MANAGED BY:
RABU
21 AGUSTUS
UTAMA | SANGGAM | PEMERINTAHAN | PARLEMENTARIA | EKONOMI | ALL SPORT | KOMBIS
Senin, 10 Juni 2019 14:35
Merantau di Kampung Sendiri
MI TITI: Salah satu kuliner di Makassar yang banyak digemari. Penulis, saat menikmati sepiring Mi Titi di Jalan Datu Museng, Makassar.

PROKAL.CO, class="MsoNormal">BAGI banyak orang, merantau tentu sebagai hal yang mengasyikkan. Bahkan, rela pergi ketempat yang sangat jauh. Ada yang hanya bersekolah, bekerja, bersekolah lalu bekerja. Tapi, ada suasana kerinduan yang memaksa kita harus pulang.

Beberapa hari menjelang lebaran, muncullah pertanyaan itu. Lebaran di mana? Di Berau atau pulang kampung (Pulkam). Bagi yang belum mengagendakan, tentu repot menjawabnya. Banyak orang yang sudah sejak jauh hari mempersiapkannya. Bahkan, ada yang beberapa bulan sebelumnya.

Saya selalu pulkam pada puncak lebaran. Biar bisa jumpa dengan teman-teman dulu, baru berangkat.  Itu pun saya lakukan tahun ini. Sempat goyah juga. Apalagi bila melihat daftar harga tiket. Tahun lalu tidak sedahsyat sekarang harganya. Rata di hampir semua penerbangan. Mau mikirin harga atau mau pulkam.

Menumpang pesawat Sriwijaya tak serasa Garuda. Setelah bergabung, rute ke Makassar kayaknya diserahkan kepada Sriwijaya. Ada satu orang pramugarinya yang menggunakan kostum warna oranye. Mirip kostum awak Garuda.

Ada yang membuat saya tersenyum. Ketika mendarat, dan pramugari mengumumkan bahwa telah mendarat. Sang pramugari, menyelipkan bahasa daerah (Makassar). Haha, tentu tidak sefasih, kalau saya yang mengucapkannya. Yang artinya, baru mendarat di Bandara Hasanuddin, Kabupaten Maros. Asyik juga mendengarnya. Tentu yang paham artinya. Akan saya usulkan juga, sebelum mendarat di Kalimarau, Berau perlu juga berbahasa Banua.

Bandara Hasanuddin di hari pertama lebaran, masih lengang. Di bandara ini pula, saya jumpa beberapa teman dari Berau yang sama-sama pulkam lebaran. Jumpa Pak Manyu, yang sering jualan kopi di Pasar. Ada juga teman dari Pemkab yang akan melanjutkan ke Kabupaten Pinrang. Pastilah tiba lewat tengah malam. Tak peduli, semangat pulkam lebih besar dari segalanya.

Saya ingat lebaran tahun lalu saya jumpa dengan Pak Wagub Kaltim, Pak Hadi. Beliau juga berlebaran di hari pertama. Tibanya juga malam hari. Beliau dijemput, langsung melanjutkan perjalanan ke Kabupaten Bulukumba. Kami sempat foto bareng.

Saat lebaran, ternyata Makassar mirip Jakarta. Jalan-jalan sepi. Perempatan jalan keluar bandara biasanya macet total, juga ketika melaju di jalan Tol. Banyak juga yang Pulkam. Kan kebetulan pegawai masih libur.

Yang saya pikirkan sebelum tiba, apakah di hari pertama lebaran ini ada warung makan yang buka. Saya membayangkan warung coto, warung konro, sop ubi ataupun kedai yang bisa mengganjal perut. Maklum, saat berangkat belum sempat makan buras dan opor ayam yang banyak.

Ketika melewati jalan sekitar Pantai Losari, ternyata dugaan saya keliru. Banyak warung yang buka di malam hari pertama lebaran. Bakso Nusantara sesaknya luar biasa. Penjual Nyuk Nyang (Bakso) yang lainnya juga antrean panjang. Bakso Aty Radja apalagi. Perut saya yang lapar, agaknya tak kuat kalau hanya Nyuk Nyang alias Bakso. Butuh yang sedikit kelas berat.

