MANAGED BY:
SELASA
20 AGUSTUS
UTAMA | SANGGAM | PEMERINTAHAN | PARLEMENTARIA | EKONOMI | ALL SPORT | KOMBIS
Senin, 28 Januari 2019 13:44
Ancur Paddas Minggu Pagi
PEDULI BUDAYA: Penulis (kiri) bersama Erson, seniman yang gigih budaya daerah, juga gigih memperkenalkan kuliner khas Berau.

PROKAL.CO, SAYA ingin menyapa teman-teman Garuda Indonesia yang tugas di Berau. Selamat merayakan ulang tahun ke-70, Sabtu (26/1).  Penerbangan reguler dari dan ke Bandara Kalimarau dimulai sejak bulan Agustus 2013. Lumayan lama memberi layanan. Semoga tahun ini, pesawat jenis  Boeing NG-800 bisa masuk menggantikan jenis pesawat Bombardier CJR 1000.

Minggu (27/1) pagi, sebetulnya tidak ada janjian dengan teman-teman, utuk bersama-sama ke lapangan Pemuda. Ada apa? bukankah wilayah Car Free Day (CFD) dilaksanakan di Jalan A Yani (tepian). Janjian menemui Pak Erson Susanto, seniman muda kreatif. Di hari libur minggu, Pak Erson memilih untuk jualan bubur. Bubur khas Berau, namanya Ancur Paddas.

Sekadar catatan, bahwa Ancur Paddas, salah satu kuliner khas Kalimantan Timur. Empat yang lainnya adalah Nasi Bekepor, Gangan Asam, Gence Ruan (Kutai), Gammi Udang (Bontang) dan Ancur Paddas yang ada di Berau.

Tampilannya, mirip dengan Bubur Pedas yang ada di Kalimantan Barat. Di Pontianak, Bubur Pedas Pak Ngah yang ada di Jalan Pangeran Nata Kusuma, sangat terkenal. Bubur Pedas, bagian dari kuliner Melayu yang namanya  Bubbor Paddas.

Mungkin karena gerimis, sehingga banyak teman yang tidak datang.  Atau mereka datang setelah saya pulang. Tiba sekitar pukul 07.20 Wita, mulanya sempat bingung.  Sebab, petunjuk Pak Erson jualan di Jalan Mangga I. Infonya betul, tapi tidak menyebut posisi di dalam halaman Lapangan Pemuda.

Sudah ada sepasang keluarga yang asyik duduk melantai beralaskan tikar rotan di tribun lapangan. Sudah lebih dahulu menikmati Ancur Paddas. Ketika saya tiba, saya tidak langsung memesan  menu utamanya. Tapi, saya pesan Kopi Gula Tebu (KGT). KGT ini racikan Pak Erson. Dia tidak menggunakan gula putih atau gula coklat. Tapi, gula tebu cair.“Enak juga Pak Erson, kopinya”

“Ini kan saran bapak yang saya praktikkan” kata Erson tersenyum.

Asyik kopinya. Pas gerimis lagi. Ada Ibu Tia, yang tinggal di Jalan Manggis datang membawa rantang. Ia masih mengenakan daster berwarna merah.”Untuk sarapan keluarga di rumah,” kata Bu Tia. Ia dilayani oleh Istri Pak Erson. Sementara Pak Erson, berbincang dengan saya dan tamu yang lebih dahulu tiba. Dan, menyusul pembeli lainnya, satu persatu.

Kata Pak Erson, di Gunung Tabur dan Tanjung Redeb banyak yang bisa membuat Ancur Paddas. Bahkan di Rumah Makan Lapputa di Jalan Murjani, juga menyediakan menu ini. Memang, beda Koki beda rasa. Ada yang menggunakan sayuran kangkung. Tapi, buatan Pak Erson, bahan campurannya daun dan buah labu. Juga ada daun dan kacang panjang. Namanya Ancur Paddas, hehe tapi tidak Paddas banget.

