MANAGED BY:
KAMIS
21 OKTOBER
UTAMA | SANGGAM | PEMERINTAHAN | PARLEMENTARIA | EKONOMI | ALL SPORT | KOMBIS

UTAMA

Selasa, 09 Februari 2016 11:14
Muharram Janji Prioritaskan Infrastruktur Merabu

Kunjungan Menteri Iklim dan Lingkungan Norwegia ke Berau (4)

MENCARI SOLUSI: Rombongan berdiskusi di Balai Musyawarah Kampung, bahas soal hutan Merabu.

Puluhan ribu kilometer jarak antara Oslo dengan Berau. Suasananya pun jauh berbeda. Namun, jarak tersebut tidak menjadi penghalang bila sudah berada dalam satu ruangan. Semua melebur menjadi satu.

 

RIO TAUFIQ ADAM, Merabu

 

SEBANYAK 36 nama yang disebut untuk masuk ke balai musyawarah satu persatu terlihat bergegas. Dari jumlah tersebut, nama Vidar Helgesen, Menteri Iklim dan Lingkungan Norwegia, ini menjadi orang yang pertama dipanggil. Selanjutnya Stig Traavik, Dubes Norwegia untuk Indonesia. Termasuk Muharram dan Agus Tantomo, Bupati dan Wakil Bupati Berau terpilih, tak ketinggalan Kapolres Berau AKBP Anggie Yulianto Putro, dan lainnya menyusul.

Mereka diminta untuk mengikuti diskusi secara terbuka. Sementara tamu undangan yang lain diminta untuk menunggu di luar. Hal ini dikarenakan kapasitas balai musyawarah kampung tersebut terbatas, dan hanya mampu menampung sekitar 40 orang.

Nama-nama yang telah disebutkan diminta duduk lesehan berbentuk lingkaran. Hal ini dilakukan agar komunikasi tidak berjalan satu arah. Tri Soekirman, dan Niel Makinudin dari The Nature Conservancy (TNC) menjadi moderator sekaligus penerjemah dalam diskusi tersebut.

“Saya meminta semua duduk melingkar agar diskusi berjalan lebih santai dan tidak berjalan satu arah,” kata Tri Soekirman menggunakan bahasa Inggris kemudian bahasa Indonesia.

---------- SPLIT TEXT ----------

Demi memudahkan komunikasi, bahasa Inggris dan Indonesia diucap secara bergantian. Hal ini dilakukan agar tidak terjadi kesalahpahaman. Sehingga semua orang mampu mengerti. Anggota TNC pun dengan sigap menjadi penerjemah. Komunikasi saat itu memang berjalan bilingual atau dua bahasa.

Kepala Kampung Merabu Franly Aprilano Oley, menjadi pembicara pertama. Ia diminta untuk sedikit memberi pengantar mengenai Kampung Merabu.

Dengan seksama ia menjelaskan kondisi Merabu dengan segala isinya. Baik hutan maupun aktivitas ekonominya.

“Dahulu kami sangat bergatung pada sarang walet sebagai penghasilan. Namun, pada 2011 jumlahnya semakin berkurang dan sedikit sekali. Padahal dahulu kami warga di sini mampu memanen hingga 1,2 ton sekali panen,” ucapnya.

Franly menjelaskan mengenai masyarakat yang tidak lagi melakukan pembalakan hutan sebagai ladang sawah. Demi mendukung aktivitas ekonomi, saat ini masyarakat beternak sapi, membuat kebun karet serta bedengan sayur demi mendapat sumber makanan.

Ia juga memaparkan luas Merabu yang mencapai 22 ribu hektare. Terbagi dalam 10 ribu hektare hutan lindung dan 12 ribu hektare hutan produksi. Dari luas itu pula, ekosistem karst termasuk di dalamnya yaitu seluas 7.500 hektare.

Ini membuktikan betapa kayanya Merabu dengan segala potensi sumber daya alam (SDA) yang dimiliki. Baik kayu, sarang walet hingga perkebunan.

“Namun sayangnya, kekayaan SDA tersebut sedikit sekali dirasakan masyarakat Kampung Merabu,” keluhnya.

Dari paparan tersebut, pertanyaan mengalir. Semua orang yang berada dalam ruangan mengacungkan tangan untuk bertanya. Menteri Norwegia bahkan Muharram pun tak mau kalah.

---------- SPLIT TEXT ----------

Sebagai Bupati terpilih, Muharram menangkap benar permasalahan yang dihadapi masyarakat Merabu. Ia bahkan sedih mendengar keluhan tersebut. Muharram menyarankan agar diskusi lebih mengurucut, sehingga dapat tercipta sebuah solusi konkret untuk dikerjakan bersama.

“Ini kan sudah jauh-jauh datang dari Oslo bahkan Solo. Sayang sekali jika kesempatan ini tidak dimanfaatkan untuk mencari sama-sama solusinya. Terlebih saya yakin orang yang hadir saat ini cerdas dan memiliki banyak pengalaman semua,” saran Muharram.

