MANAGED BY:
SELASA
25 JUNI
UTAMA | SANGGAM | PEMERINTAHAN | PARLEMENTARIA | EKONOMI | ALL SPORT | KOMBIS
Senin, 10 Juni 2019 14:35
Merantau di Kampung Sendiri
MI TITI: Salah satu kuliner di Makassar yang banyak digemari. Penulis, saat menikmati sepiring Mi Titi di Jalan Datu Museng, Makassar.

PROKAL.CO, class="MsoNormal">BAGI banyak orang, merantau tentu sebagai hal yang mengasyikkan. Bahkan, rela pergi ketempat yang sangat jauh. Ada yang hanya bersekolah, bekerja, bersekolah lalu bekerja. Tapi, ada suasana kerinduan yang memaksa kita harus pulang.

Beberapa hari menjelang lebaran, muncullah pertanyaan itu. Lebaran di mana? Di Berau atau pulang kampung (Pulkam). Bagi yang belum mengagendakan, tentu repot menjawabnya. Banyak orang yang sudah sejak jauh hari mempersiapkannya. Bahkan, ada yang beberapa bulan sebelumnya.

Saya selalu pulkam pada puncak lebaran. Biar bisa jumpa dengan teman-teman dulu, baru berangkat.  Itu pun saya lakukan tahun ini. Sempat goyah juga. Apalagi bila melihat daftar harga tiket. Tahun lalu tidak sedahsyat sekarang harganya. Rata di hampir semua penerbangan. Mau mikirin harga atau mau pulkam.

Menumpang pesawat Sriwijaya tak serasa Garuda. Setelah bergabung, rute ke Makassar kayaknya diserahkan kepada Sriwijaya. Ada satu orang pramugarinya yang menggunakan kostum warna oranye. Mirip kostum awak Garuda.

Ada yang membuat saya tersenyum. Ketika mendarat, dan pramugari mengumumkan bahwa telah mendarat. Sang pramugari, menyelipkan bahasa daerah (Makassar). Haha, tentu tidak sefasih, kalau saya yang mengucapkannya. Yang artinya, baru mendarat di Bandara Hasanuddin, Kabupaten Maros. Asyik juga mendengarnya. Tentu yang paham artinya. Akan saya usulkan juga, sebelum mendarat di Kalimarau, Berau perlu juga berbahasa Banua.

Bandara Hasanuddin di hari pertama lebaran, masih lengang. Di bandara ini pula, saya jumpa beberapa teman dari Berau yang sama-sama pulkam lebaran. Jumpa Pak Manyu, yang sering jualan kopi di Pasar. Ada juga teman dari Pemkab yang akan melanjutkan ke Kabupaten Pinrang. Pastilah tiba lewat tengah malam. Tak peduli, semangat pulkam lebih besar dari segalanya.

Saya ingat lebaran tahun lalu saya jumpa dengan Pak Wagub Kaltim, Pak Hadi. Beliau juga berlebaran di hari pertama. Tibanya juga malam hari. Beliau dijemput, langsung melanjutkan perjalanan ke Kabupaten Bulukumba. Kami sempat foto bareng.

Saat lebaran, ternyata Makassar mirip Jakarta. Jalan-jalan sepi. Perempatan jalan keluar bandara biasanya macet total, juga ketika melaju di jalan Tol. Banyak juga yang Pulkam. Kan kebetulan pegawai masih libur.

Yang saya pikirkan sebelum tiba, apakah di hari pertama lebaran ini ada warung makan yang buka. Saya membayangkan warung coto, warung konro, sop ubi ataupun kedai yang bisa mengganjal perut. Maklum, saat berangkat belum sempat makan buras dan opor ayam yang banyak.

Ketika melewati jalan sekitar Pantai Losari, ternyata dugaan saya keliru. Banyak warung yang buka di malam hari pertama lebaran. Bakso Nusantara sesaknya luar biasa. Penjual Nyuk Nyang (Bakso) yang lainnya juga antrean panjang. Bakso Aty Radja apalagi. Perut saya yang lapar, agaknya tak kuat kalau hanya Nyuk Nyang alias Bakso. Butuh yang sedikit kelas berat.

