MANAGED BY:
KAMIS
24 OKTOBER
UTAMA | SANGGAM | PEMERINTAHAN | PARLEMENTARIA | EKONOMI | ALL SPORT | KOMBIS
Sabtu, 06 Juli 2019 14:13
Gara-Gara Nasi Pecel
KURANG TELITI: Ada yang tak biasa dalam foto ini. Ketika penulis mengabadikan momen menikmati nasi pecel di Jalan Pulau Derawan, hasil foto ada yang keliru. Mau diulang momen sudah berlalu.

PROKAL.CO, PERIKSA ulang bahkan berulang-ulang harus dilakukan. Apalagi untuk mengabadikan sebuah momen yang tak mungkin diulang. Jika tidak teliti dan diperiksa kembali, hasil jepretan foto jadi terganggu.

Tapi kata teman saya tak masalah. Setiap kejadian pasti ada hikmahnya. Bisa jadi teman saya Iwan mengelak dari kesalahan yang ia lakukan usai mengambil gambar dengan handphone. Teman saya sangat yakin bahwa hasilnya bagus. Kenyataannya, foto yang diambil dengan gaya kekinian. Seperti yang termuat dalam tulisan saya hari ini.

Mau diulang fotonya, sudah tak mungkin. Karena penjual nasi pecelnya sudah bubar. Ya Jumat (5/7) pagi, saya ingin menikmati suasana lain. Ada penjual nasi pecel yang sering mangkal di Jalan Pulau Derawan. Pengunjungnya ramai. Rasanya ketinggalan juga bila tidak merasakan nasi pecel itu.

Saya sengaja tidak ngobrol terlebih dahulu dengan penjualnya. Supaya tidak mengganggu saat melayani pembeli lainnya. Saya hanya pesan satu porsi nasi pecel. Penjualnya menanyakan lauknya apa? Ada hati ayam, ayam goreng, dan ikan bandeng presto. Saat menyebut bandeng presto, saya teringat setiap istri saya pulang kampung dari Semarang, pasti membawa bandeng presto. Tapi apa sama ya.

Ada meja kecil yang disiapkan. Saya memilih menyeberang jalan dan menikmatinya di turap tepian Sungai Segah. Di lokasi ini saya tidak sendirian. Ada sepasang suami istri masih berpakaian olahraga. Nampaknya selesai bersepeda. Asyik menikmati nasi pecel. Juga ada karyawan salah satu perusahaan tambang yang baru pulang setelah dinas malam. Pasti mereka sangat lapar. Bisa jadi lebih lapar dari saya.

Saya lupa memesan dengan porsi sedikit. Nasi dan sayur serta bumbu pecelnya lumayan banyak. Porsi ini bakal tidak bisa saya habiskan. Agar ada teman ngobrol, saya telepon teman biar bisa menemani sarapan dengan nuansa yang berbeda. Makan di tepi sungai sambil melihat kesibukan di Sungai Segah pagi itu.

Akhirnya kami bertiga dengan pesanan berbeda. Memang rasanya beda menikmati sarapan di ruang terbuka. Bisa sambil bercerita banyak tema. Yang pasti bahwa tingkat kesadaran warga akan kebersihan sudah sangat baik. Sepanjang Jalan Pulau Derawan pada sore hari penuh dengan penjual makanan dan minuman. Pagi hari sudah tidak terlihat sampah yang berserakan. Maklum Berau salah satu daerah peraih Adipura.

Saat menikmati nasi pecel itu, saya minta bantuan teman untuk merekam momen tersebut. Saya menyodorkan handphone yang dilengkapi fasilitas kamera. Tanpa basa basi, seperti biasanya langsung jepret dengan beberapa gaya. Saya pun tidak memeriksa setelah merekam gambar. Telepon saya simpan.

Dari penjual nasi pecel saya bergeser ke warung kopi Aceh. Di sini baru terlihat bahwa pengambilan gambar ada yang salah. Ada tambahan aplikasi yang digunakan saat mengambil gambar.  Walaupun jaraknya hanya beberapa puluh meter, namun momen sudah tidak bisa diulang, karena nasi pecelnya sudah habis. Penjualnya sudah pulang.

Sang penjual namanya Ismiati. Ia mulai berjualan sejak jam 5 pagi. “Dulu masih bisa habis 4 termos, sekarang hanya 2 termos nasi,” kata Ismi.

Masalahnya, karyawan perusahaan tak lagi berangkat dan datang di sekitar tempatnya berjualan. “Karyawannya sudah pindah. Ya pelanggan saya jadi berkurang,” ujar Ismi.

Jam 5 pagi posisi berjualan di sebelah kiri jalan, tak jauh dari turap sungai. Sekitar jam 7 pagi harus pindah di kanan jalan. Karena memang sepanjang jalan sebelah kiri dilarang parkir.

Saat pagi ketika warung belum buka, Bu Ismi juga menyediakan minuman. Saat warung buka, untuk minuman tak lagi disediakan dan diserahkan ke warung sekitar. “Bagi-bagi rezekilah,” kata dia. Menarik juga, sebuah kerja sama yang saling menguntungkan.

Nikmatnya nasi pecel Bu Ismi jadi terganggu memang ketika melihat hasil foto seperti itu. Tak apalah, pembaca pasti tidak mempermasalahkan. Bisa jadi pembaca hanya berkomentar, “foto Daeng Sikra hari ini bergaya kekinian”. (*/har)

loading...

BACA JUGA

Rabu, 23 Oktober 2019 14:18

Ada yang Gelisah

SAYA tidak mengikuti penuh pidato Pak Joko Widodo, usai dilantik…

Senin, 21 Oktober 2019 12:47

Titik Nol

SAMPAI sekarang, saya belum tahu di mana lokasi titik nol…

Senin, 21 Oktober 2019 10:56

WAJAH KOTA KOK GINI?

Jalan Kalimarau, Kecamatan Teluk Bayur, merupakan wajah Kabupaten Berau, mengingat…

Sabtu, 19 Oktober 2019 18:31

‘Kuch Kuch Hota Hai’

“Tanjung Redeb itu di mana sih?” Saya dengar pembicaraan teman…

Sabtu, 19 Oktober 2019 13:20

Bangku Taman

Oleh: ENDRO S EFENDI SELAMA ini, ilmu mengenai pikiran yang…

Jumat, 18 Oktober 2019 13:14

OTT

MENUNGGU dari tadi, tak muncul juga. Teh susu buatan Bu…

Rabu, 16 Oktober 2019 11:53

Tuha Sudah Wal

USIA tak bisa disembunyikan. Jalan kaki sebentar, lalu nafas terengal-engal,…

Selasa, 15 Oktober 2019 10:07

Tak Ada “Lawang”

“KALAU di Makassar, tidak ada lawang na,” kata teman saya asal…

Senin, 14 Oktober 2019 18:13

Bujurankah?

“Bujurankah?” tanya teman saya lewat pesan singkat. “Apanya nang bujur,”…

Minggu, 13 Oktober 2019 18:52

Nasib Pelayanan Kesehatan di Balik PMK NO.30/2019

TERBITNYA Peraturan Menteri Kesehatan (PMK) Nomor 30 Tahun 2019 menggantikan…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia.
*