Benar saja, saran tersebut ditangkap oleh seluruh pihak. Berbagai pandangan masuk. Terlebih perwakilan dari Kementrian Kehutanan dan Lingkungan RI. Masalahnya, dari berbagai paparan yang disampaikan masyarakat Merabu. Kendala yang dihadapi saat ini adalah minimnya aksesibilitas di sana.

Muharram berjanji untuk memprioritaskan pembangunan infrastruktur. Selain itu, meningkatkan ekonomi dan kesehatan. Pasalnya di Merabu hingga saat ini, belum ada pusat kesehatan masyarakat (Puskesmas). Selama ini masyarakat hanya bergantung pada obat-obatan kampung saja.

Kementerian Kehutanan dan Lingkungan RI yang diwakili Agus Justianto, staf ahli Menteri Kehutanan dan Lingkungan, akan memudahkan perizinan di tingkat kementriannya.

“Tidak ada masalah kalau izin pembangunan jalan pak. Tinggal hubungi saya saja. Pasti izinnya langsung ditandatangani oleh ibu menteri,” janji Agus Justianto.

Semua pihak bertepuk tangan. Ada kebahagiaan dan kelegaan di wajah masyarakat Merabu. “Ini namanya kekuatan partnership. Seharusnya sedari dulu rapat dan diskusi itu dilakukan langsung di tempat. Jadi semua melihat dengan mata kepalanya sendiri. Jangan hanya sekadar berbicara di hotel,” celetuk Wiratno, Direktur Jenderal Pengendalian dan Perubahan Iklim (Ditjen PPI) Kementrian Kehutanan dan Lingkungan.

---------- SPLIT TEXT ----------

Dalam diskusi tersebut. Terjadi pula kesepakatan secara lisan untuk mengembangkan Merabu menjadi pariwisata berbasis lingkungan atau eco tourism. Pasalnya, di salah satu lobang karst Merabu, terdapat bekas telapak tangan yang diperkirakan telah berumur ribuan tahun. Bekas telapak tangan itu pun telah ditetapkan United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO) sebagai warisan dunia yang dilindungi.

“Konservasi menjadi kata kunci untuk menjaga hutan dan mengembangkan Merabu lebih lanjut. Ini yang harus disepakati bersama. Sehingga tidak ada lagi perusakan hutan. Kami dari TNC siap mendapingi masyarakat di sini,” ujar Niel Makinudin.

Tak terasa, diskusi yang dimulai sejak Pukul 20.30 Wita telah berjalan selama dua jam lebih. Vidar pun terlihat lelah dan sesekali menguap. Ia bahkan telah bersandar di dinding ruangan. Beruntung dinginnya malam di Merabu dapat terobati dengan secangkir saraba yang dihidangkan oleh ibu-ibu di kampung ini.

“Karena waktu sudah semakin malam dan semua sudah terlihat lelah. Lebih baik ditutup saja diskusi ini. Semoga apa yang dibicarakan menjadi bekal ke depannya dan terpenting dapat segera direalisasikan,” tutup Niel.(*/bersambung/asa)


BACA JUGA

Kamis, 21 Oktober 2021 19:51

Waspadai Klaster Pariwisata

TANJUNG REDEB – Wisatawan asing sempat tidak diperbolehkan masuk saat…

Kamis, 21 Oktober 2021 19:48

Camat Dicecar soal Verifikasi

TANJUNG REDEB - Kejaksaan Negeri (Kejari) Berau terus mendalami dugaan…

Kamis, 21 Oktober 2021 19:43

Camat Gunung Tabur Kecewa

TANJUNG REDEB – Camat Gunung Tabur Anang Saprani, mengaku kecewa…

Rabu, 20 Oktober 2021 19:59

Di Kabupaten Berau, 106.267 Jiwa Sudah Divaksin

TANJUNG REDEB – Sebanyak 106.267 atau 57 persen masyarakat Bumi…

Rabu, 20 Oktober 2021 19:57

Masyarakat Antusias karena Banyak yang Belum Paham

Ketua DPRD Kaltim Makmur HAPK, tak henti-hentinya menyosialisasikan Peraturan Daerah…

Rabu, 20 Oktober 2021 16:09

Bidik Dugaan Tipikor ADK Giring-Giring

TANJUNG REDEB – Camat Bidukbiduk dan Kepala Kampung Giring-Giring, memenuhi…

Selasa, 19 Oktober 2021 19:40

Ahli Waris Tak Penuhi Undangan Disdik, Kasus Sekolah Disegel Tak Selesai

TANJUNG REDEB – Pemkab Berau menggelar pertemuan membahas mengenai penyegelan…

Selasa, 19 Oktober 2021 19:39

JPU Kembalikan Berkas ke Penyidik

TANJUNG REDEB - Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejaksaan Negeri (Kejari)…

Selasa, 19 Oktober 2021 19:38

Kelay Kembali Zona Kuning

TANJUNG REDEB – Setelah sempat berada di zona hijau, Kecamatan…

Senin, 18 Oktober 2021 20:01

Tingkatkan Mutu Pelayanan Kesehatan

TANJUNG REDEB – Rencana pembangunan rumah sakit (RS) tipe B…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Terverifikasi Dewan Pers