MANAGED BY:
KAMIS
22 AGUSTUS
UTAMA | SANGGAM | PEMERINTAHAN | PARLEMENTARIA | EKONOMI | ALL SPORT | KOMBIS

UTAMA

Senin, 15 Juli 2019 15:43
Kembangkan Komoditi Pertanian Diiringi Peningkatan SDM

Cerita Peserta Pelatihan Pertanian Organik di The Learning Farm, Cianjur (1)

DAPAT ILMU: M Nur Ramadon (kiri), bersama rekan-rekannya tengah menggemburkan tanah gambut dengan penaburan kompos, sekam, dan kapur, sebelum melakukan proses penanaman pada program pelatihan di TLF, beberapa waktu lalu.

PROKAL.CO, Di era modern saat ini, dunia pertanian makin kurang diminati para kaum muda. Eksistensinya pun tergolong jauh di bawah komoditi pertambangan. Karena itu, PT Berau Coal mencoba membangkitkan kembali dunia pertanian di Berau, dengan mengirim remaja-remaja terbaik di lingkar tambang mengikuti pelatihan di The Learning Farm.

ARI PUTRA, Tanjung Redeb

Seiring perkembangan zaman yang kian modern dan tidak bisa terlepaskan dari genggaman teknologi, ketertarikan generasi milenial untuk terjun ke dunia pertanian, secara tidak langsung mulai terkikis.

Hal itu turut disadari PT Berau Coal, perusahaan terbesar bidang pertambangan batu bara di Bumi Batiwakkal -sebutan Kabupaten Berau. Melalui Yayasan Dharma Bakti Berau Coal (YDBBC), 12 remaja asal kampung lingkar tambang milik Berau Coal, diberangkatkan ke Kabupaten Cianjur, Jawa Barat pada awal tahun ini.

12 remaja yang berasal dari berbagai kampung itu mengikuti program pelatihan pertanian organik selama 100 hari di rumah The Learning Farm (TLF). Salah satu dari 12 pemuda yang diberangkatkan itu adalah Eusabius Mere, asal Kampung Sukan Tengah.

Pemuda berusia 21 tahun itu menceritakan alasan dirinya ingin mengikuti program pelatihan pertanian organik. Dia mengaku ingin sekali belajar dan memahami tentang bagaimana cara bertani secara organik.

"Karena sekarang ini ada banyak sekali petani-petani yang menggunakan obat-obatan yang berasal dari bahan kimia. Itu disebut dengan pertanian konvensional," katanya kepada awak media ini, Minggu (14/7).

Baginya, pertanian secara konvensional yang dilakukan kebanyakan petani saat ini, hanyalah bersifat sementara. Sebab, dari ilmu didapatkannya, bahan kimia yang digunakan para petani, akan berdampak negatif pada tanah di kemudian hari. Akhirnya berdampak juga pada tumbuhan pertaniannya.

Karena organisme yang ada di tanah bakal mati akibat penggunaan kimia secara berlebihan. Lalu matinya organisme akan berpengaruh pada ekosistem dan populasi dari organisme itu sendiri.

"Pertanian konvensional itu menurut saya, lebih memikirkan untuk masa sekarang saja. Dalam arti, dia (petani) sering menggunakan obat-obatan dan itu akan menjadi dampak negatif yang sangat besar," ucapnya.

"Organisme mati maka berdampak pada ekosistem dan populasi yang akan berkurang, dan untuk menghidupkan kembali, membutuhkan waktu yang sangat lama yaitu sampai 300 tahun," tambah putra dari Arnoldus Yansen Sika ini.

Di samping itu, untuk mengubah mindset petani yang ada saat ini, Eusabius berkeinginan untuk mengembangkan pertanian secara organik atau non pestisida. Dimulai dari pemetaan lahan teknik penyemaian dan teknik penanaman.

Diceritakannya, saat mengikuti kegiatan TLF di Jawa Barat, dia bersama rekan-rekannya berangkat sejak tanggal 12 Maret hingga 13 Mei. "Itu kami mulai dengan pengenalan diri dan staf di TLF. Pengenalan lingkungan dalam arti mengenal jenis-jenis tanaman, pengenalan dengan sayur dan bedengan sawah," ucapnya.

