MANAGED BY:
RABU
17 JULI
UTAMA | SANGGAM | PEMERINTAHAN | PARLEMENTARIA | EKONOMI | ALL SPORT | KOMBIS
Kamis, 20 Juni 2019 12:00
Ayam Bakar Tolak Pinggang
GO INTERNATIONAL: Penulis bersama pemilik warung Coto Makassar, Hasan Daeng Tayang.

PROKAL.CO, APALAH arti sebuah nama. Itu sering terdengar. Namun soal nama memang perlu sedikit perhatian. Terutama dalam memberi nama produk makanan. Salah memberikan nama, makanan tak laku di pasaran.  Sebaliknya, nama kadang-kadang juga membawa keberuntungan.

Saat bermain di Mal Transtudio, Makassar, saya pernah melihat gerai yang menjual makanan yang menurut saya asing. Padahal masakan itu berasal dari kampung saya. Saat liburan lalu, saya kembali ke mal milik Chairul Tanjung tersebut. Saya melihat kawasan jajanan itu sedang direnovasi.  Waduh, pindah ke mana yaaa.

Saya dapat informasi di lantai dasar ada yang menjajakan ubi goreng. Rasanya enak, apalagi sambalnya. Sama dengan sambal yang disajikan penjual sarabba yang ada di Jalan AKB Sanipah depan kantor Lurah Bugis. Saat menikmati ubi goreng itulah, terlihat gerai Ayam Tolak Pinggang  (Tolping) di lantai dasar mal tersebut.

Saya tertarik bukan Tolpingnya, tapi nama khas daerahnya Bontonompo, kampung saya. Semakin lengkaplah sebutan merantau di kampung sendiri. Sebab, ternyata ada masakan khas yang begitu terkenal, tapi baru saya tahu. Saya konsentrasi menikmati ubi goreng.

Tak lagi mengingat ayam bakar Tolping, saya harus mengunjungi warung Coto Makassar di Jalan Sultan Hasanuddin. Di tempat ini, salah satu warung coto favorit di Makassar. Karena coto yang sudah jadi sulit dibawa pulang sebagai oleh-oleh, pemiliknya Hasan Daeng tayang juga menawarkan bumbunya. Saya berencana kalau pulang, mau bawa bumbu coto. Nanti dinikmati bersama teman-teman di Berau.

Kebetulan saya jumpa Daeng Tayang.  Saya tertarik dengan tulisan di spanduk kecil ‘Makanan Khas Kota Makassar’ Coto Makassar Goes top Europe-Belanda-Perancis. Hebat juga, coto Makassar bisa menembus International. Saya lalu tertarik membahas bagaimana ceritanya bisa ke Belanda.

Dengan senang hati, Daeng Tayang bercerita perjalanan tersebut. Bahwa saat bulan puasa lalu, ia mendapat kunjungan dari Dinas Perindustrian. Ia diajak ikut salah satu pameran besar di Belanda. Kalau tidak salah, Festival Tong Tong. Ia ditanggung tiket ke Belanda. Karena hanya dapat satu tiket, ia pun mengajak anaknya dengan biaya sendiri.

Awalnya Daeng tayang bingung bagaimana membawa ketupatnya. Sementara untuk bumbu tidak repot, bisa bertahan beberapa jam dalam kondisi beku. “Karena tak ada ketupat, makannya bersama nasi putih,” kata Daeng Tayang. Setibanya di Belanda, diawali dengan acara buka puasa bersama di kantor kedubes RI di Belanda. Menunya coto Daeng Tayang. 

Lama juga saya berbincang dengan Daeng Tayang. Saya pun pesan 5 kilogram bumbu untuk saya bawa pulang. Nanti, sehari sebelum keberangkatan, saya akan kembali lagi mengambilnya. Termasuk bonus sambal yang menjadi kunci rasa enak dari coto tersebut. Teman-teman di Berau juga bertanya-tanya kapan pulang. Kapan bisa makan coto.

Ada telepon dari Sekretaris Camat Kecamatan Bontonompo yang mengundang saya untuk makan siang di rumahnya. Ia sudah menyediakan 5 porsi ayam bakar Tolping. Saya pikir ini kesempatan, biar bisa menikmati seperti apa rasa ayam bakar Tolping itu. Tapi, perjalanan ke kampung lumayan jauh. Pulang, bisa lapar lagi.

Ternyata jadwal makan siang pun diralat. Ayam bakar Tolpingnya akan dibawa ke Makassar saja. Sebab, malam harinya akan menghadiri pesta pernikahan di salah satu gedung di Makassar. Dan memang benar. Sekitar Pukul 20.00 Wita, Pak Sekcam datang ke rumah dengan 5 porsi ayam Tolping.

Saya senyum-senyum saat memperhatikan ayam yang sudah dibakar itu dengan gaya tolak pinggang. Rupanya itu yang menjadi merek. Ayam muda utuh tanpa kepala dibakar dengan bumbu khas. Dagingnya empuk karena dikukus terlebih dahulu. Ternyata ini yang namanya Ayam Bakar Tolak Pinggang alias Tolping. Memang dibentuk dengan gaya bertolak pinggang. Enak tawwa (memang enak).

 

Nanti kalau pulang ke Berau akan saya praktikkan. Lidah saya bisa merinci bumbu yang diperlukan. Saya juga akan mengajak teman untuk menikmati. Nanti saya berinama baru Ayam Bakar ‘ Kacak Pinggang’ olahan Daeng Sikra. Hahahaha.(*/asa)


BACA JUGA

Selasa, 16 Juli 2019 12:57

Minyak Kelapa Titipan Pak Ronal

DIKENAL sebagai kampung Nyiur Melambai, harusnya Kecamatan Bidukbiduk punya produk…

Senin, 15 Juli 2019 15:40

Cek Kesehatan di Jakarta

MASIH ingat Rakhmadi (26). Pemuda yang memiliki tinggi badan 2,20…

Minggu, 14 Juli 2019 12:43

Pagi Ini, Sarapan di Mana?

HARI libur Minggu (14/7), banyak warga yang memilih menikmati suasana…

Sabtu, 13 Juli 2019 13:43

Om Bat, Apa Kabar?

SEKECIL apapun bentuk kontribusi dalam proses pembangunan di daerah, akan…

Jumat, 12 Juli 2019 10:48

Sim Salabim, Perilaku Anak Jadi Semakin Manis

* ) Hipnoterapis/Komisaris Berau Post Beberapa waktu lalu, salah satu…

Jumat, 12 Juli 2019 10:46

Ngopi Bareng Kapolres

TAK mesti harus membahas seputar kondisi kamtibmas di daerah, bila…

Kamis, 11 Juli 2019 14:36

Gado-Gado Udang Galah

KALAU gado-gado dengan tambahan toppingnya tahu, tempe dan telur, agaknya…

Rabu, 10 Juli 2019 13:49

Senyum Sang Manajer

BANYAK yang mendambakan untuk berada pada posisi manajer sebuah hotel.…

Selasa, 09 Juli 2019 15:07

Memahami Workshop Sebagai Teknologi Partisipasi

DALAM pengambilan keputusan, faktor yang seringkali menjadi penghambat adalah belum…

Selasa, 09 Juli 2019 15:03

‘Mini Market’ Jalan Manunggal

SEBAGAI konsumen, tentu ingin mendapatkan apa yang diperlukan dengan segera.…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia.
*