Saya menikmati, setelah KGT sudah separoh. Saya santap pelan-pelan. Sambil membayangkan rasa apa saja yang ada dalam kandungan Ancur Paddas. Sementara topping-nya, ada bawang goreng. Nah, bahan yang satu ini memberi kekhasan rasa, yakni daging kerang tumis.  Ini yang membuat Ancur Paddas semakin menggoda rasanya.

Menurut Erson, Ancur Paddas yang menjadi kuliner khas Kalimantan Timur, memang pernah juara pada lomba masakan tingkat Provinsi. Sayangnya, karena faktor kesulitan membuatnya yang sedikit rumit, sehingga tak banyak yang menjadikan menu khusus di rumah makan. “Di Gunung Tabur, ini jadi sajian yang tak bisa ketinggalan,”kata Erson.

Pak Erson memang hebat.  Seniman yang aktif melalui sanggar yang ia pimpin. Selain memperkenalkan budaya Berau lewat kreasinya, juga terus bekerja untuk mengenalkan salah satu kuliner khas Berau. Kuliner Berau cukup beragam. Di wilayah pesisir lain lagi cita rasa dan tampilannya.  Di Derawan dan Maratua juga demikian. Di wilayah pedalaman, juga ada kuliner khas masing-masing.

Awalnya Erson menjajakan di sekitar rumahnya di Gunung Tabur.  Tapi, ia memahami, bagaimana sulitnya pelanggan yang tinggal di Tanjung Redeb.  Lumayan jauh berputar. Iapun, dengan menggunakan mobil yang baru ia beli untuk usaha, berencana berjualan di sekitar Lapangan Pemuda. Aksesnya lebih mudah.

Tidak terasa, saya sudah hampir dua jam berbincang (mengganggu) kesibukan Pak Erson. Kopi Gula Tebu tidak tersisa. Ancur Paddas juga habis, kecuali tersisa sepotong daging kerang. Enak. Enak sekali. Saya harus pamit pulang, setelah membayar Rp 20 ribu. Rp 15 ribu untuk Ancur Paddas, Rp 5 ribu Kopi Gula Tebunya. Selamat berjuang Pak Erson. Minggu depan, saya datang tidak sendirian lagi. (mps/app) 

 


BACA JUGA

Jumat, 16 Agustus 2019 19:01

Menjadi Ibu Bahagia dengan Teknologi Pikiran

DI dunia ini semua orang pasti memilih ingin bahagia. Berbagai…

Jumat, 16 Agustus 2019 15:46

Dua Orang Hebat

JUMPA dua orang hebat yang tidak direncanakan, satu keberuntungan. Apalagi…

Kamis, 15 Agustus 2019 15:28

Darah dan Darah

HARIAN pagi Berau Post edisi Rabu (14/8) kemarin, pastilah laris…

Rabu, 14 Agustus 2019 13:30

Dikira Sarang Walet

Daerah penghasil sarang burung walet, bila diurutkan, Berau pasti berada…

Selasa, 13 Agustus 2019 15:08

Cerita di Gang Ancol

RASANYA baru kali ini saya malu dengan diri sendiri. Padahal…

Senin, 12 Agustus 2019 11:50

Bekerja di Warung Kopi

WACANA Aparatur Sipil Negara (ASN) boleh bekerja di rumah, menjadi…

Sabtu, 10 Agustus 2019 14:08

Senyuman Bu Rodiah

SEBAGAI konsumen untuk keperluan sehari-hari, tak perlu bersusah-susah ke pasar.…

Jumat, 09 Agustus 2019 14:08

Menghadirkan Destinasi Digital

TAK berlebihan bila disebutkan ada 70 persen masyarakat aktif di…

Kamis, 08 Agustus 2019 14:32

Kopi dan Tenaga Kerja

MEMANG tidak ada hubungannya. Antara kopi dan tenaga kerja. Tapi,…

Rabu, 07 Agustus 2019 11:42

Menyoal Pembangunan Rumah Sakit Kelas B di Berau

PEMBANGUNAN kesehatan adalah titik paling vital dalam pembangunan suatu bangsa.…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia.
*