Sepulang dari pelatihan, dirinya pun sudah merasakan manfaatnya dengan mulai bertani dengan cara sendiri, tanpa bergantung dari luar bahan organik. Apalagi hal itu mampu menyelamatkan generasi selanjutnya dari dampak pertanian konvensional.

Bahkan, saat ini dirinya juga tengah menggarap salah satu project PT Berau Coal untuk menanam padi secara organik. "Saya juga sudah bisa mengajak para kelompok tani untuk kerja sama, salah satu contohnya di Gurimbang," tuturnya.

Peserta pelatihan lainnya, Muhammad Nor Ramadon, pemuda asal Kampung Bukit Makmur, juga memaparkan kegiatan selama pelatihan. Jadwal kegiatan disebutnya cukup padat. Dia bersama rekan-rekannya dari berbagai daerah, mulai beraktivitas sejak pukul 04.30 hingga 22.00 WIB.

Dengan kegiatan yang diawali ibadah Salat Subuh, lanjut dengan kegiatan piket bersih-bersih di asrama, kantor hingga dapur. Tak sampai di situ, pada pukul 06.00 WIB dilanjut dengan sarapan pagi selama setengah jam.

Kemudian apel dan kegiatan di lahan hingga siang hari. "Pukul 13.00-15.00 WIB pelajaran kelas. Pukul 15.10-17.00 WIB kegiatan kebun lagi dan pukul 18.00 WIB makan malam. Terus kegiatan kelas lagi, pukul 21.00 WIB apel malam dan terakhir pukul 22.00 WIB istirahat malam," ujarnya.

Dengan jadwal yang padat dan hanya libur sehari dalam sepekan, dirinya menyebut membutuhkan waktu sekitar dua pekan untuk bisa beradaptasi dengan kegiatan di TLF. Namun, dirinya merasakan sendiri saat ini manfaat dari pelatihan tersebut.

“Sekarang sudah tahu cara bercocok tanam yang baik, apalagi mengenai bertani organik. Bahkan sekarang inginnya bertani dengan cara organik terus. Bukan karena mudah, tapi organik ini lebih sehat dan hasilnya segar,” sebutnya.

Saat ini, dia bersama kedua temannya alumni TLF, tengah menggarap project dari Berau Coal untuk mengembangkan pertanian di Kampung Labanan Makarti. Untuk komoditinya, direncanakan menanam toga dan jagung khusus untuk pakan ayam.

Di tempat terpisah, Manager Community Development PT Berau Coal, Hikma mengatakan, program mengikutkan para pemuda ke TLF tersebut, adalah yang pertama dilakukan PT Berau Coal. Alasan dipilihnya bidang pertanian, karena potensinya sangatlah besar di Berau.

Sebab, dari data Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Berau untuk bidang pertanian masih sangat minim. Angkanya relatif sangat jauh dibandingkan dengan sektor pertambangan. “Ini yang mendorong kami untuk berpikir bagaimana ketergantungan masyarakat pada tambang mulai dikurangi, dengan cara menggali potensi yang ada, salah satunya adalah pertanian,” katanya.

Di saat bersamaan, TLF pun memberikan penawaran dengan mengajak PT Berau Coal bekerja sama, untuk memberangkatkan para pemuda lingkar tambang mengikuti pelatihan peningkatan SDM di bidang pertanian organik.

Program tersebut diikuti para pemuda hampir dari seluruh Indonesia, sehingga membuat pihaknya tertarik ikut ambil bagian. “Untuk proses seleksi sebelum berangkat saya melihat antusias yang ingin ikut cukup tinggi. Dan untuk proses seleksi ini dilakukan langsung oleh teman-teman dari TLF,” ujarnya.

Setelah selesai melaksanakan kegiatan selama kurang lebih 100 hari di Cianjur. Hikmah menyebut hal ini merupakan sebagai langkah awal bagi para peserta. Di mana pihaknya ingin implementasi dari hasil pelatihan pertanian organik bisa benar-benar berdampak pada dunia pertanian di Berau.

