MANAGED BY:
SENIN
27 MEI
UTAMA | SANGGAM | PEMERINTAHAN | PARLEMENTARIA | EKONOMI | ALL SPORT | KOMBIS
Senin, 13 Mei 2019 14:54
Bumbu Coto Makassar
RUTE LAMA: Sejumlah wisatawan asal Jerman, harus melalui Bandara Kalimarau sebelum bertolak ke Balikpapan dan balik ke negaranya, Sabtu (11/5). Tak lagi bisa terbang langsung dari dari Maratua ke Balikpapan.

PROKAL.CO, BANYAK orang merasa bangga, ketika perusahaan penerbangan membuka rute langsung ke pulau wisata Maratua. Hal tersebut, sebagai betuk kontribusi perusahaan dalam memajukan pariwisata di daerah. Tapi, semangat itu kadang menjadi kendor, ketika bicara terkait bisnis.

Mengunjungi bandara Kalimarau sudah sejak lama saya lakukan. Kadang datang, hanya sekadar menyapa para potter yang juga menjadi teman saya. Menyapa Pak Panjul, menyapa Pak Slamet juga Pak Dian, potter yang sudah lama saya kenal.  Juga teman teman sopir taksi bandara. Rasanya nikmat sekali, bila bisa saling menyapa.

Di saat saya berada di bandara, ada insiden kecil. Saya pikir, para sopir taksi sedang mogok kerja melayani penumpang. Ternyata, ada kendaraan yang disinyalir bukan dari orgaisasi taksi bandara. Pemilik kendaraan diingatkan, agar tidak menjemput. Apalagi situasi sekarang, penurunan penumpang sangat dirasakan para sopir taksi bandara.

Saya bukan menginvestigasi situasi itu.  Sebetulnya saya ke bandara untuk menjemput kiriman. Saya tahu, jadwal tiba penerbangan dari Balikpapan sekitar jam 15.30 Wita. Saya datang ke Kalimarau terlalu cepat. Makanya, banyak waktu untuk berkeliling. Setelah jumpa para potter, saya lanjut dulu ke Teluk Bayur.

Beda dengan tahun-tahun sebelumnya. Di Teluk Bayur, tak ada yang mengorganisir kesibukan pasar Ramadan. Yang ada di kawasan sekitar pasar saja. Yang ditawarkan juga sama dengan takjil yang ada di Tanjung Redeb. Jenisnya saja yang sedikit.

Saya ingat tahun lalu, di sekitar rumah biliar, ada yang menjual sup tulang (hehe, jadi ingat sup tulang di rumah Pak Wabup). Nampaknya tak jualan lagi.

Saya hanya belanja takjil untuk saya antarkan ke mesjid dekat rumah saya. Sayapun lanjut untuk berbalik arah ke bandara. Menunggu pesawat Sriwijaya tiba. Di depan SMA 2 Rinding, ada penjual kelapa muda. Hari keempat Ramadan, belum pernah merasakan segarnya kelapa muda yang dicampur dengan sirup merek DHT. Sirup yang pabriknya di Makassar itu.

Saat kembali lagi ke bandara itulah, saya jumpa kru pengelola resor di Maratua.  Saya kenal baik. Dia sedang mengantarkan 10 orang wisatawan asal Jerman, yang selesai berwisata di Maratua. Lho, kan selama ini wisatawan asal Jerman yang menginap di resor itu, difasilitasi dengan pesawat carter dari Balikpapan ke Maratua.

Ternyata sejak dua hari sebelum Ramadan, kontrak dengan penerbangan belum menemukan titik harga yang cocok untuk kontrak pengangkutan. Katanya sih, harganya lebih besar dari sebelumnya. Mungkin perusahaan juga merasa tak cocok dengan hitung-hitungan biaya. Sejak 4 Mei lalu, terhenti. Artinya, pesawat itu tak lagi terbang dari Balikpapan menuju Maratua, yang jadwalnya setiap hari Sabtu.

Cukup lama tak jumpa dengan Pak Tarkam, sehingga saya tidak pernah mengupdate lagi perkembangan situasi kunjungan wisata ke Pulau Maratua, khususnya ke resor yang dikelola Pak Tarkam itu. Rute lama akhirnya dijalani lagi. Wisatawan yang datang dan akan kembali, harus melewati Kalimarau. Resor juga harus melakukan reskedul, agar semua tamu bisa datang dengan cepat tiba di pulau.

Kalau sejak tanggal 4 Mei lalu, berarti baru dua kali penerbangan yang tidak melewati bandara Maratua. Ini kan bisnis, kata saya dalam hati. Perusahaan penerbangan dan resor, pasti akan terus melakukan negosiasi, hingga ketemu harga yang saling menguntungkan. Saya hanya berdoa yang terbaik.

Lagi-lagi saya harus menemui Pak Panjul. Sebab, nomor resi bagasi barang ada ditangannya. Saya minta tolong agar bisa menghandle paket kiriman saya itu. Harus saya terima hari itu juga. Tak bisa bermalam. Bisa rusak. Tak salah kalau Pak Panjul bertanya, apa isi paket yang sampai  saya harus datang sendiri menjemputnya. “Bumbu Coto Makassar,” kata saya ke Pak Panjul sambil berbisik.

Iya saya memang pesan bumbu coto dari salah satu penjual coto yang terkenal di Makassar. Warung Coto Daeng Tayang.  Alamatnya di Jalan Sultan Hasanuddin, Makassar. Warung ini menjual bumbu sekaligus dapat bonus sambelnya yang enak itu. (*/udi)

 


BACA JUGA

Senin, 27 Mei 2019 14:24

Kenangan Ramadan

ANDAI waktu bisa diputar kembali, akan muncul masa-masa indah. Kenangan…

Minggu, 26 Mei 2019 14:12

Saring sebelum Share

PENGGUNA media sosial (medsos) baru saja dibuat gelisah dengan pembatasan…

Minggu, 26 Mei 2019 13:51

Tepi Jalan Rasa Mal

SEJAK lama banyak yang bertanya-tanya, mengapa Kabupaten Berau yang kini…

Sabtu, 25 Mei 2019 13:08

Jangan Takut Kehabisan

SEMUA konsentrasi jelang Lebaran. Juga angkutan kapal laut maupun Kapal…

Jumat, 24 Mei 2019 14:23

Menangis Dalam Hati

  ADA banyak infrastruktur yang ditinggalkan, pasca kegiatan penambangan batu…

Rabu, 22 Mei 2019 15:10

Tumpeng untuk Senior

RASANYA baru kemarin. Balita itu kini beranjak, dan memasuki masa…

Selasa, 21 Mei 2019 16:19

Pak Ali Memang Jooss

ENTAH kapan dimulainya berjualan dengan menggunakan kendaraan (Food Car). Di…

Senin, 20 Mei 2019 14:06

Tak Memenuhi Syarat

BULAN puasa, saatnya menjaring pahala sebanyak-banyaknya. Bukan hanya pada siang…

Sabtu, 18 Mei 2019 13:56

Penukaran Uang

BUKAN jadi persoalan yang muncul belakangan. Sejak awal dibukanya Pasar…

Jumat, 17 Mei 2019 14:23

Isyarat Jempol Diana

BUKAN hanya beban puncak pemakaian listrik maupun air bersih yang…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .
*