MANAGED BY:
RABU
16 OKTOBER
UTAMA | SANGGAM | PEMERINTAHAN | PARLEMENTARIA | EKONOMI | ALL SPORT | KOMBIS
Rabu, 26 Juni 2019 11:13
Logat Jakarta Tak Terdengar Lagi
CAFE PANTAI: Penulis bersama Andy Saputra, pemilik Cafe Pantai di Tanjung Batu. Tempat ini juga bisa jadi ukuran jumlah kunjungan wisata ke Pulau Derawan.

PROKAL.CO, BERAPA jumlah pengunjung ke Pulau Derawan dan Maratua? Sulit mendapatkan angka pasti. Terlalu banyak pintu masuk. Termasuk salah satunya dari pintu dermaga di Tanjung Batu.

Jumlah rumah makan di Tanjung Batu, sekarang mulai bermunculan. Menunya tak lain ikan bakar. Kesenangan saya. Saat berkunjung ke Tanjung Batu Sabtu (22/6) lalu, saya mampir di Cafe Pantai milik Pak Andy Saputera. Ia sudah tahu, kalau Daeng Sikra datang, hanya pesan sayur, sambal dan nasi putih. Ikannya, Saya beli di tempat pengumpul di rumah Pak Darwis.

Karena hanya berdua, saya beli 3 ekor ikan gembung laki dan satu ikan putih. Ikan ini saya titip ke Pak Andy untuk dibakarkan. “Bakar polos pak Andy,” kata saya. Bakar polos itu, artinya tidak diberi minyak. Aroma amisnya lebih terasa. Ikannya pastilah dalam kondisi segar. Baru sekali mati, kata nelayan Tanjung Batu.

Saya ingat dulu, Cafe Pantai ini belum makan sudah keluar keringat. Sebab, tak ada listrik. Saat itu, listrik hanya menyala pada sore hingga pagi hari.  Siang, seluruh rumah warga tanpa listrik, kecuali menggunakan pembangkit sendiri. Di Cafe Pantai milik ini termasuk yang tak punya mesin pembangkit sendiri. Atapnya seng tanpa plafon. Ikan pesanan belum tiba di meja, tamu sudah mandi keringat.

Dulu, kata Pak Andy, selama 12 jam tanpa listrik di siang hari, penduduk tak satupun mengeluh. Sekarang, ketika layanan listrik 24 jam, padam 20 menit saja, warga sudah berteriak lampu mati. Sudah marah-marah ke PLN. Ya, begitulah situasinya.

Sekarang di Cafe Pantai, keringat keluar setelah makan. Di ruang makannya yang lesehan itu, sudah disiapkan kipas angin. Pelanggan bisa sambil berbaring menunggu menu pesanan. Bakarnya agak lambat karena masih manual.  Menggunakan kipas tangan. Kipas terbuat dari bahan tripleks, jadi kaku.

Rumah makan ini setiap akhir pekan, selalu ramai pengunjung. Saat saya datang, puluhan kendaraan berbagai nomor polisi terparkir di area lapangan terbuka. “Kendaraan ini datang sejak hari Jumat,” kata Andy. Saya sering jumpa Pak Kudarat, Camat Pulau Derawan dan tokoh masyarakat lainnya di Cafe Pantai.

Ada yang menarik dari pernyataan Pak Andy. Saya pikir-pikir juga bisa jadi narasumber terkait jumlah pengunjung. “Dulu ramai, tamu saya kalau bicara lu gue lu gue semua,” kata Andy menirukan logat Jakarta para tamunya. Sekarang gimana? Dalam beberapa bulan terakhir, diakui Pak Andy hampir tak pernah mendengar lagi logat Jakarta itu.

Yang mendominasi lebih banyak pengunjung atau wisatawan asal Kalimantan saja. “Coba lihat pelat mobil yang parkir,” kata dia. Ada pelat Kalimantan Utara, Balikpapan, Malinau dan Samarinda. “Kalau ke warung ini, mereka bahasa Indonesia logat Kalimantan. Ada juga yang bahasa Banjar, sesekali ada yang datang dan berbincang pakai bahasa Bugis” ungkap Andy sambil tertawa.

Bisa jadi karena harga tiket yang mahal, atau lebih banyak wisatawan yang datang dari luar provinsi menggunakan jasa biro perjalanan lewat Bandara Tarakan. Katanya sih lebih murah dan lebih cepat tiba di lokasi wisata.

Saya lupa memesan sambal yang tidak pedas. Cafe Pantai yang sambalnya sangat sederhana itu, enaknya luar biasa. “Pernah tamu saya minta dibuatkan sambal untuk dibawa pulang ke Jakarta,” kenang Pak Andy. Pas laparnya, saya berbagi dengan teman saya masing-masing dua ekor. Habis tak tersisa. Sayur beningnya juga nikmat dan segar. Saya harus nikmati saja rasa pedas itu. Rasa pedas Tanjung Batu beda dengan rasa pedas sambal yang pernah saya rasakan di Makassar saat pulang kampung.

Ada niatan mampir ke rumah Pak Dony, nelayan yang dikenal sebagai pengumpul Udang Lobster. Tempatnya pernah dikunjungi Menteri Perikanan Ibu Susi. Depan rumahnya sepi. Biasanya Pak Dony duduk di bawah pohon mangga depan rumah tak pakai baju. Padahal kalau jumpa, saya pasti dapat beberapa ekor lobster yang gagal kirim. Lumayan, bisa dibawa pulang. Lain waktu, saya wajib singgah di rumah Pak Dony.(*/asa)

 


BACA JUGA

Selasa, 15 Oktober 2019 10:07

Tak Ada “Lawang”

“KALAU di Makassar, tidak ada lawang na,” kata teman saya asal…

Senin, 14 Oktober 2019 18:13

Bujurankah?

“Bujurankah?” tanya teman saya lewat pesan singkat. “Apanya nang bujur,”…

Minggu, 13 Oktober 2019 18:52

Nasib Pelayanan Kesehatan di Balik PMK NO.30/2019

TERBITNYA Peraturan Menteri Kesehatan (PMK) Nomor 30 Tahun 2019 menggantikan…

Sabtu, 12 Oktober 2019 12:17

Hiu dan Hui

"SAYA Kecolongan,” kata Pak Agus Tantomo, Wakil Bupati Berau. Responsnya…

Jumat, 11 Oktober 2019 18:46

Ronal vs Oetomo

UNTUNG saya tiba di ‘kantor’ Hoky lebih awal. Jika tidak,…

Rabu, 09 Oktober 2019 12:13

Kok tidak mengalir

"TOLONG Pak, air di tempat kami sudah dua hari mati".…

Rabu, 09 Oktober 2019 12:08

9 di Korea, 1 di Berau

GILIRAN saya yang harus banyak bertanya dengan anak saya. Terutama…

Selasa, 08 Oktober 2019 15:04

Maunya yang Besar

MASIH ingat kejadian Oktober 2015 lalu? Kasus yang menyebabkan matinya…

Senin, 07 Oktober 2019 12:54

Setengah Saja

ANGKA yang diminta Wali Kota Balikpapan Rizal Effendi hanya Rp…

Minggu, 06 Oktober 2019 12:20

Bos Anda Menyebalkan?

DI setiap kesempatan, tak sedikit teman, sahabat atau orang lain yang…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia.
*