Karena itu, Berau Coal pun telah membuat project pertanian sawah di Kampung Seramut dengan menggandeng alumni TLF bersama para petani untuk melakukan penelitian. Sekaligus berbagi ilmu dengan para petani di kampung, tentang cara membuat pupuk organik. Program pengembangan lahan sawah juga bekerja sama dengan Dinas Pertanian dan Peternakan Berau, serta Balai Besar Penelitian Padi Sukamandi. “Rencananya kami akan menanam padi unggul juga di sana, yang berbeda dengan tanaman yang ditanam petani biasanya,” tuturnya.

Lebih lanjut, dirinya mengungkapkan, dari 12 orang yang berangkat 6 di antaranya meraih pencapain luar biasa dengan masuk 10 besar terbaik se Indonesia. Sehingga 6 orang itu akan kembali diikutsertakan pada program kedua yang dimulai Oktober nanti selama 200 hari.

Namun, sebelum itu, Hikma menginginkan ke-6 orang itu harus terlebih dahulu menunjukkan keberhasilan dari project yang sudah dilakukan sebelum Oktober nanti. Apabila berhasil, pihaknya siap membantu membiayai keberangkatan 6 orang tersebut ke program kedua itu.

“Project-nya seperti mendampingi petani di kampung yang kami tentukan atau kampung mereka sendiri. Jadi proses monitoring tetap kami lakukan,” imbuhnya.

Dirinya pun berharap program pelatihan TLF ini mampu berefek minimal pada keluarga peserta dan maksimal pada kampungnya sendiri. Karena sepengetahuannya, para peserta rata-rata dari keluarga petani dan kurang mampu. “Minimal bisa meningkatkan pendapatan bagi keluarganya dan maksimal untuk kampungnya. Kami tidak boleh tinggi dulu ekspektasinya pada mereka,” tandasnya. (***/udi)


BACA JUGA

Rabu, 21 Agustus 2019 20:44

Petani Nyambi Edarkan Sabu

TALISAYAN- Seorang petani berinisial HW (16) dan seorang buruh lepas,…

Rabu, 21 Agustus 2019 20:42

Pekerja Sawit Bawa Lari Gadis 15 Tahun

KELAY- Ariska, pemuda berusia 20 harus berurusan polisi karena diduga…

Rabu, 21 Agustus 2019 20:40

PLN Beri Sinyal Pemberian Kompensasi

TANJUNG REDEB – Keluhan masyarakat mengenai pemadaman listrik bergilir yang…

Rabu, 21 Agustus 2019 20:37

Pelajari Syarat Maju melalui Jalur Independen

Mengambil sebuah keputusan penting, tak mesti dari situasi genting. Tak…

Rabu, 21 Agustus 2019 20:36

SMA 5 Berau Juara III Nasional

TANJUNG REDEB- SMA 5 Berau kembali menambah deretan sekolah berprestasi…

Selasa, 20 Agustus 2019 10:49

22 Raperda Jadi PR Anggota Dewan

TANJUNG REDEB – 30 Anggota DPRD Berau periode 2019-2024, telah…

Selasa, 20 Agustus 2019 10:47

Listrik Padam, Satu Rumah Membara

TANJUNG REDEB- Musibah kebakaran menimpa rumah milik Rugah. Warga Gang…

Selasa, 20 Agustus 2019 10:45

Berat lewat Golkar, Jalur Independen Butuh Modal

Punya pengalaman menjadi pemimpin Bumi Batiwakkal – sebutan Kabupaten Berau…

Selasa, 20 Agustus 2019 10:44

Tembak Betis Pimpinan Komplotan

TANJUNG REDEB- Empat pelaku pencurian berinisial Wa (29), Ar (21),…

Selasa, 20 Agustus 2019 10:42

Tuntut Kompensasi dari PLN

TANJUNG REDEB– Pemadaman listrik bergilir kembali terjadi di Bumi Batiwakkal…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia.
*