Jalan sekitar pantai Losari, ternyata ada perubahan arus. Ini informasi yang saya belum tahu sebelumnya. Harus berputar arah, tak jauh dari kediaman Pak Wapres Jusuf Kalla. Asyik juga, jalan jadi lancar. Terus, kalau mutar terus, kapan makannya.

Setelah gagal makan Nyuk Nyang, mencoba berbelok ke arah Jalan Datu Museng. Saya ingat, di sekitar itu ada rumah makan Mi Titi. Berseberangan dengan Rumah Makan Lae Lae. Ok, mi Titi juga tak masalah. Antara makan berat dan ringan. Akhirnya, saya memesan nasi goreng merah. Memang warnanya merah menggoda. Khas rasanya.

Memang harus sering-sering Pulkam. Biar tahu, di mana penjual bakso yang enak. Di mana ikan bakar yang asyik. Di mana penjual sop ubi yang melegenda itu. Kalau tidak, ya itu tadi. Saya tak tahu, kalau ada perubahan arus jalan. Mungkin sudah terlalu lama meninggalkan Makassar, sehingga bila kembali rasanya merantau di kampung sendiri. (*/sam)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

MPS UNTUK BERAU POST

MI TITI: Salah satu kuliner di Makassar yang banyak digemari. Penulis, saat menikmati sepiring Mi Titi di Jalan Datu Museng, Makassar.

 

Daeng Sikra

Merantau di Kampung Sendiri

BAGI banyak orang, merantau tentu sebagai hal yang mengasyikkan. Bahkan, rela pergi ketempat yang sangat jauh. Ada yang hanya bersekolah, bekerja, bersekolah lalu bekerja. Tapi, ada suasana kerinduan yang memaksa kita harus pulang.

Beberapa hari menjelang lebaran, muncullah pertanyaan itu. Lebaran di mana? Di Berau atau pulang kampung (Pulkam). Bagi yang belum mengagendakan, tentu repot menjawabnya. Banyak orang yang sudah sejak jauh hari mempersiapkannya. Bahkan, ada yang beberapa bulan sebelumnya.

Saya selalu pulkam pada puncak lebaran. Biar bisa jumpa dengan teman-teman dulu, baru berangkat.  Itu pun saya lakukan tahun ini. Sempat goyah juga. Apalagi bila melihat daftar harga tiket. Tahun lalu tidak sedahsyat sekarang harganya. Rata di hampir semua penerbangan. Mau mikirin harga atau mau pulkam.

Menumpang pesawat Sriwijaya tak serasa Garuda. Setelah bergabung, rute ke Makassar kayaknya diserahkan kepada Sriwijaya. Ada satu orang pramugarinya yang menggunakan kostum warna oranye. Mirip kostum awak Garuda.

Ada yang membuat saya tersenyum. Ketika mendarat, dan pramugari mengumumkan bahwa telah mendarat. Sang pramugari, menyelipkan bahasa daerah (Makassar). Haha, tentu tidak sefasih, kalau saya yang mengucapkannya. Yang artinya, baru mendarat di Bandara Hasanuddin, Kabupaten Maros. Asyik juga mendengarnya. Tentu yang paham artinya. Akan saya usulkan juga, sebelum mendarat di Kalimarau, Berau perlu juga berbahasa Banua.

Bandara Hasanuddin di hari pertama lebaran, masih lengang. Di bandara ini pula, saya jumpa beberapa teman dari Berau yang sama-sama pulkam lebaran. Jumpa Pak Manyu, yang sering jualan kopi di Pasar. Ada juga teman dari Pemkab yang akan melanjutkan ke Kabupaten Pinrang. Pastilah tiba lewat tengah malam. Tak peduli, semangat pulkam lebih besar dari segalanya.

Saya ingat lebaran tahun lalu saya jumpa dengan Pak Wagub Kaltim, Pak Hadi. Beliau juga berlebaran di hari pertama. Tibanya juga malam hari. Beliau dijemput, langsung melanjutkan perjalanan ke Kabupaten Bulukumba. Kami sempat foto bareng.

