MANAGED BY:
KAMIS
24 OKTOBER
UTAMA | SANGGAM | PEMERINTAHAN | PARLEMENTARIA | EKONOMI | ALL SPORT | KOMBIS
Selasa, 09 Juli 2019 15:03
‘Mini Market’ Jalan Manunggal
MINI MARKET: Penulis berada di lokasi ‘Mini Market’ Jalan Manunggal. Tempat alternatif bagi warga untuk berbelanja kebutuhan sehari-hari.

PROKAL.CO, SEBAGAI konsumen, tentu ingin mendapatkan apa yang diperlukan dengan segera. Setiap saat dan setiap waktu. Dan kehadiran tempat berbelanja yang dekat dengan tempat tinggal, tentu akan disambut dengan gembira.

Sampai hari ini, saya tidak pernah mendengar ada warga yang menyebut dengan nama ‘Pasar Manunggal’ atau ‘Pasar Jalan Manunggal’. Istri sayapun, bila akan berbelanja, hanya menyebut beli sayur di Jalan Manunggal atau di Jalan Milono.  Bukan ke Pasar Manunggal. Walaupun tempat itu, adalah bertemunya penjual dan pembeli untuk melakukan transaksi. Tak ada juga yang bisa marah, kalau sekali waktu ada yang menyebut Pasar Manunggal.

Saya kali ini menyebutnya ‘Mini Market’. Yang bila diartikan, mini artinya kecil dan market artinya pasar. Jadi, mini market sebuah pasar yang kecil, tapi menjual barang-barang yang bervariasi dan lengkap dalam pasar. Mini market biasanya disebut pada kegiatan yang berada dalam satu ruang tertutup. Sudahlah, kata teman saya, apalah arti sebuah nama.

Kemarin, Senin (8/7), saya mengunjungi tempat ini. Lokasinya kebetulan dekat dengan rumah saya. Tidak untuk berbelanja. Tapi, hanya untuk melihat suasananya. Karena sudah siang, pengunjungnya tidak seramai di pagi hari. Tak masalah, toh saya juga sering melihat bagaimana suasana pagi dan menjelang senja.

Saya ingat, dulu sering menyebutnya Gang Manunggal, bukan Jalan Manunggal. Jalan ini tembus antara Jalan APT Pranoto dan Jalan Milono. Tidak tahu, berapa jaraknya. Dan, tidak sepanjang jalan itu digunakan warga untuk berjualan. “Mungkin hanya 50 meter, daeng,” kata salah seorang penjual ikan yang sudah lama saya kenal.

Yang ditawarkan sama dengan apa yang ada di pasar basah, Adji Dilayas. Bedanya hanya satu. Di Jalan Manunggal tidak berjualan daging sapi. Tapi ada sayur-mayur dan bumbu lengkap, juga ikan dan ayam potong. Sesekali juga terdengar suara mesin, itu pertanda ada yang menjual kelapa parut.  Juga sama dengan yang ada di Pasar Sanggam Adji Dilayas.

Lalu, sejak kapan munculnya tempat berbelanja di Jalan Manunggal ini. Saya kira ini ada hubungan historis dengan Pasar Gayam dulu. Kesibukan Pasar Gayam (Pasar Inpres), juga dimanfaatkan oleh warga sekitar untuk ikut berjualan. Dan, saat Pasar Gayam ditutup, lalu dipindahkan ke Pasar Sanggam Adji Dilayas, masyarakat di Jalan Manunggal tetap berjualan. Ada toko di ujung jalan itu, yang saya ingat  memang sejak dulu berjualan sembako.

Sempat juga dikeluhkan warga, saat aktifitas penjualnya memanfaatkan jalan utama di Jalan Milono, tak jauh dari jembatan penyeberangan ke Sambaliung. Memang mengganggu arus lalu lintas, sebab kendaraan parkir bertumpuk, dan lokasi itu berdekatan dengan tikungan ke Jalan H Isa I. Sekarang tak tampak lagi. Kalau juga ada, hanya sebentar, khususnya di pagi hari.

Warga di kawasan Jalan Manunggal yang padat penduduk itu, serta yang di Jalan Milono, sangat terbantu dengan hadirnya ‘Mini Market’ Jalan Manunggal. Bahkan, warga yang tinggal di sepanjang Jalan P Diguna, juga turut terbantu. Termasuk dengan penjual keliling yang menggunakan motor.

Saya juga terbantu. Kalau tiba-tiba kehabisan cabe rawit, tomat, dan sayur sawi, tinggal meluncur ke Jalan Manunggal, persoalan selesai. Ada juga penjual yang buka hingga pukul 22.00 Wita.

Saya tidak pernah mendengar ada keluhan warga di Jalan Manunggal. Sebab, mereka juga memanfaatkan situasi. Yang tidak pernah niat untuk berjualan, akhirnya ikut berjualan.

Bagaimana masa depan ‘Mini Market’ ini? Saya prediksi akan terus berkembang. Kalau sekarang hanya 50 meter, mungkin tahun-tahun mendatang bisa dua kali lipatnya. Saya ingat di Samarinda, ada banyak pedagang yang berjualan di Gang Ijabah, Jalan P Antasari. Sekarang, akhirnya berubah lebih dikenal dengan Pasar Ijabah.

Tinggal bagaimana menatanya saja. Perlu ada koordinator, atau pihak kecamatan maupun kelurahan yang mengatur dengan baik. Dan secara teknis, ada dinas teknis yang lebih memahami bagaimana pasar bisa berjalan dengan rapi. Sebab, hampir semua barang yang ditawarkan, sumbernya juga dari Pasar Sanggam Adji Dilayas. Hanya namanya yang saya ubah menjadi ‘Mini Market’ Jalan Manunggal. (*/udi)

loading...

BACA JUGA

Senin, 21 Oktober 2019 12:47

Titik Nol

SAMPAI sekarang, saya belum tahu di mana lokasi titik nol…

Senin, 21 Oktober 2019 10:56

WAJAH KOTA KOK GINI?

Jalan Kalimarau, Kecamatan Teluk Bayur, merupakan wajah Kabupaten Berau, mengingat…

Sabtu, 19 Oktober 2019 18:31

‘Kuch Kuch Hota Hai’

“Tanjung Redeb itu di mana sih?” Saya dengar pembicaraan teman…

Sabtu, 19 Oktober 2019 13:20

Bangku Taman

Oleh: ENDRO S EFENDI SELAMA ini, ilmu mengenai pikiran yang…

Jumat, 18 Oktober 2019 13:14

OTT

MENUNGGU dari tadi, tak muncul juga. Teh susu buatan Bu…

Rabu, 16 Oktober 2019 11:53

Tuha Sudah Wal

USIA tak bisa disembunyikan. Jalan kaki sebentar, lalu nafas terengal-engal,…

Selasa, 15 Oktober 2019 10:07

Tak Ada “Lawang”

“KALAU di Makassar, tidak ada lawang na,” kata teman saya asal…

Senin, 14 Oktober 2019 18:13

Bujurankah?

“Bujurankah?” tanya teman saya lewat pesan singkat. “Apanya nang bujur,”…

Minggu, 13 Oktober 2019 18:52

Nasib Pelayanan Kesehatan di Balik PMK NO.30/2019

TERBITNYA Peraturan Menteri Kesehatan (PMK) Nomor 30 Tahun 2019 menggantikan…

Sabtu, 12 Oktober 2019 12:17

Hiu dan Hui

"SAYA Kecolongan,” kata Pak Agus Tantomo, Wakil Bupati Berau. Responsnya…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia.
*