MANAGED BY:
KAMIS
22 AGUSTUS
UTAMA | SANGGAM | PEMERINTAHAN | PARLEMENTARIA | EKONOMI | ALL SPORT | KOMBIS

UTAMA

Rabu, 17 Juli 2019 13:54
Tambah Pengetahuan untuk Kemajuan Pertanian Berau

Cerita Peserta Pelatihan Pertanian Organik di The Learning Farm, Cianjur (3)

PEREMPUAN SATU-SATUNYA: Siti Aisyah (depan tengah) berfoto bersama jajaran PT Berau Coal di depan Rumah TLF.

PROKAL.CO, Buah jatuh tak jauh dari pohonnya. Mungkin perumpamaan itu cocok disematkan untuk Siti Aisyah. Putri petani asal Kampung Labanan Makarti, Teluk Bayur, yang menjadi salah satu peserta yang mengikuti pelatihan pertanian organik di Cianjur, Jawa Barat, beberapa bulan lalu.

ARI PUTRA, Tanjung Redeb

Usianya baru menginjak 20 tahun. Tapi Siti sudah mantap ingin menjadi penerus orangtuanya sebagai petani, namun dengan berbagai teknik dan inovasi yang mengikuti perkembangan zaman.

Siti merupakan satu di antara dua perempuan yang diberangkatkan PT Berau Coal melalui Yayasan Dharma Bakti Berau Coal (YDBBC), mengikuti pelatihan pertanian dengan sistem organik di The Learning Farm (TLF), Cianjur.

"Orangtua saya juga seorang petani, jadi saya belajar untuk mendalami ilmu pertanian organik," katanya kepada Berau Post, Selasa (16/7).

Meski peserta pelatihan didominasi kaum Adam, Siti mengaku tidak pernah minder. Karena baginya, bertani tidak hanya dilakukan kaum laki-laki, tapi juga bisa ditekuni perempuan.

Bahkan, dia secara terang-terangan mengaku sangat menyukai bertani, karena sedari kecil sering membantu orangtuanya. “Apalagi saya juga diistimewakan dengan teman-teman lain, karena saya perempuan satu-satunya dari Berau," tambahnya.

Ya, Siti akhirnya menjadi satu-satunya peserta perempuan asal Berau, setelah rekannya sesama perempuan pulang terlebih dahulu sehingga tak bisa menuntaskan pelatihan, karena alasan tertentu.

Selama di Cianjur, perempuan berhijab ini sempat mengalami kesulitan untuk beradaptasi dengan padatnya kegiatan di TLF. Pasalnya, dia dan teman-temannya harus bangun sedari subuh untuk memulai kegiatan. "Kesulitannya bangun terlalu pagi dan ke kebun yang terlalu sering. Sempat juga merasa bosan," tuturnya tersenyum.

Namun, dirinya mengaku bersyukur bisa menjadi bagian dari program pelatihan pertanian organik tersebut. Karena banyak mendapat ilmu sepulangnya dari Cianjur.

Tidak sekadar mengetahui sistem dan cara bercocok tanam menggunakan sistem organik, dirinya juga lebih mengetahui jenis-jenis tanaman dan jarak tanam. "Tahu kalau tumbuhan itu butuh fotosintesis. Juga sekarang tahu membuat pupuk organik dan lain-lain," imbuhnya.

Pengetahuan Siti tentang bertani yang sebelumnya didapat dari kedua orangtuanya, cukup menjadi dasar bagi dirinya selama mengikuti pelatihan. Bahkan dirinya bersama lima rekan lainnya asal Berau, berhasil masuk 10 besar terbaik dalam program pelatihan itu. Kesuksesannya itu lantas diganjar dengan mendapat kesempatan mengikuti pelatihan selanjutnya selama 200 hari di TLF, Oktober nanti.

