MANAGED BY:
KAMIS
24 OKTOBER
UTAMA | SANGGAM | PEMERINTAHAN | PARLEMENTARIA | EKONOMI | ALL SPORT | KOMBIS
Kamis, 20 Juni 2019 12:00
Ayam Bakar Tolak Pinggang
GO INTERNATIONAL: Penulis bersama pemilik warung Coto Makassar, Hasan Daeng Tayang.

PROKAL.CO, APALAH arti sebuah nama. Itu sering terdengar. Namun soal nama memang perlu sedikit perhatian. Terutama dalam memberi nama produk makanan. Salah memberikan nama, makanan tak laku di pasaran.  Sebaliknya, nama kadang-kadang juga membawa keberuntungan.

Saat bermain di Mal Transtudio, Makassar, saya pernah melihat gerai yang menjual makanan yang menurut saya asing. Padahal masakan itu berasal dari kampung saya. Saat liburan lalu, saya kembali ke mal milik Chairul Tanjung tersebut. Saya melihat kawasan jajanan itu sedang direnovasi.  Waduh, pindah ke mana yaaa.

Saya dapat informasi di lantai dasar ada yang menjajakan ubi goreng. Rasanya enak, apalagi sambalnya. Sama dengan sambal yang disajikan penjual sarabba yang ada di Jalan AKB Sanipah depan kantor Lurah Bugis. Saat menikmati ubi goreng itulah, terlihat gerai Ayam Tolak Pinggang  (Tolping) di lantai dasar mal tersebut.

Saya tertarik bukan Tolpingnya, tapi nama khas daerahnya Bontonompo, kampung saya. Semakin lengkaplah sebutan merantau di kampung sendiri. Sebab, ternyata ada masakan khas yang begitu terkenal, tapi baru saya tahu. Saya konsentrasi menikmati ubi goreng.

Tak lagi mengingat ayam bakar Tolping, saya harus mengunjungi warung Coto Makassar di Jalan Sultan Hasanuddin. Di tempat ini, salah satu warung coto favorit di Makassar. Karena coto yang sudah jadi sulit dibawa pulang sebagai oleh-oleh, pemiliknya Hasan Daeng tayang juga menawarkan bumbunya. Saya berencana kalau pulang, mau bawa bumbu coto. Nanti dinikmati bersama teman-teman di Berau.

Kebetulan saya jumpa Daeng Tayang.  Saya tertarik dengan tulisan di spanduk kecil ‘Makanan Khas Kota Makassar’ Coto Makassar Goes top Europe-Belanda-Perancis. Hebat juga, coto Makassar bisa menembus International. Saya lalu tertarik membahas bagaimana ceritanya bisa ke Belanda.

Dengan senang hati, Daeng Tayang bercerita perjalanan tersebut. Bahwa saat bulan puasa lalu, ia mendapat kunjungan dari Dinas Perindustrian. Ia diajak ikut salah satu pameran besar di Belanda. Kalau tidak salah, Festival Tong Tong. Ia ditanggung tiket ke Belanda. Karena hanya dapat satu tiket, ia pun mengajak anaknya dengan biaya sendiri.

Awalnya Daeng tayang bingung bagaimana membawa ketupatnya. Sementara untuk bumbu tidak repot, bisa bertahan beberapa jam dalam kondisi beku. “Karena tak ada ketupat, makannya bersama nasi putih,” kata Daeng Tayang. Setibanya di Belanda, diawali dengan acara buka puasa bersama di kantor kedubes RI di Belanda. Menunya coto Daeng Tayang. 

Lama juga saya berbincang dengan Daeng Tayang. Saya pun pesan 5 kilogram bumbu untuk saya bawa pulang. Nanti, sehari sebelum keberangkatan, saya akan kembali lagi mengambilnya. Termasuk bonus sambal yang menjadi kunci rasa enak dari coto tersebut. Teman-teman di Berau juga bertanya-tanya kapan pulang. Kapan bisa makan coto.

Ada telepon dari Sekretaris Camat Kecamatan Bontonompo yang mengundang saya untuk makan siang di rumahnya. Ia sudah menyediakan 5 porsi ayam bakar Tolping. Saya pikir ini kesempatan, biar bisa menikmati seperti apa rasa ayam bakar Tolping itu. Tapi, perjalanan ke kampung lumayan jauh. Pulang, bisa lapar lagi.

Ternyata jadwal makan siang pun diralat. Ayam bakar Tolpingnya akan dibawa ke Makassar saja. Sebab, malam harinya akan menghadiri pesta pernikahan di salah satu gedung di Makassar. Dan memang benar. Sekitar Pukul 20.00 Wita, Pak Sekcam datang ke rumah dengan 5 porsi ayam Tolping.

Saya senyum-senyum saat memperhatikan ayam yang sudah dibakar itu dengan gaya tolak pinggang. Rupanya itu yang menjadi merek. Ayam muda utuh tanpa kepala dibakar dengan bumbu khas. Dagingnya empuk karena dikukus terlebih dahulu. Ternyata ini yang namanya Ayam Bakar Tolak Pinggang alias Tolping. Memang dibentuk dengan gaya bertolak pinggang. Enak tawwa (memang enak).

 

Nanti kalau pulang ke Berau akan saya praktikkan. Lidah saya bisa merinci bumbu yang diperlukan. Saya juga akan mengajak teman untuk menikmati. Nanti saya berinama baru Ayam Bakar ‘ Kacak Pinggang’ olahan Daeng Sikra. Hahahaha.(*/asa)

loading...

BACA JUGA

Rabu, 23 Oktober 2019 14:18

Ada yang Gelisah

SAYA tidak mengikuti penuh pidato Pak Joko Widodo, usai dilantik…

Senin, 21 Oktober 2019 12:47

Titik Nol

SAMPAI sekarang, saya belum tahu di mana lokasi titik nol…

Senin, 21 Oktober 2019 10:56

WAJAH KOTA KOK GINI?

Jalan Kalimarau, Kecamatan Teluk Bayur, merupakan wajah Kabupaten Berau, mengingat…

Sabtu, 19 Oktober 2019 18:31

‘Kuch Kuch Hota Hai’

“Tanjung Redeb itu di mana sih?” Saya dengar pembicaraan teman…

Sabtu, 19 Oktober 2019 13:20

Bangku Taman

Oleh: ENDRO S EFENDI SELAMA ini, ilmu mengenai pikiran yang…

Jumat, 18 Oktober 2019 13:14

OTT

MENUNGGU dari tadi, tak muncul juga. Teh susu buatan Bu…

Rabu, 16 Oktober 2019 11:53

Tuha Sudah Wal

USIA tak bisa disembunyikan. Jalan kaki sebentar, lalu nafas terengal-engal,…

Selasa, 15 Oktober 2019 10:07

Tak Ada “Lawang”

“KALAU di Makassar, tidak ada lawang na,” kata teman saya asal…

Senin, 14 Oktober 2019 18:13

Bujurankah?

“Bujurankah?” tanya teman saya lewat pesan singkat. “Apanya nang bujur,”…

Minggu, 13 Oktober 2019 18:52

Nasib Pelayanan Kesehatan di Balik PMK NO.30/2019

TERBITNYA Peraturan Menteri Kesehatan (PMK) Nomor 30 Tahun 2019 menggantikan…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia.
*