MANAGED BY:
SENIN
22 JULI
UTAMA | SANGGAM | PEMERINTAHAN | PARLEMENTARIA | EKONOMI | ALL SPORT | KOMBIS
Minggu, 26 Mei 2019 13:51
Tepi Jalan Rasa Mal
TEPI JALAN: Penulis saat berada di salah satu lapak pedagang pakaian di Jalan SA Maulana. Banyak pembeli yang berbelanja untuk persiapan lebaran.

PROKAL.CO, SEJAK lama banyak yang bertanya-tanya, mengapa Kabupaten Berau yang kini berpenduduk lebih dari 200 ribu jiwa, belum juga dibangun mal. Agaknya niatan itu pasti ada. Mungkin persoalannya, adakah yang berminat untuk membangun? Itu tinggal menunggu waktu.

Saya sering membahas dengan teman-teman, soal kehadiran mal itu tadi. Tapi, kesimpulannya bahwa pemerintah daerahlah yang paling tahu. Saya juga pernah berkelakar, bahwa status Pasar Sanggam Adji Dilayas itulah yang kita tingkatkan. Bukan lagi pasar tradisional, tapi menjadi pusat perbelanjaan. Yang layanannya sekelas mal. Nantilah mungkin dibahas secara khusus, mengapa mal belum juga hadir di Tanjung Redeb, sebagai ibu kota kabupaten. Toh, ada belasan petak baru yang berada di dalam kompleks pasar.

Yang ingin saya sampaikan, bagaimana suasana menjelang lebaran. Bagaimana suasana masyarakat memenuhi kebutuhannya dalam menghadapi hari raya itu. Khususnya memenuhi kebutuhan sandangnya. Andai saja ada mal, warga pasti lebih memilih ke mal ketimbang di tempat lain. Karena tak ada, tepi jalanpun tak masalah.

Jumat (24/5) malam, saya sengaja mampir di lapak milik Pak Ali, warga yang juga sudah saya kenal lama.   Beberapa hari sebelumnya, memang sudah punya niat untuk mampir, namun suasananya masih sepi.  Kemarin malam itu, pembeli mulai ramai. Banyak ibu-ibu yang menegur saya. “Om, mau belanja jugakah,” kata seorang ibu yang saya kenal bekerja di Warung Kopi Hoky di Jalan Niaga.

Saya tersenyum sambil melihat celana jins berwarna hitam. Pemiliknya, Pak Ali, juga menyapa saya dengan sebutan Om. Saya suka sebutan itu, itulah sapaan akrab dengan banyak orang yang saya kenal.

Saya tidak mau mengganggu Pak Ali, yang sibuk melayani pembeli. Walaupun di hampir semua celana jins yang ditawarkan sudah tertera nomor ukuran.  Tapi, banyak ibu-ibu yang mencoba dengan menyesuaikan lingkar pinggangnya. Ada juga yang menggunakan ukuran leher. Saya baru tahu, ternyata ukuran leher sama dengan ukuran pinggul.

Hampir setiap menjelang lebaran, atau sekitar 10 hari jelang Hari Raya, Pak Ali sudah mencarter tempat itu untuk jualan. Rasanya sudah 5 tahun terakhir. Tempatnya strategis. Tepi Jalan SA Maulana. Tempatnya terang, antara penerang jalan dan lampu khusus yang dipasang oleh Pak Ali.

Ada 5 orang yang dilibatkan Pak Ali untuk membantunya. Lahan yang digunakan tidaklah luas. Pemilik lahan ternyata berbaik hati, memberikan keleluasaan pada Pak Ali untuk berjualan. Mungkin juga tidak gratis.

Omzetnya pastilah besar. Setahu saya, Pak Ali ini juga punya petak jaualan di Pasar Sanggam Adji Dilayas. Kebaikan Pak Ali yang memilih mendekati konsumen. Daripada harus ke Pasar Sanggam Adi Dilayas pada malam hari. Saya tidak bertanya berapa harga jualnya. Saya hanya memperkirakan, sangat terjangkau.

Saya hanya bisik-bisik dengan salah seorang pembantunya, darimana asal celana jins yang dijual itu. “Rasanya dari Surabaya,Om,” kata salah satu pembantunya yang juga ikut-ikut menyapa saya Om. Besok-besok bisa berubah panggilan. Bukan lagi Daeng Sikra tapi Om Sikra. Hehehe.

Semua tentu bahagia, melihat antusiasme masyarakat berbelanja memenuhi salah satu kebutuhan Hari Raya Idulfitri. Termasuk saya, yang sangat bahagia. Saya ingat dulu, ketika masih berusia SMA, belum ada penjual celana jadi. Sehingga jelang lebaran, harus ke tukang jahit. Kadang-kadang, lebaran sudah lewat, jahitan celana belum selesai. Ya, lebaran pakai celana sekolah.

Bukan juga karena daya beli masyarakat rendah, karena lebih memilih jualan lapak dipinggir jalan. Andai saja ada mal, mereka juga pasti mengunjuni mal.  Masyarakat memang sudah mempersiapkan diri menghadapai lebaran. Mereka punya uang untuk berbelanja. Tak perduli walau berbelanja di pinggir jalan.

Dan, pada saat lebaran tiba. Saya dan banyak orang tak kenal lagi, bahwa celana atau baju yang dikenakan itu belinya di lapak tepi jalan. Saya sendiri sering berbelanja di tepi jalan. Bahkan, belanja celana jins yang dijual loakan atau celana bekas, Roma alias Rombengan Malaysia. Yang lokasinya hanya 100 meter di depan rumah saya. Tepi jalan, tapi rasa mal. Selama Menjalankan Ibadah Puasa. (*/udi)

 


BACA JUGA

Minggu, 21 Juli 2019 14:29

Di Maratua Ia Bisa Menabung

CHEF De Cuisine atau sering disebut Chef, memiliki peran penting…

Sabtu, 20 Juli 2019 15:56

Berharap Hujan Turun

DI pulau yang tanahnya adalah batu karang, mendapatkan air tawar…

Jumat, 19 Juli 2019 14:16

Gaji Pegawai Aman

SEBAGAI pulau terdepan, Pulau Maratua, juga pernah mengalami masa sulit.…

Kamis, 18 Juli 2019 14:11

Teras Nusantara di Maratua

SEBAGAI pulau terdepan yang berbatasan dengan wilayah Malaysia Timur dan Filipina,…

Rabu, 17 Juli 2019 13:52

Diabadikan Jadi Nama Jalan

BULAN Juli, harusnya masuk musim pancaroba. Setidaknya bisa menikmati perjalanan…

Selasa, 16 Juli 2019 12:57

Minyak Kelapa Titipan Pak Ronal

DIKENAL sebagai kampung Nyiur Melambai, harusnya Kecamatan Bidukbiduk punya produk…

Senin, 15 Juli 2019 15:40

Cek Kesehatan di Jakarta

MASIH ingat Rakhmadi (26). Pemuda yang memiliki tinggi badan 2,20…

Minggu, 14 Juli 2019 12:43

Pagi Ini, Sarapan di Mana?

HARI libur Minggu (14/7), banyak warga yang memilih menikmati suasana…

Sabtu, 13 Juli 2019 13:43

Om Bat, Apa Kabar?

SEKECIL apapun bentuk kontribusi dalam proses pembangunan di daerah, akan…

Jumat, 12 Juli 2019 10:48

Sim Salabim, Perilaku Anak Jadi Semakin Manis

* ) Hipnoterapis/Komisaris Berau Post Beberapa waktu lalu, salah satu…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia.
*