MANAGED BY:
SENIN
19 AGUSTUS
UTAMA | SANGGAM | PEMERINTAHAN | PARLEMENTARIA | EKONOMI | ALL SPORT | KOMBIS
Senin, 13 Mei 2019 14:54
Bumbu Coto Makassar
RUTE LAMA: Sejumlah wisatawan asal Jerman, harus melalui Bandara Kalimarau sebelum bertolak ke Balikpapan dan balik ke negaranya, Sabtu (11/5). Tak lagi bisa terbang langsung dari dari Maratua ke Balikpapan.

PROKAL.CO, BANYAK orang merasa bangga, ketika perusahaan penerbangan membuka rute langsung ke pulau wisata Maratua. Hal tersebut, sebagai betuk kontribusi perusahaan dalam memajukan pariwisata di daerah. Tapi, semangat itu kadang menjadi kendor, ketika bicara terkait bisnis.

Mengunjungi bandara Kalimarau sudah sejak lama saya lakukan. Kadang datang, hanya sekadar menyapa para potter yang juga menjadi teman saya. Menyapa Pak Panjul, menyapa Pak Slamet juga Pak Dian, potter yang sudah lama saya kenal.  Juga teman teman sopir taksi bandara. Rasanya nikmat sekali, bila bisa saling menyapa.

Di saat saya berada di bandara, ada insiden kecil. Saya pikir, para sopir taksi sedang mogok kerja melayani penumpang. Ternyata, ada kendaraan yang disinyalir bukan dari orgaisasi taksi bandara. Pemilik kendaraan diingatkan, agar tidak menjemput. Apalagi situasi sekarang, penurunan penumpang sangat dirasakan para sopir taksi bandara.

Saya bukan menginvestigasi situasi itu.  Sebetulnya saya ke bandara untuk menjemput kiriman. Saya tahu, jadwal tiba penerbangan dari Balikpapan sekitar jam 15.30 Wita. Saya datang ke Kalimarau terlalu cepat. Makanya, banyak waktu untuk berkeliling. Setelah jumpa para potter, saya lanjut dulu ke Teluk Bayur.

Beda dengan tahun-tahun sebelumnya. Di Teluk Bayur, tak ada yang mengorganisir kesibukan pasar Ramadan. Yang ada di kawasan sekitar pasar saja. Yang ditawarkan juga sama dengan takjil yang ada di Tanjung Redeb. Jenisnya saja yang sedikit.

Saya ingat tahun lalu, di sekitar rumah biliar, ada yang menjual sup tulang (hehe, jadi ingat sup tulang di rumah Pak Wabup). Nampaknya tak jualan lagi.

Saya hanya belanja takjil untuk saya antarkan ke mesjid dekat rumah saya. Sayapun lanjut untuk berbalik arah ke bandara. Menunggu pesawat Sriwijaya tiba. Di depan SMA 2 Rinding, ada penjual kelapa muda. Hari keempat Ramadan, belum pernah merasakan segarnya kelapa muda yang dicampur dengan sirup merek DHT. Sirup yang pabriknya di Makassar itu.

Saat kembali lagi ke bandara itulah, saya jumpa kru pengelola resor di Maratua.  Saya kenal baik. Dia sedang mengantarkan 10 orang wisatawan asal Jerman, yang selesai berwisata di Maratua. Lho, kan selama ini wisatawan asal Jerman yang menginap di resor itu, difasilitasi dengan pesawat carter dari Balikpapan ke Maratua.

Ternyata sejak dua hari sebelum Ramadan, kontrak dengan penerbangan belum menemukan titik harga yang cocok untuk kontrak pengangkutan. Katanya sih, harganya lebih besar dari sebelumnya. Mungkin perusahaan juga merasa tak cocok dengan hitung-hitungan biaya. Sejak 4 Mei lalu, terhenti. Artinya, pesawat itu tak lagi terbang dari Balikpapan menuju Maratua, yang jadwalnya setiap hari Sabtu.

Cukup lama tak jumpa dengan Pak Tarkam, sehingga saya tidak pernah mengupdate lagi perkembangan situasi kunjungan wisata ke Pulau Maratua, khususnya ke resor yang dikelola Pak Tarkam itu. Rute lama akhirnya dijalani lagi. Wisatawan yang datang dan akan kembali, harus melewati Kalimarau. Resor juga harus melakukan reskedul, agar semua tamu bisa datang dengan cepat tiba di pulau.

Kalau sejak tanggal 4 Mei lalu, berarti baru dua kali penerbangan yang tidak melewati bandara Maratua. Ini kan bisnis, kata saya dalam hati. Perusahaan penerbangan dan resor, pasti akan terus melakukan negosiasi, hingga ketemu harga yang saling menguntungkan. Saya hanya berdoa yang terbaik.

Lagi-lagi saya harus menemui Pak Panjul. Sebab, nomor resi bagasi barang ada ditangannya. Saya minta tolong agar bisa menghandle paket kiriman saya itu. Harus saya terima hari itu juga. Tak bisa bermalam. Bisa rusak. Tak salah kalau Pak Panjul bertanya, apa isi paket yang sampai  saya harus datang sendiri menjemputnya. “Bumbu Coto Makassar,” kata saya ke Pak Panjul sambil berbisik.

Iya saya memang pesan bumbu coto dari salah satu penjual coto yang terkenal di Makassar. Warung Coto Daeng Tayang.  Alamatnya di Jalan Sultan Hasanuddin, Makassar. Warung ini menjual bumbu sekaligus dapat bonus sambelnya yang enak itu. (*/udi)

 


BACA JUGA

Sabtu, 17 Agustus 2019 13:33

Berkibarlah Benderaku

GENAP 74 tahun Indonesia Merdeka. Upacara memperingati detik-detik Proklamasi digelar…

Jumat, 16 Agustus 2019 19:01

Menjadi Ibu Bahagia dengan Teknologi Pikiran

DI dunia ini semua orang pasti memilih ingin bahagia. Berbagai…

Jumat, 16 Agustus 2019 15:46

Dua Orang Hebat

JUMPA dua orang hebat yang tidak direncanakan, satu keberuntungan. Apalagi…

Kamis, 15 Agustus 2019 15:28

Darah dan Darah

HARIAN pagi Berau Post edisi Rabu (14/8) kemarin, pastilah laris…

Rabu, 14 Agustus 2019 13:30

Dikira Sarang Walet

Daerah penghasil sarang burung walet, bila diurutkan, Berau pasti berada…

Selasa, 13 Agustus 2019 15:08

Cerita di Gang Ancol

RASANYA baru kali ini saya malu dengan diri sendiri. Padahal…

Senin, 12 Agustus 2019 11:50

Bekerja di Warung Kopi

WACANA Aparatur Sipil Negara (ASN) boleh bekerja di rumah, menjadi…

Sabtu, 10 Agustus 2019 14:08

Senyuman Bu Rodiah

SEBAGAI konsumen untuk keperluan sehari-hari, tak perlu bersusah-susah ke pasar.…

Jumat, 09 Agustus 2019 14:08

Menghadirkan Destinasi Digital

TAK berlebihan bila disebutkan ada 70 persen masyarakat aktif di…

Kamis, 08 Agustus 2019 14:32

Kopi dan Tenaga Kerja

MEMANG tidak ada hubungannya. Antara kopi dan tenaga kerja. Tapi,…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia.
*