MANAGED BY:
RABU
17 JULI
UTAMA | SANGGAM | PEMERINTAHAN | PARLEMENTARIA | EKONOMI | ALL SPORT | KOMBIS
Rabu, 26 Juni 2019 11:13
Logat Jakarta Tak Terdengar Lagi
CAFE PANTAI: Penulis bersama Andy Saputra, pemilik Cafe Pantai di Tanjung Batu. Tempat ini juga bisa jadi ukuran jumlah kunjungan wisata ke Pulau Derawan.

PROKAL.CO, BERAPA jumlah pengunjung ke Pulau Derawan dan Maratua? Sulit mendapatkan angka pasti. Terlalu banyak pintu masuk. Termasuk salah satunya dari pintu dermaga di Tanjung Batu.

Jumlah rumah makan di Tanjung Batu, sekarang mulai bermunculan. Menunya tak lain ikan bakar. Kesenangan saya. Saat berkunjung ke Tanjung Batu Sabtu (22/6) lalu, saya mampir di Cafe Pantai milik Pak Andy Saputera. Ia sudah tahu, kalau Daeng Sikra datang, hanya pesan sayur, sambal dan nasi putih. Ikannya, Saya beli di tempat pengumpul di rumah Pak Darwis.

Karena hanya berdua, saya beli 3 ekor ikan gembung laki dan satu ikan putih. Ikan ini saya titip ke Pak Andy untuk dibakarkan. “Bakar polos pak Andy,” kata saya. Bakar polos itu, artinya tidak diberi minyak. Aroma amisnya lebih terasa. Ikannya pastilah dalam kondisi segar. Baru sekali mati, kata nelayan Tanjung Batu.

Saya ingat dulu, Cafe Pantai ini belum makan sudah keluar keringat. Sebab, tak ada listrik. Saat itu, listrik hanya menyala pada sore hingga pagi hari.  Siang, seluruh rumah warga tanpa listrik, kecuali menggunakan pembangkit sendiri. Di Cafe Pantai milik ini termasuk yang tak punya mesin pembangkit sendiri. Atapnya seng tanpa plafon. Ikan pesanan belum tiba di meja, tamu sudah mandi keringat.

Dulu, kata Pak Andy, selama 12 jam tanpa listrik di siang hari, penduduk tak satupun mengeluh. Sekarang, ketika layanan listrik 24 jam, padam 20 menit saja, warga sudah berteriak lampu mati. Sudah marah-marah ke PLN. Ya, begitulah situasinya.

Sekarang di Cafe Pantai, keringat keluar setelah makan. Di ruang makannya yang lesehan itu, sudah disiapkan kipas angin. Pelanggan bisa sambil berbaring menunggu menu pesanan. Bakarnya agak lambat karena masih manual.  Menggunakan kipas tangan. Kipas terbuat dari bahan tripleks, jadi kaku.

Rumah makan ini setiap akhir pekan, selalu ramai pengunjung. Saat saya datang, puluhan kendaraan berbagai nomor polisi terparkir di area lapangan terbuka. “Kendaraan ini datang sejak hari Jumat,” kata Andy. Saya sering jumpa Pak Kudarat, Camat Pulau Derawan dan tokoh masyarakat lainnya di Cafe Pantai.

Ada yang menarik dari pernyataan Pak Andy. Saya pikir-pikir juga bisa jadi narasumber terkait jumlah pengunjung. “Dulu ramai, tamu saya kalau bicara lu gue lu gue semua,” kata Andy menirukan logat Jakarta para tamunya. Sekarang gimana? Dalam beberapa bulan terakhir, diakui Pak Andy hampir tak pernah mendengar lagi logat Jakarta itu.

Yang mendominasi lebih banyak pengunjung atau wisatawan asal Kalimantan saja. “Coba lihat pelat mobil yang parkir,” kata dia. Ada pelat Kalimantan Utara, Balikpapan, Malinau dan Samarinda. “Kalau ke warung ini, mereka bahasa Indonesia logat Kalimantan. Ada juga yang bahasa Banjar, sesekali ada yang datang dan berbincang pakai bahasa Bugis” ungkap Andy sambil tertawa.

Bisa jadi karena harga tiket yang mahal, atau lebih banyak wisatawan yang datang dari luar provinsi menggunakan jasa biro perjalanan lewat Bandara Tarakan. Katanya sih lebih murah dan lebih cepat tiba di lokasi wisata.

Saya lupa memesan sambal yang tidak pedas. Cafe Pantai yang sambalnya sangat sederhana itu, enaknya luar biasa. “Pernah tamu saya minta dibuatkan sambal untuk dibawa pulang ke Jakarta,” kenang Pak Andy. Pas laparnya, saya berbagi dengan teman saya masing-masing dua ekor. Habis tak tersisa. Sayur beningnya juga nikmat dan segar. Saya harus nikmati saja rasa pedas itu. Rasa pedas Tanjung Batu beda dengan rasa pedas sambal yang pernah saya rasakan di Makassar saat pulang kampung.

Ada niatan mampir ke rumah Pak Dony, nelayan yang dikenal sebagai pengumpul Udang Lobster. Tempatnya pernah dikunjungi Menteri Perikanan Ibu Susi. Depan rumahnya sepi. Biasanya Pak Dony duduk di bawah pohon mangga depan rumah tak pakai baju. Padahal kalau jumpa, saya pasti dapat beberapa ekor lobster yang gagal kirim. Lumayan, bisa dibawa pulang. Lain waktu, saya wajib singgah di rumah Pak Dony.(*/asa)

 


BACA JUGA

Rabu, 17 Juli 2019 13:52

Diabadikan Jadi Nama Jalan

BULAN Juli, harusnya masuk musim pancaroba. Setidaknya bisa menikmati perjalanan…

Selasa, 16 Juli 2019 12:57

Minyak Kelapa Titipan Pak Ronal

DIKENAL sebagai kampung Nyiur Melambai, harusnya Kecamatan Bidukbiduk punya produk…

Senin, 15 Juli 2019 15:40

Cek Kesehatan di Jakarta

MASIH ingat Rakhmadi (26). Pemuda yang memiliki tinggi badan 2,20…

Minggu, 14 Juli 2019 12:43

Pagi Ini, Sarapan di Mana?

HARI libur Minggu (14/7), banyak warga yang memilih menikmati suasana…

Sabtu, 13 Juli 2019 13:43

Om Bat, Apa Kabar?

SEKECIL apapun bentuk kontribusi dalam proses pembangunan di daerah, akan…

Jumat, 12 Juli 2019 10:48

Sim Salabim, Perilaku Anak Jadi Semakin Manis

* ) Hipnoterapis/Komisaris Berau Post Beberapa waktu lalu, salah satu…

Jumat, 12 Juli 2019 10:46

Ngopi Bareng Kapolres

TAK mesti harus membahas seputar kondisi kamtibmas di daerah, bila…

Kamis, 11 Juli 2019 14:36

Gado-Gado Udang Galah

KALAU gado-gado dengan tambahan toppingnya tahu, tempe dan telur, agaknya…

Rabu, 10 Juli 2019 13:49

Senyum Sang Manajer

BANYAK yang mendambakan untuk berada pada posisi manajer sebuah hotel.…

Selasa, 09 Juli 2019 15:07

Memahami Workshop Sebagai Teknologi Partisipasi

DALAM pengambilan keputusan, faktor yang seringkali menjadi penghambat adalah belum…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia.
*