Karena itu, sepulang dari pelatihan, Siti langsung mengimplementasikan hasil atau pengetahuan yang dia dapat selama di TLF. "Kami juga berharap besar semoga Berau Coal bisa membantu menyelesaikan kegiatan yang akan kami laksanakan," harapnya.

Namun, bukan hanya Siti yang berasal dari keluarga petani pada pelatihan di TLF beberapa waktu lalu. Martinus Lake Tukan, pemuda asal Kampung Gurimbang, Kecamatan Sambaliung, juga berasal dari keluarga petani.

Sejak kecil, Martin – begitu dia akrab disapa – sudah tidak asing dengan lahan pertanian dan bercocok tanam. Hal itulah yang menjadi alasannya ingin bergabung pada program pelatihan yang dilaksanakan PT Berau Coal.

"Saya mau menambah pengalaman saya tentang pertanian dan ingin menambah teman juga. Karena kebetulan, saya juga baru lulus sekolah," katanya.

Dari pelatihan yang diikutinya, pengetahuan pemuda kelahiran 12 November 2000 tersebut soal pertanian semakin bertambah. Karena selama ini dia memahami, bahwa bertani tak bisa lepas dari bahan-bahan kimia, baik untuk pupuk maupun hal lainnya.

"Memang di sana (TLF) harus bangun pagi dan cuacanya juga dingin. Hampir satu pekanlah adaptasi di sana," ujarnya.

Waktu 100 hari mengikuti pelatihan, memang terasa singkat bagi Martin. Tapi sudah sangat banyak ilmu yang dia dapat, seperti cara-cara menanam, memberi pupuk, hingga cara berkomunikasi yang baik dengan orang lain.

Ilmu yang baru didapatkannya tak ingin disia-siakannya. Dirinya bersama teman-temannya langsung mencoba mengimplementasikannya, untuk mengembangkan pertanian di kampungnya.

"Saya dan teman-teman dari pelatihan TLF dan petani di Gurimbang, mencoba mempraktikkan yang kami dapat," tuturnya.

Meski harus memulai dari nol, Martin bersama rekan-rekannya sangat semangat untuk menunjukkan hasil dari pelatihan yang diikutinya. Apalagi saat membuka lahan, dia dan rekannya tidak lagi didampingi mentornya, seperti saat di TLF. "Tapi kami yakin bisa menunjukkan hasil dengan mengimplementasikannya di Gurimbang ini," tutupnya.

Sebelumnya, Manager Community Development PT Berau Coal, Hikma mengatakan, program mengikutkan para pemuda ke TLF tersebut, adalah yang pertama dilakukan PT Berau Coal. Alasan dipilihnya bidang pertanian, karena potensinya sangatlah besar di Berau.

Sebab, dari data Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Berau untuk bidang pertanian masih sangat minim. Angkanya relatif sangat jauh dibandingkan dengan sektor pertambangan. “Ini yang mendorong kami untuk berpikir bagaimana ketergantungan masyarakat pada tambang mulai dikurangi, dengan cara menggali potensi yang ada, salah satunya adalah pertanian,” katanya.

Di saat bersamaan, TLF pun memberikan penawaran dengan mengajak PT Berau Coal bekerja sama, untuk memberangkatkan para pemuda lingkar tambang mengikuti pelatihan peningkatan SDM di bidang pertanian organik.

Program tersebut diikuti para pemuda hampir dari seluruh Indonesia, sehingga membuat pihaknya tertarik ikut ambil bagian. “Untuk proses seleksi sebelum berangkat saya melihat antusias yang ingin ikut cukup tinggi. Dan untuk proses seleksi ini dilakukan langsung oleh teman-teman dari TLF,” ujarnya.

Setelah selesai melaksanakan kegiatan selama kurang lebih 100 hari di Cianjur. Hikmah menyebut hal ini merupakan sebagai langkah awal bagi para peserta. Di mana pihaknya ingin implementasi dari hasil pelatihan pertanian organik bisa benar-benar berdampak pada dunia pertanian di Berau.

