MANAGED BY:
KAMIS
22 AGUSTUS
UTAMA | SANGGAM | PEMERINTAHAN | PARLEMENTARIA | EKONOMI | ALL SPORT | KOMBIS
Rabu, 17 Juli 2019 13:52
Diabadikan Jadi Nama Jalan
PENINGGALAN KORBAN: Penulis berfoto di rumah almarhum Nasir, korban penembakan Mundu yang terjadi pada Agustus 1992 lalu.

PROKAL.CO, BULAN Juli, harusnya masuk musim pancaroba. Setidaknya bisa menikmati perjalanan menyusuri perairan Berau dengan nyaman.

Tapi perjalanan ke Pulau Maratua kali ini, di luar dugaan. Gelombang dan alur laut jadi satu, membuat nyali jadi ciut. Kebetulan ada teman yang akan ke Maratua. Sayapun usul bisa ikut. Setibanya di pulau nanti, urusan akomodasi biar saya biayai sendiri.

Air sungai nampak tenang. Tapi tidak bisa jadi petunjuk bahwa kondisi di laut akan sama. Baru saja melewati perairan Kampung Kasai, sudah terlihat gelombang. Dalam hati saya, ini bakalan bergoyang hebat.

Awalnya ingin transit ke Pulau Derawan dulu, sambil menunggu cuaca teduh. Oleh motoris, mengambil komando untuk tetap lanjut. Alasannya, bila merapat ke Pulau Derawan, saat melanjutkan perjalanan nanti akan berhadapan dengan gelombang. Kalau lanjut, gelombang hanya menghantam dari samping.

Saya hanya bisa diam, sesekali melihat gelombang yang menghantam bodi speedboat dari samping kanan.

“Ini angin barat daya,” kata motoris. Itulah satu kelebihan sang motoris, tahu dari mana arah angin bertiup. Ketika melewati Pulau Semama, ada keinginan mampir di Pulau Kakaban. Tapi kembali harus diurungkan karena arus cukup deras. Akhirnya lanjut Maratua saja.

Idealnya, kalau cuaca bagus jarak tempuh hanya 2,5 jam. Kali ini harus menghabiskan waktu 3 jam. Lumayan menegangkan. Menembus ombak putih. Haha, jadi ingat lagu dari Kota Ambon. Antara Pulau Kakaban dan Pulau Maratua, ombaknya semakin dahsyat. Saya tak lagi ragu, karena daratan Pulau Maratua sudah terlihat.

Rencananya, akan sandar di pelabuhan kampung, tapi kondisi air sedang surut. Arah menuju pelabuhan terhalang karang. Tak ada pilihan lain, terpaksa menumpang di dermaga Paradise Resort. Di jalur ini, ada jalan dipagari karang, sehingga kondisinya terbebas dari gelombang. Hanya turun, dan selanjutnya menuju kampung. Kalau duduk, apalagi ikut minum teh, bisa dikenakan cas Rp 40 ribu per orang.

Tiba di Maratua, saya lalu teringat peristiwa perampokan yang terjadi di bulan Agustus tahun 1992. Saya berniat menelusuri jejaknya, termasuk jejak rumah yang dihujani peluru oleh perampok (Mundu) asal Filipina. Saya sempat bertemu dengan warga, yang saya pikir beliau pasti ada ketika peristiwa itu terjadi.

Dia hanya menujukkan rumah korban penembakan, yakni rumah Pak Muhamad Nasir. Letaknya tak jauh dari dari kantor camat. “Rasanya dulu rumah yang ditempati korban berupa kios,” kata Hamzah, menantu almarhum Nasir. “Saya waktu itu di Tarakan Pak, jadi tidak banyak tahu ceritanya,” kata menantu dari putri bungsu almarhum.

Di rumah itulah, saya masih sempat menyaksikan jenazah almarhum yang terbujur kaku dengan luka tembak di bagian kepala. Warga tak berani melanjutkan pemakaman, sebelum disaksikan oleh aparat keamanan. Waktu itu, saya datang dengan almarhum Pak Syamsuddin dari Kodim. Malam sebelum peristiwa, keluarga besar M Nasir, baru selesai menyelenggarakan pesta pernikahan sang adik.

Peristiwanya sudah cukup lama. Perjalanan waktu, juga membuat banyak perubahan. Rumah yang dulu dihujani peluru, tak jauh dari Masjid At Taqwa Maratua, sudah berubah bentuk. Dulu masih rumah kayu, sekarang sudah berubah menjadi rumah permanen. Seperti rumah warga di Kampung Bohe Bukut lainnya. Apalagi sekarang menjadi pulau wisata.

Sampai kapanpun, peristiwa penyerangan ‘Mundu’ masih sangat melekat di hati warga Maratua. Saat itu, petugas keamanan terbilang sedikit dengan persenjataan apa adanya. Beda dengan Mundu yang berbekal senjata M-16. Sekarang sudah ada setingkat polsek dan koramil, juga dari kesatuan Angkatan Laut yang bertugas di Maratua. Petugas keamanan juga sudah dilengkapi senjata yang canggih.

Untuk menghormati pengorbanan M Nasir yang merelakan jiwanya dengan gagah berani melawan Mundu, seluruh masyarakat dan aparat di Maratua setuju untuk mengabadikan nama almarhum. Maka, di jalan yang lokasinya tak jauh dari peristiwa penembakan, diabadikanlah menjadi Jalan M Nasir. Lokasinya tepat di tepi pantai Pulau Maratua, Kampung Bohe Bukut. (*/udi)


BACA JUGA

Rabu, 21 Agustus 2019 20:35

Tak Boleh Berkedip

LISTRIK baru diingat, saat listrik mati. Itu kalimat singkat Pak…

Selasa, 20 Agustus 2019 10:40

Bajakah

TIBA-TIBA jenis tanaman ini menjadi sangat terkenal. Pelajar asal Palangka…

Sabtu, 17 Agustus 2019 13:33

Berkibarlah Benderaku

GENAP 74 tahun Indonesia Merdeka. Upacara memperingati detik-detik Proklamasi digelar…

Jumat, 16 Agustus 2019 19:01

Menjadi Ibu Bahagia dengan Teknologi Pikiran

DI dunia ini semua orang pasti memilih ingin bahagia. Berbagai…

Jumat, 16 Agustus 2019 15:46

Dua Orang Hebat

JUMPA dua orang hebat yang tidak direncanakan, satu keberuntungan. Apalagi…

Kamis, 15 Agustus 2019 15:28

Darah dan Darah

HARIAN pagi Berau Post edisi Rabu (14/8) kemarin, pastilah laris…

Rabu, 14 Agustus 2019 13:30

Dikira Sarang Walet

Daerah penghasil sarang burung walet, bila diurutkan, Berau pasti berada…

Selasa, 13 Agustus 2019 15:08

Cerita di Gang Ancol

RASANYA baru kali ini saya malu dengan diri sendiri. Padahal…

Senin, 12 Agustus 2019 11:50

Bekerja di Warung Kopi

WACANA Aparatur Sipil Negara (ASN) boleh bekerja di rumah, menjadi…

Sabtu, 10 Agustus 2019 14:08

Senyuman Bu Rodiah

SEBAGAI konsumen untuk keperluan sehari-hari, tak perlu bersusah-susah ke pasar.…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia.
*