MANAGED BY:
RABU
26 JUNI
UTAMA | SANGGAM | PEMERINTAHAN | PARLEMENTARIA | EKONOMI | ALL SPORT | KOMBIS
Selasa, 21 Mei 2019 16:19
Pak Ali Memang Jooss
MENURUN: Penulis saat berada di tempat berjualan Pak Ali di Jalan Pulau Derawan. Selama puasa, omzet Nasi Peccel Jooss milik Pak Ali mengalami sedikit penurunan.

PROKAL.CO, ENTAH kapan dimulainya berjualan dengan menggunakan kendaraan (Food Car). Di sepanjang Jalan Pulau Derawan, pedagang yang berjualan menggunakan mobil jumlahnya lumayan banyak. Menariknya, yang dijajakan juga menunya berbeda.

Teringat dengan teman saya Erson Susanto. Dia saya sebut pelopor menjajakan menu khas daerah ‘Ancur Paddas’ yang berjualan menggunakan mobil. Ia seorang pegawai negeri sipil (PNS), yang memanfaatkan waktu liburnya untuk berjualan di hari Sabtu dan Minggu. Sabtu (18/5) lalu, Erson saya lihat berjualan di sekitar kantor Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Berau.

Pada hari ke-12 Ramadan itu, saya tiba-tiba teringat dengan salah satu Food Car yang ada di Jalan Pulau Derawan. Menggunakan kendaraan kecil, menempati tepi jalan tak jauh dari Masjid Raya. Peminatnya lumayan banyak.

Kalau berjalan dari simpang empat Pelabuhan Teratai, konsumen tinggal memilih. Food Car berjejeran di sebelah kanan jalan. Ada yang spesial menawarkan bakwan. Ada masakan khas Banjar, dengan nasi kuning dan lontong sayur. Tinggal pilih sesuai selera.

Beberapa waktu lalu sebelum puasa, saya juga pernah menikmati salah satu menu idola saya. Hehe, nasi pecel. Waktu itu, sudah lewat jam makan malam. Tak masalah, porsinya saja yang dikurangi. Nasi Pecel dan empal daging. Dulu, rumah makan Pantai Losari, populer dengan nasi pecel empal daging. Belakangan, empal daging berganti dengan ayam goreng.

Teringat itulah, sehingga usai salat Tarawih, saya mengunjungi lagi Food Car yang menjual nasi pecel. Dari rumah, memang saya hanya mau pesan nasi pecel dengan lauk empal daging. Padahal, banyak tawaran yang bisa dipilih pemesan. Ada hati ayam, ada perkedel jagung, macam-macam.

Mudah-mudahan tidak pedas. Makanya saya pesan nasinya yang tidak banyak. Pecel juga tidak terlalu banyak. Kalau empal daging boleh banyak, tapi pasti harganya beda. Saya berdua dengan teman yang sering saya ajak, keliling mencari tempat untuk makan sekaligus buat catatan.

Kalau lebih asyik menikmati nasi pecel di atas kendaraan, bisa saja. Tapi, saya memilih lesehan di dekat trotoar. Rupanya pemilik rumah tempat Food Car parkir di depannya juga berbaik hati, memberikan tempat untuk beberapa meja dengan menggunakan halaman rumah yang tak luas itu. Pemilik rumah kebetulan saya kenal, tapi malam ketika saya datang tak terlihat. Padahal, saya juga mau pesan es kacang merah.

Oh iya, penjualnya bernama Pak Ali. Dia tinggal di Gunung Tabur. Berjualan sudah cukup lama, hanya berdua dengan istrinya. Ketika saya berkunjung ke tempat ini sebelum puasa lalau, sepertinya ada yang membantu. Pengakuan Pak Ali, pembantunya itu lagi pulang kampung.

Memang tak salah bila Pak Ali menggunakan nama Nasi Peccel Jooss. Mudah dikenal dan juga mudah diingat. Porsinya yang pas, juga pedasnya yang pas. Nasi Peccel Jooss ini, bisa menakar pedasnya sambel kacang dari nasi pecel. Empal dagingnya saja yang kurang kering. Tapi lumayanlah.

Di sebelah saya, dua remaja sejoli, juga asyik menikmati nasi pecel. Saya yakin, mereka pasti pelanggan tetap Nasi Peccel Jooss. Ia terlihat akrab dengan Pak Ali dan istrinya. Saya tidak ingin menegur, tak ingin mengganggu makan malam kedua remaja sejoli itu.

Saya hanya sempat berbincang sedikit dengan Pak Ali. Dia mengaku selama bulan puasa, omzetnya sedikit menurun. Biasanya, di luar Ramadan, dia menyediakan dua termos besar nasi. Hanya itu ukuran omzetnya. “Selama puasa, hanya menghabiskan satu termos,” kata Pak Ali.

Tak salah memang bila malam itu, saya bersama teman menikmati Nasi Peccel Jooss. Istri Pak Ali pandai meracik bumbu pecelnya yang tidak terlalu pedes. Ada juga rasa pedesnya, tapi masih ambang batas yang bisa saya tahan. Food Car nasi pecel yang memang jooss. Pak Ali juga jooss yang gesit melayani setiap pembeli. Ada yang ketinggalan malam itu, saya lupa pesan rempeyek. Tak apalah, lain kali saya pesan rempeyek juga. Selama menjalankan ibadah Puasa. (*/udi)

 


BACA JUGA

Selasa, 25 Juni 2019 15:22

Bekantan Kalah Pamor

MEMANG seharusnya tak ada yang gratis. Apalagi tempat yang memerlukan…

Senin, 24 Juni 2019 14:28

Sepekan, Seribu Kantong Sampah

SAMPAH menjadi salah satu persoalan besar di semua tempat wisata.…

Minggu, 23 Juni 2019 01:03

Gogos Kampung Merancang

ADA yang namanya titik lelah. Dalam perjalanan lebih dari 100…

Sabtu, 22 Juni 2019 13:19

Akhirnya Punya SIM Baru

TIGA tahun terakhir, pelayanan Surat Izin Mengemudi (SIM) tak perlu…

Jumat, 21 Juni 2019 14:46

Pantura dan Pulau Derawan

BAGI penjual makanan, memang mengalami kesulitan untuk menampilkan semua harga…

Kamis, 20 Juni 2019 12:00

Ayam Bakar Tolak Pinggang

APALAH arti sebuah nama. Itu sering terdengar. Namun soal nama…

Rabu, 19 Juni 2019 14:16

Nyaman Juga Rasanya

TERKADANG dihadapkan pada situasi yang harus memilih. Tergantung tingkat kesabaran.…

Selasa, 18 Juni 2019 19:32

Wisata Syariah di Pantai Losari

JANGAN pernah ragu bila ingin berlama-lama di sepanjang Pantai Losari,…

Senin, 17 Juni 2019 15:32

Sup Ubi Nostalgia

LOKASI tak lagi masalah. Walaupun kadang-kadang jadi pertimbangan untuk membuka…

Minggu, 16 Juni 2019 00:47

Salah Masuk Antrean

MASING-MASING daerah tentu ada satu tempat yang menjadi favorit warganya.…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .
*