Jalan sekitar pantai Losari, ternyata ada perubahan arus. Ini informasi yang saya belum tahu sebelumnya. Harus berputar arah, tak jauh dari kediaman Pak Wapres Jusuf Kalla. Asyik juga, jalan jadi lancar. Terus, kalau mutar terus, kapan makannya.

Setelah gagal makan Nyuk Nyang, mencoba berbelok ke arah Jalan Datu Museng. Saya ingat, di sekitar itu ada rumah makan Mi Titi. Berseberangan dengan Rumah Makan Lae Lae. Ok, mi Titi juga tak masalah. Antara makan berat dan ringan. Akhirnya, saya memesan nasi goreng merah. Memang warnanya merah menggoda. Khas rasanya.

Memang harus sering-sering Pulkam. Biar tahu, di mana penjual bakso yang enak. Di mana ikan bakar yang asyik. Di mana penjual sop ubi yang melegenda itu. Kalau tidak, ya itu tadi. Saya tak tahu, kalau ada perubahan arus jalan. Mungkin sudah terlalu lama meninggalkan Makassar, sehingga bila kembali rasanya merantau di kampung sendiri. (*/sam)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

MPS UNTUK BERAU POST

MI TITI: Salah satu kuliner di Makassar yang banyak digemari. Penulis, saat menikmati sepiring Mi Titi di Jalan Datu Museng, Makassar.

 

Daeng Sikra

Merantau di Kampung Sendiri

BAGI banyak orang, merantau tentu sebagai hal yang mengasyikkan. Bahkan, rela pergi ketempat yang sangat jauh. Ada yang hanya bersekolah, bekerja, bersekolah lalu bekerja. Tapi, ada suasana kerinduan yang memaksa kita harus pulang.

Beberapa hari menjelang lebaran, muncullah pertanyaan itu. Lebaran di mana? Di Berau atau pulang kampung (Pulkam). Bagi yang belum mengagendakan, tentu repot menjawabnya. Banyak orang yang sudah sejak jauh hari mempersiapkannya. Bahkan, ada yang beberapa bulan sebelumnya.

Saya selalu pulkam pada puncak lebaran. Biar bisa jumpa dengan teman-teman dulu, baru berangkat.  Itu pun saya lakukan tahun ini. Sempat goyah juga. Apalagi bila melihat daftar harga tiket. Tahun lalu tidak sedahsyat sekarang harganya. Rata di hampir semua penerbangan. Mau mikirin harga atau mau pulkam.

Menumpang pesawat Sriwijaya tak serasa Garuda. Setelah bergabung, rute ke Makassar kayaknya diserahkan kepada Sriwijaya. Ada satu orang pramugarinya yang menggunakan kostum warna oranye. Mirip kostum awak Garuda.

Ada yang membuat saya tersenyum. Ketika mendarat, dan pramugari mengumumkan bahwa telah mendarat. Sang pramugari, menyelipkan bahasa daerah (Makassar). Haha, tentu tidak sefasih, kalau saya yang mengucapkannya. Yang artinya, baru mendarat di Bandara Hasanuddin, Kabupaten Maros. Asyik juga mendengarnya. Tentu yang paham artinya. Akan saya usulkan juga, sebelum mendarat di Kalimarau, Berau perlu juga berbahasa Banua.

Bandara Hasanuddin di hari pertama lebaran, masih lengang. Di bandara ini pula, saya jumpa beberapa teman dari Berau yang sama-sama pulkam lebaran. Jumpa Pak Manyu, yang sering jualan kopi di Pasar. Ada juga teman dari Pemkab yang akan melanjutkan ke Kabupaten Pinrang. Pastilah tiba lewat tengah malam. Tak peduli, semangat pulkam lebih besar dari segalanya.

Saya ingat lebaran tahun lalu saya jumpa dengan Pak Wagub Kaltim, Pak Hadi. Beliau juga berlebaran di hari pertama. Tibanya juga malam hari. Beliau dijemput, langsung melanjutkan perjalanan ke Kabupaten Bulukumba. Kami sempat foto bareng.

