diputar kembali, akan muncul masa-masa indah. Kenangan…

Minggu, 26 Mei 2019 14:12

Saring sebelum Share

PENGGUNA media sosial (medsos) baru saja dibuat gelisah dengan pembatasan…

Minggu, 26 Mei 2019 13:51

Tepi Jalan Rasa Mal

SEJAK lama banyak yang bertanya-tanya, mengapa Kabupaten Berau yang kini…

Sabtu, 25 Mei 2019 13:08

Jangan Takut Kehabisan

SEMUA konsentrasi jelang Lebaran. Juga angkutan kapal laut maupun Kapal…

Jumat, 24 Mei 2019 14:23

Menangis Dalam Hati

  ADA banyak infrastruktur yang ditinggalkan, pasca kegiatan penambangan batu…

Rabu, 22 Mei 2019 15:10

Tumpeng untuk Senior

RASANYA baru kemarin. Balita itu kini beranjak, dan memasuki masa…

Selasa, 21 Mei 2019 16:19

Pak Ali Memang Jooss

ENTAH kapan dimulainya berjualan dengan menggunakan kendaraan (Food Car). Di…

Senin, 20 Mei 2019 14:06

Tak Memenuhi Syarat

BULAN puasa, saatnya menjaring pahala sebanyak-banyaknya. Bukan hanya pada siang…

Sabtu, 18 Mei 2019 13:56

Penukaran Uang

BUKAN jadi persoalan yang muncul belakangan. Sejak awal dibukanya Pasar…

Jumat, 17 Mei 2019 14:23

Isyarat Jempol Diana

BUKAN hanya beban puncak pemakaian listrik maupun air bersih yang…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .
*