Saat lebaran, ternyata Makassar mirip Jakarta. Jalan-jalan sepi. Perempatan jalan keluar bandara biasanya macet total, juga ketika melaju di jalan Tol. Banyak juga yang Pulkam. Kan kebetulan pegawai masih libur.

Yang saya pikirkan sebelum tiba, apakah di hari pertama lebaran ini ada warung makan yang buka. Saya membayangkan warung coto, warung konro, sop ubi ataupun kedai yang bisa mengganjal perut. Maklum, saat berangkat belum sempat makan buras dan opor ayam yang banyak.

Ketika melewati jalan sekitar Pantai Losari, ternyata dugaan saya keliru. Banyak warung yang buka di malam hari pertama lebaran. Bakso Nusantara sesaknya luar biasa. Penjual Nyuk Nyang (Bakso) yang lainnya juga antrean panjang. Bakso Aty Radja apalagi. Perut saya yang lapar, agaknya tak kuat kalau hanya Nyuk Nyang alias Bakso. Butuh yang sedikit kelas berat.

Jalan sekitar pantai Losari, ternyata ada perubahan arus. Ini informasi yang saya belum tahu sebelumnya. Harus berputar arah, tak jauh dari kediaman Pak Wapres Jusuf Kalla. Asyik juga, jalan jadi lancar. Terus, kalau mutar terus, kapan makannya.

Setelah gagal makan Nyuk Nyang, mencoba berbelok ke arah Jalan Datu Museng. Saya ingat, di sekitar itu ada rumah makan Mi Titi. Berseberangan dengan Rumah Makan Lae Lae. Ok, mi Titi juga tak masalah. Antara makan berat dan ringan. Akhirnya, saya memesan nasi goreng merah. Memang warnanya merah menggoda. Khas rasanya.

Memang harus sering-sering Pulkam. Biar tahu, di mana penjual bakso yang enak. Di mana ikan bakar yang asyik. Di mana penjual sop ubi yang melegenda itu. Kalau tidak, ya itu tadi. Saya tak tahu, kalau ada perubahan arus jalan. Mungkin sudah terlalu lama meninggalkan Makassar, sehingga bila kembali rasanya merantau di kampung sendiri. (*/sam)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


BACA JUGA

Selasa, 20 Agustus 2019 10:40

Bajakah

TIBA-TIBA jenis tanaman ini menjadi sangat terkenal. Pelajar asal Palangka…

Sabtu, 17 Agustus 2019 13:33

Berkibarlah Benderaku

GENAP 74 tahun Indonesia Merdeka. Upacara memperingati detik-detik Proklamasi digelar…

Jumat, 16 Agustus 2019 19:01

Menjadi Ibu Bahagia dengan Teknologi Pikiran

DI dunia ini semua orang pasti memilih ingin bahagia. Berbagai…

Jumat, 16 Agustus 2019 15:46

Dua Orang Hebat

JUMPA dua orang hebat yang tidak direncanakan, satu keberuntungan. Apalagi…

Kamis, 15 Agustus 2019 15:28

Darah dan Darah

HARIAN pagi Berau Post edisi Rabu (14/8) kemarin, pastilah laris…

Rabu, 14 Agustus 2019 13:30

Dikira Sarang Walet

Daerah penghasil sarang burung walet, bila diurutkan, Berau pasti berada…

Selasa, 13 Agustus 2019 15:08

Cerita di Gang Ancol

RASANYA baru kali ini saya malu dengan diri sendiri. Padahal…

Senin, 12 Agustus 2019 11:50

Bekerja di Warung Kopi

WACANA Aparatur Sipil Negara (ASN) boleh bekerja di rumah, menjadi…

Sabtu, 10 Agustus 2019 14:08

Senyuman Bu Rodiah

SEBAGAI konsumen untuk keperluan sehari-hari, tak perlu bersusah-susah ke pasar.…

Jumat, 09 Agustus 2019 14:08

Menghadirkan Destinasi Digital

TAK berlebihan bila disebutkan ada 70 persen masyarakat aktif di…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia.
*