Saat lebaran, ternyata Makassar mirip Jakarta. Jalan-jalan sepi. Perempatan jalan keluar bandara biasanya macet total, juga ketika melaju di jalan Tol. Banyak juga yang Pulkam. Kan kebetulan pegawai masih libur.

Yang saya pikirkan sebelum tiba, apakah di hari pertama lebaran ini ada warung makan yang buka. Saya membayangkan warung coto, warung konro, sop ubi ataupun kedai yang bisa mengganjal perut. Maklum, saat berangkat belum sempat makan buras dan opor ayam yang banyak.

Ketika melewati jalan sekitar Pantai Losari, ternyata dugaan saya keliru. Banyak warung yang buka di malam hari pertama lebaran. Bakso Nusantara sesaknya luar biasa. Penjual Nyuk Nyang (Bakso) yang lainnya juga antrean panjang. Bakso Aty Radja apalagi. Perut saya yang lapar, agaknya tak kuat kalau hanya Nyuk Nyang alias Bakso. Butuh yang sedikit kelas berat.

Jalan sekitar pantai Losari, ternyata ada perubahan arus. Ini informasi yang saya belum tahu sebelumnya. Harus berputar arah, tak jauh dari kediaman Pak Wapres Jusuf Kalla. Asyik juga, jalan jadi lancar. Terus, kalau mutar terus, kapan makannya.

Setelah gagal makan Nyuk Nyang, mencoba berbelok ke arah Jalan Datu Museng. Saya ingat, di sekitar itu ada rumah makan Mi Titi. Berseberangan dengan Rumah Makan Lae Lae. Ok, mi Titi juga tak masalah. Antara makan berat dan ringan. Akhirnya, saya memesan nasi goreng merah. Memang warnanya merah menggoda. Khas rasanya.

Memang harus sering-sering Pulkam. Biar tahu, di mana penjual bakso yang enak. Di mana ikan bakar yang asyik. Di mana penjual sop ubi yang melegenda itu. Kalau tidak, ya itu tadi. Saya tak tahu, kalau ada perubahan arus jalan. Mungkin sudah terlalu lama meninggalkan Makassar, sehingga bila kembali rasanya merantau di kampung sendiri. (*/sam)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


BACA JUGA

Minggu, 23 Juni 2019 01:03

Gogos Kampung Merancang

ADA yang namanya titik lelah. Dalam perjalanan lebih dari 100…

Sabtu, 22 Juni 2019 13:19

Akhirnya Punya SIM Baru

TIGA tahun terakhir, pelayanan Surat Izin Mengemudi (SIM) tak perlu…

Jumat, 21 Juni 2019 14:46

Pantura dan Pulau Derawan

BAGI penjual makanan, memang mengalami kesulitan untuk menampilkan semua harga…

Kamis, 20 Juni 2019 12:00

Ayam Bakar Tolak Pinggang

APALAH arti sebuah nama. Itu sering terdengar. Namun soal nama…

Rabu, 19 Juni 2019 14:16

Nyaman Juga Rasanya

TERKADANG dihadapkan pada situasi yang harus memilih. Tergantung tingkat kesabaran.…

Selasa, 18 Juni 2019 19:32

Wisata Syariah di Pantai Losari

JANGAN pernah ragu bila ingin berlama-lama di sepanjang Pantai Losari,…

Senin, 17 Juni 2019 15:32

Sup Ubi Nostalgia

LOKASI tak lagi masalah. Walaupun kadang-kadang jadi pertimbangan untuk membuka…

Minggu, 16 Juni 2019 00:47

Salah Masuk Antrean

MASING-MASING daerah tentu ada satu tempat yang menjadi favorit warganya.…

Sabtu, 15 Juni 2019 00:12

Tertolong Poin Garuda

PULANG kampung jadi repot ketika akan pulang. Tidak tahu, kalau…

Jumat, 14 Juni 2019 16:08

Satu Harga Tiga Rasa

TAK susah untuk menikmati Pisang Epe alias pisang gapit. Datang…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .
*