MANAGED BY:
SENIN
19 AGUSTUS
UTAMA | SANGGAM | PEMERINTAHAN | PARLEMENTARIA | EKONOMI | ALL SPORT | KOMBIS
Selasa, 14 Mei 2019 14:01
Untung Ada Mba Sinta
TERJAGA: Penulis saat berbincang dengan Mba Sinta, dokter hewan yang mengawasi kegiatan pemotongan hewan di RPH Gunung Tabur.

PROKAL.CO, YANG selalu menjadi pertanyaan, apakah kualitas daging yang ada di pasaran cukup terjaga. Bukan hanya yang dikonsumsi langsung oleh rumah tangga. Tapi, juga pengelola rumah makan. Apalagi di bulan puasa sekarang, jumlah permintaan akan daging segar cukup tinggi.

Saya berani menyampaikan, bahwa hapus semua keraguan. Kualitas daging yang dikelola oleh Rumah Potong Hewan (RPH) Gunung Tabur, sangat terjaga. Saya melihat sendiri, bagaimana proses sejak awal hingga daging terpisah, sesuai dengan masing-masing bagian.

Tak perlu lama untuk menyelesaikan proses penyembelihan. Cukup ditangani sebanyak 3 orang saja. Dan, prosesnya tidak lebih dari 10 menit, dengan menggunakan metode burley. Sang jagal atau penyembelih juga tidak sembarangan. Pisau yang digunakan, sangat tajam. Sudah berkali-kali mengikuti pelatihan penyembelihan atau jagal. Sang jagal, bersertifikat. Produksi daging di RPH halal. Tata cara pemotongan sudah dilakukan dengan benar.

Saya ingat dulu, ketika RPH masih berada di sekitar kawasan Bujangga. Tempatnya sangat sederhana. Bahkan, saya ingat betul, sebelum melakukan penyembelihan, harus dilakukan pencacahan kepada konsumen. Siapa saja yang akan membeli. Ada daftar dan banyaknya daging yang diperlukan. Dari daftar itulah yang disesuaikan berapa ekor yang harus dipotong.

Konsumen masih sangat terbatas. Juga jenis pengganti masih sangat sedikit. Tak banyak warga yang memelihara ayam potong, sebagai pengganti konsumsi daging. Produksi ikan juga demikian. Wajar, bila dulu harus dihitung betul-betul, sebelum dilakukan penyembelihan daging sapi.

Ketika RPH dibangun, saya ingat teman saya Pak Haris Sabran-lah yang menjadi kepala kantornya. Beliau yang menggagas dibangunnya RPH tersebut, yang inginnya secara mekanisasi. Pak Haris bahkan pernah ke Australia mengikuti pelatihan sekaligus rencana membawa sapi asal Australia.  Berau juga dapat jatah waktu itu.

Sebetulnya, di RPH Gunung Tabur ada alat yang bisa meringankan kerja baik penjagal maupun semua yang terlibat di RPH tersebut. Tapi, kata drh Sinta, alat penyembelih hidrolik yang ada, untuk ukuran sapi Brahman Cross. Sementara yang disembelih tiap harinya jenis Sapi Donggala. Tidak sesuai bodi. Jadi belum bisa dimanfaatkan. Saya tersenyum, iya tidak sesuai bodi.

Saya berada di RPH, kebetulan jumpa dengan drh Sinta. Ia baru bertugas di RPH sejak Januari lalu.  Alumnus Universitas Brawijaya itulah yang bertugas mengawasi, baik soal kualitas serta hal-hal terkait dengan proses penyembelihan. Ketika proses penyembelihan berlangsung, drh Sinta hanya mencermati dari luar, sambil menyaksikan.

Saya sempat berbincang singkat dengan drh Sinta, ia menyebutkan bahwa kualitas daging dari RPH terjamin mutu dan kesehatannya. Drh Sinta sangat ketat dan semua yang bekerja di RPH juga sangat patuh akan mutu daging. Termasuk mengawasi ternak potong yang masuk dalam usia produktif, khususnya jenis betina.

Ada pertanyaan teman saya, terkait harga daging per kilogramnya. Aduh, saya tak pernah menanyakan berapa harga per kilogramnya. Sebab, saya juga tahu tidak mungkin menawar harga yang sudah ditetapkan. Hanya tahu, pesan daging 2 kilogram, paru utuh, hati satu set, jantung satu biji tak dipotong, ditambah otak pesanan istri saya.

Saya sempat terkejut, ketika saya bertanya berapa banyak sapi yang dipotong setiap harinya. Sebab, yang ada dalam catatan saya, dalam 3 tahun terakhir paling banyak 7 ekor setiap hari. Ternyata di awal memasuki bulan puasa, jumlah sapi yang dipotong mendekati angka 40 ekor. Menjelang Lebaran, diperkirakan permintaan akan melonjak.

Menurut drh Sinta, untuk dua pekan ke depan, masih dalam hitung sekitar 7 hingga 10 ekor per hari. Menjelang Lebaran pasti lebih banyak lagi. Kompleks RPH akan disulap menjadi bursa daging sapi. Sekarang sapi dari luar daerah masih dalam perjalanan. Baik dari Palu, Parepare maupun dari Nusa Tenggara. Jumlah kebutuhan akan daging menjelang Lebaran nanti, cukup tersedia.

Saya merasa beruntung bisa jumpa drh Sinta. Saya dapat banyak pengetahuan. Juga ketemu tukang jagal, banyak hal yang disampaikan yang saya tidak tahu sebelumnya. Selamat Menjalankan Ibadah Puasa. (*/udi)


BACA JUGA

Sabtu, 17 Agustus 2019 13:33

Berkibarlah Benderaku

GENAP 74 tahun Indonesia Merdeka. Upacara memperingati detik-detik Proklamasi digelar…

Jumat, 16 Agustus 2019 19:01

Menjadi Ibu Bahagia dengan Teknologi Pikiran

DI dunia ini semua orang pasti memilih ingin bahagia. Berbagai…

Jumat, 16 Agustus 2019 15:46

Dua Orang Hebat

JUMPA dua orang hebat yang tidak direncanakan, satu keberuntungan. Apalagi…

Kamis, 15 Agustus 2019 15:28

Darah dan Darah

HARIAN pagi Berau Post edisi Rabu (14/8) kemarin, pastilah laris…

Rabu, 14 Agustus 2019 13:30

Dikira Sarang Walet

Daerah penghasil sarang burung walet, bila diurutkan, Berau pasti berada…

Selasa, 13 Agustus 2019 15:08

Cerita di Gang Ancol

RASANYA baru kali ini saya malu dengan diri sendiri. Padahal…

Senin, 12 Agustus 2019 11:50

Bekerja di Warung Kopi

WACANA Aparatur Sipil Negara (ASN) boleh bekerja di rumah, menjadi…

Sabtu, 10 Agustus 2019 14:08

Senyuman Bu Rodiah

SEBAGAI konsumen untuk keperluan sehari-hari, tak perlu bersusah-susah ke pasar.…

Jumat, 09 Agustus 2019 14:08

Menghadirkan Destinasi Digital

TAK berlebihan bila disebutkan ada 70 persen masyarakat aktif di…

Kamis, 08 Agustus 2019 14:32

Kopi dan Tenaga Kerja

MEMANG tidak ada hubungannya. Antara kopi dan tenaga kerja. Tapi,…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia.
*