MANAGED BY:
RABU
16 OKTOBER
UTAMA | SANGGAM | PEMERINTAHAN | PARLEMENTARIA | EKONOMI | ALL SPORT | KOMBIS
Selasa, 25 Juni 2019 15:22
Bekantan Kalah Pamor
WISATA MANGROVE: Masuk kawasan mangrove Tanjung Batu kini tak gratis lagi. Setiap pengunjung diwajibkan membayar Rp 5000. Penulis saat mengunjungi lokasi wisata itu pada Sabtu (22/6) lalu.

PROKAL.CO, MEMANG seharusnya tak ada yang gratis. Apalagi tempat yang memerlukan pemeliharaan dan dukungan operasional. Putusannya memang harus berbayar. Asalkan dalam proses penentuannya tak ada aturan yang dilanggar.

Melewati jalan menuju Tanjung Batu, ada pemandangan yang memberikan semangat. Puluhan bahkan ratusan titik di kiri jalan sudah terpasang tiang listrik beton. Ini memberikan isyarat bahwa PLN akan memberikan layanannya hingga Tanjung Batu, begitupun kampung yang dilalui. Hari Sabtu (22/6), saat warga maupun wisatawan asal luar daerah datang untuk menikmati liburan. Ada juga yang sudah tiba sejak sehari sebelumnya. Ada belasan mobil yang parkir tak jauh dari pintu masuk kawasan wisata mangrove. Lokasi wisata yang usia operasinya belum lama.

Ketika diresmikan bersamaan dengan pusat informasi mangrove yang lokasinya sedikit berjauhan. Dimaksudkan, siapapun yang datang dan memerlukan informasi tumbuhan bakau, bisa mendapatkan penjelasan.

        Ada dua tempat penjagaan. Dipintu pertama ada dua petugas Polsek yang berjaga-jaga. Sementara pos lainnya, ada juga petugas yang menyediakan tiket masuk. Saya juga ketika melewati pos kedua diminta untuk bayar. Saya bayar Rp 10 ribu untuk dua orang. Tiketnya mungil bergambar lokasi wisata. Sayang tidak bernomor seri.

        Saya tidak mau mempersoalkan tiket itu. Saya merasa senang karena ternyata masyarakat yang datang juga dengan senang hati mengeluarkan biaya untuk mengitari kawasan mangrove yang panjang sekitar 700 meter itu. Banyak lokasi yang menarik untuk foto.

Memang disediakan untuk keperluan itu. Saat menikmati keindahan kawasan wisata, bisa langsung disebar ke sosial media.

        Sengaja memilih melawan arus, sehingga bisa berpapasan dengan warga yang datang melalui pintu masuk. Saya masuk melalui pintu keluar. Banyak juga jumlahnya. Ada yang datang dari Tanjung Selor, ada juga dari Malinau selebihnya dari Tanjung Redeb.

        Saya berpikir, karena masuk sudah berbayar, idealnya ada pelayanan plus yang diberikan. Semisal, pada tamu yang datang berkelompok, ada guide (pendamping) yang menemani. Bisa menjelaskan bagaimana proses penanaman mangrove ataupun sejarah mangrove di Tanjung Batu. Guide ini juga bisa menunjukkan jenis mangrove. Keberadaan guide itu sangat perlu.

        Saya teringat pesan Pak Agus Tantomo, Wabup Berau bahwa di pintu masuk bisa ditempatkan penjual minuman. Tapi harganya dua kali lipat, khusus minuman berkemasan plastik dan kaleng. Ketika tamu kembali dan membawa kemasan kosong dihargai separuhnya. Jadi pengunjung tidak membuang bekas minumannya. Kalau hilang, salah sendiri.

        Di bagian dalam ada kantin. Saat saya melintas, kantin tidak berjualan. Padahal saya butuh air minum. Saat kunjungan padat di akhir pekan, kantin harus tetap beroperasi. Saya harus banyak maklum, sebab bisa saja pengelola baru akan menyusun programnya yang baik. Begitupun penyediaan leaflet sebagai bahan informasi.

        Dari kejauhan, terdengar suara perempuan berteriak. Saya pikir apa ada sesuatu. Mereka histeris melihat penampakan monyet berekor panjang. Ada dua ekor, tapi banyak lagi yang bergelantungan di pohon mangrove. Monyetnya jinak, tidak megganggu. Ya jinak-jinak monyetlah. Harus waspada juga.

        Ada satu ekor monyet yang memegang botol kemasan plastik. Kayaknya paham bahwa itu air minum. Ia terus berusaha menuangkan ke mulutnya. Lucu juga pemandangannya. Tapi ada kesan yang ingin disampaikan bahwa pengunjung harusnya menjaga dan tidak membuang kemasan plastik ke laut.

        Ke mana Bekantan? Banyak yang bertanya. Agaknya kawasan mangrove Tanjung Batu, Bekantan kalah pamor. Semua wilayah dikuasai monyet ekor panjang. Tak satupun Bekantan yang berani muncul. Menurut warga, Bekantan ada di wilayah seberang lokasi wisata. Setelah dicermati, jenis mangrove yang ada di lokasi itu, bukanlah jenis makanan yang disukai Bekantan. Andai Bekantan ada, pengunjung bisa lebih menikmati suasana itu.(*/asa)


BACA JUGA

Selasa, 15 Oktober 2019 10:07

Tak Ada “Lawang”

“KALAU di Makassar, tidak ada lawang na,” kata teman saya asal…

Senin, 14 Oktober 2019 18:13

Bujurankah?

“Bujurankah?” tanya teman saya lewat pesan singkat. “Apanya nang bujur,”…

Minggu, 13 Oktober 2019 18:52

Nasib Pelayanan Kesehatan di Balik PMK NO.30/2019

TERBITNYA Peraturan Menteri Kesehatan (PMK) Nomor 30 Tahun 2019 menggantikan…

Sabtu, 12 Oktober 2019 12:17

Hiu dan Hui

"SAYA Kecolongan,” kata Pak Agus Tantomo, Wakil Bupati Berau. Responsnya…

Jumat, 11 Oktober 2019 18:46

Ronal vs Oetomo

UNTUNG saya tiba di ‘kantor’ Hoky lebih awal. Jika tidak,…

Rabu, 09 Oktober 2019 12:13

Kok tidak mengalir

"TOLONG Pak, air di tempat kami sudah dua hari mati".…

Rabu, 09 Oktober 2019 12:08

9 di Korea, 1 di Berau

GILIRAN saya yang harus banyak bertanya dengan anak saya. Terutama…

Selasa, 08 Oktober 2019 15:04

Maunya yang Besar

MASIH ingat kejadian Oktober 2015 lalu? Kasus yang menyebabkan matinya…

Senin, 07 Oktober 2019 12:54

Setengah Saja

ANGKA yang diminta Wali Kota Balikpapan Rizal Effendi hanya Rp…

Minggu, 06 Oktober 2019 12:20

Bos Anda Menyebalkan?

DI setiap kesempatan, tak sedikit teman, sahabat atau orang lain yang…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia.
*