Karena itu, Berau Coal pun telah membuat project pertanian sawah di Kampung Seramut, dengan menggandeng alumni TLF bersama para petani untuk melakukan penelitian. Sekaligus berbagi ilmu dengan para petani di kampung, tentang cara membuat pupuk organik. Program pengembangan lahan sawah juga bekerja sama dengan Dinas Pertanian dan Peternakan Berau, serta Balai Besar Penelitian Padi Sukamandi. “Rencananya kami akan menanam padi unggul juga di sana, yang berbeda dengan tanaman yang ditanam petani biasanya,” tuturnya.

Lebih lanjut, dirinya mengungkapkan, dari 12 orang yang berangkat 6 di antaranya meraih pencapaian luar biasa dengan masuk 10 besar terbaik se-Indonesia. Sehingga 6 orang itu akan kembali diikutsertakan pada program kedua yang dimulai Oktober nanti selama 200 hari.

Namun, sebelum itu, Hikma menginginkan ke-6 orang itu harus terlebih dahulu menunjukkan keberhasilan dari project yang sudah dilakukan sebelum Oktober nanti. Apabila berhasil, pihaknya siap membantu membiayai keberangkatan 6 orang tersebut ke program kedua itu.

“Project-nya seperti mendampingi petani di kampung yang kami tentukan atau kampung mereka sendiri. Jadi proses monitoring tetap kami lakukan,” imbuhnya.

Dirinya pun berharap program pelatihan TLF ini mampu berefek minimal pada keluarga peserta dan maksimal pada kampungnya sendiri. Karena sepengetahuannya, para peserta rata-rata dari keluarga petani dan kurang mampu. “Minimal bisa meningkatkan pendapatan bagi keluarganya dan maksimal untuk kampungnya. Kami tidak boleh tinggi dulu ekspektasinya pada mereka,” tandasnya. (***/bersambung/udi)


BACA JUGA

Rabu, 21 Agustus 2019 20:45

Penasihat Hukum Minta Terdakwa Dibebaskan

TANJUNG REDEB – Setelah dituntut satu tahun penjara, terdakwa dugaan…

Rabu, 21 Agustus 2019 20:44

Petani Nyambi Edarkan Sabu

TALISAYAN- Seorang petani berinisial HW (16) dan seorang buruh lepas,…

Rabu, 21 Agustus 2019 20:42

Pekerja Sawit Bawa Lari Gadis 15 Tahun

KELAY- Ariska, pemuda berusia 20 harus berurusan polisi karena diduga…

Rabu, 21 Agustus 2019 20:40

PLN Beri Sinyal Pemberian Kompensasi

TANJUNG REDEB – Keluhan masyarakat mengenai pemadaman listrik bergilir yang…

Rabu, 21 Agustus 2019 20:37

Pelajari Syarat Maju melalui Jalur Independen

Mengambil sebuah keputusan penting, tak mesti dari situasi genting. Tak…

Rabu, 21 Agustus 2019 20:36

SMA 5 Berau Juara III Nasional

TANJUNG REDEB- SMA 5 Berau kembali menambah deretan sekolah berprestasi…

Selasa, 20 Agustus 2019 10:49

22 Raperda Jadi PR Anggota Dewan

TANJUNG REDEB – 30 Anggota DPRD Berau periode 2019-2024, telah…

Selasa, 20 Agustus 2019 10:47

Listrik Padam, Satu Rumah Membara

TANJUNG REDEB- Musibah kebakaran menimpa rumah milik Rugah. Warga Gang…

Selasa, 20 Agustus 2019 10:45

Berat lewat Golkar, Jalur Independen Butuh Modal

Punya pengalaman menjadi pemimpin Bumi Batiwakkal – sebutan Kabupaten Berau…

Selasa, 20 Agustus 2019 10:44

Tembak Betis Pimpinan Komplotan

TANJUNG REDEB- Empat pelaku pencurian berinisial Wa (29), Ar (21),…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia.
*