MANAGED BY:
JUMAT
20 SEPTEMBER
UTAMA | SANGGAM | PEMERINTAHAN | PARLEMENTARIA | EKONOMI | ALL SPORT | KOMBIS
Sabtu, 20 Juli 2019 15:56
Berharap Hujan Turun
DIJUAL: Air tawar menjadi salah satu komoditi penting di pulau Maratua. Penulis saat menyaksikan proses pengisian air ke salah satu penampungan air di Maratua

PROKAL.CO, DI pulau yang tanahnya adalah batu karang, mendapatkan air tawar menjadi persoalan utamanya. Karena tidak semua kampung di Maratua, mendapat berkah sumber mata air. Hanya ada di Kampung Teluk Harapan atau Bohe Bukut.

Saya masih ingat, pemkab pernah membangun jaringan pipa yang panjangnya berkilo-kilo meter. Dari kolam penampung di Teluk Harapan sampai ke Payung-Payung. Juga ke Bohe Silian dan Teluk Alulu. Tapi, pipa berwarna hitam itu adalah proyek tanpa makna. Mengapa? Air yang akan dialirkan, debitnya tak cukup. Kayaknya, pipa tersebut tak terlihat lagi.

Dari catatan yang saya miliki, Pulau Maratua memiliki luas 4.119,54 km2 itu terbagi menjadi empat kampung, yang masing-masing jumlah Kepala Keluarga (KK) mencapai ratusan. Di Bohe Silian misalnya, dihuni 206 KK, Payung-Payung 138 KK, Teluk Alulu 141 KK, dan Teluk Harapan 220 KK, dengan total jiwa di empat kampung tersebut sekitar 4.260 jiwa.

Sebanyak itulah yang memerlukan air tawar setiap harinya. Kalau setiap orang memerlukan 5 liter saja setiap hari, sebanyak itu pula pasokan air yang harus dipenuhi.

Sumbernya dari mana? Di banyak rumah, mereka membuat sumur yang berharap mendapatkan mata air tawar. Entah bagaimana alam melakukan seleksi, air tawar hanya ada di Teluk Harapan. Debitnya juga lumayan besar, dari semua sumur yang ada. Dan tak bisa dihindari, jual beli air tawarpun berlangsung.

Saat saya di Maratua pekan lalu, saya melihat banyak kendaraan pikap yang memuat tandon air berwarna kuning, berkapasitas 1.200 liter. Mobil pikap tersebut bolak-balik membawa air. Dibawa ke mana saja air tersebut. Di bawa pada pelanggan yang ada di tiga kampung lainnya. Selain ke rumah-rumah penduduk, juga melayani resor yang ada. Kabarnya air satu tangki, dijual Rp 100 ribu.

Dari kebutuhan air saja, warga harus memiliki anggaran khusus membeli air tawar untuk kebutuhan di rumah mereka. Juga fasilitas umum lainnya, puskesmas dan resor wisata yang kebutuhan airnya sangat besar.

Untuk penduduk saja yang jumlahnya 4 ribu lebih, memerlukan air yang banyak. Bagaimana dengan hadirnya wisatawan di setiap akhir pekan, yang kadang-kadang jumlahnya membludak. “Kadang-kadang, kami pasok ratusan tanki ke resor yang ada,” kata salah seorang warga yang menggeluti penjualan air tawar.

Saya bisa membayangkan, bahwa tarif menginap di Home Stay maupun di resor, kalau ditetapkan lumayan besar, salah satu penyebabnya adalah air. Air menjadi bagian penting dalam penentuan tarif menginap. Bisa dibayangkan bila resor atau home stay, sekali waktu kehabisan air. Bisa diklaim pengunjung.

Tahu kondisi seperti itu, untuk cuci tanganpun di penginapan milik Pak Jamal, saya harus bersikap irit. Menggunakan air seperlunya. Juga ketika di Pratasaba Resor tempat saya menginap, mandipun harus berhitung. Nampaknya, stelan air panas yang ada di resor sudah tidak sederas di rumah saya. Jadi, resor juga sudah berhitung matang-matang.

Saya berbincang dengan beberapa warga soal pemenuhan air tawar mereka. Untuk saat ini, mungkin masih bisa terpenuhi dari sumur mata air. Lama-lama, saringan alam yang memproses air laut menjadi tawar, debitnya sudah tak banyak lagi. Maka, diperlukan teknologi penyulingan air yang debitnya cukup besar. Hanya itu yang bisa dilakukan.

Hujan salah satunya yang bisa menjadi penyelamat. Bila hujan turun, warga berlomba menampungnya. Sekadar untuk digunakan mandi dan mencuci. Bukan untuk dikonsumsi. Namun, dalam beberapa pekan, Maratua hampir tak pernah diguyur hujan. Ini yang menyebabkan permintaan air tawar cukup tinggi. “Biasanya ada saja hujan biar sehari, tapi ini dalam beberapa minggu tidak turun hujan,” kata Pak Jamal.

Mungkin suatu saat nanti, entah di wilayah mana, sumber mata air tawar bisa ditemukan. Seperti yang ada di Pulau Derawan, hampir semua lahan bila digali bisa mendapatkan air tawar yang banyak. Mata air di Maratua, keluar dari sela-sela batu karang, juga didukung oleh resapan air.

Bila pembukaan lokasi wisata yang tidak memperhitungkan keseimbangan alam, mungkin mata airpun akan berhenti mengalir pada suatu waktu. Dan tak ada harapan lain, kecuali berharap berkah turunnya air hujan. (*/udi)

loading...

BACA JUGA

Kamis, 19 September 2019 17:53

Minta Perpanjang

KIRIMAN belum datang. Berarti sudah seminggu. Petugas kargo bilang, belum…

Rabu, 18 September 2019 17:25

Ikan Belanak

TIDAK datang malam hari. Repot menembus keramaian. Sisi kiri dan…

Selasa, 17 September 2019 12:49

Buka Bungkus

ISTILAH buka bungkus biasanya disebut untuk barang baru. Barang yang…

Senin, 16 September 2019 17:54

Kado Ulang Tahun

HARI ini, Senin (15/9), Kasbupaten Berau genap berusia 66 tahun.…

Sabtu, 14 September 2019 13:54

Jerebu

MASIH ingat peristiwa yang sama tahun 2015 lalu? Situasinya sama…

Jumat, 13 September 2019 10:01

Agar Tak Lupa

TEROBOSAN ataupun inovasi, atau apapun namanya, memang perlu terus dilakukan.…

Kamis, 12 September 2019 15:04

Pilihan

CARILAH pilihanmu. pilih yang terbaik dan lakukan itu. Itu salah…

Rabu, 11 September 2019 18:49

Burung Kenari

SEJAK lama, sudah ada pedagang yang berinisiatif berjualan burung. Jualannya…

Selasa, 10 September 2019 15:43

Tidak Terbuang

HANYA beberapa bulan saja tidak mengunjungi Teluk Bayur, kemajuannya begitu…

Senin, 09 September 2019 18:41

Tarmizi Hakim

KALAU saya menulis nama lengkap dr.Tarmizi Hakim, Sp.BTKV. Gelar yang…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia.
*