MANAGED BY:
MINGGU
25 AGUSTUS
UTAMA | SANGGAM | PEMERINTAHAN | PARLEMENTARIA | EKONOMI | ALL SPORT | KOMBIS
Sabtu, 10 Agustus 2019 14:08
Senyuman Bu Rodiah
HEBAT: Inilah salah satu perempuan hebat yang ditemui penulis. Bu Rodiah, pedagang keliling yang setiap hari setia menemui pelanggannya.

PROKAL.CO, SEBAGAI konsumen untuk keperluan sehari-hari, tak perlu bersusah-susah ke pasar. Cukup menunggu saja di rumah, dan pedagang keliling akan mampir. Kalau ada pesanan khusus, bisa melalui telepon.

Dalam sepekan ini, cuaca di Berau tak seperti biasanya. Mungkin pertanda awal kemarau panjang. Panasnya luar biasa. Menurut catatan teman-teman, lebih dari 34 derajat celcius.

Rasanya malas melakukan aktivitas di luar rumah. Selain panas, udara juga mulai tak jernih. Bisa jadi ada kebakaran lahan, yang asapnya sampai ke Tanjung Redeb.

Berita yang termuat pada halaman Batiwakkal Berau Post, edisi Jumat (9/8) kemarin, cukup menarik perhatian. Ada keluhan dari Badan Pusat Statistik (BPS) yang merasa sulit mengumpulkan data, karena tidak mendapat pasokan dari sekian banyak sumber data. Saya ingat dulu, di saat data masih dilakukan secara manual. Setiap hari, harus mengirimkan data dalam bentuk print out komputer maupun manual yang diketik. Salah satu tujuan surat, ya ke BPS.

Bila sekarang ada keluhan sulitnya mendapatkan data, saya jadi terheran-heran. Apalagi data yang dimaksud BPS adalah data dari instansi. Pastilah datanya penting. Kalau sekarang ada yang bicara soal pertumbuhan ekonomi, lalu dasarnya apa. Sementara kewenangan dalam mengumpulkan data ada pada BPS. Betul, BPS wajib dan menjadi keharusan untuk menanyakannya.

Saya pikir ini hanya karena tidak serius saja. Untuk mengirimkan data di zaman sekarang, seorang petugas tidak perlu bergerak jauh. Bisa saja, data dikirim melalui surat elektronik. Dipastikan tidak akan pernah terlambat. Apa yang menjadi keluhan BPS, sepertinya perlu mendapat perhatian.

Seperti aktivitas sebelumnya, usai membaca surat kabar Berau Post, maupun berita yang terbit online kemarin, saya juga menyusuri jalan-jalan utama di Tanjung Redeb. Ada kesibukan pengerjaan trotoar di Jalan SA Maulana, ada pengalihan arus kendaraan. Sebagai warga, saya patuh saja. Usai pengerjaan itu, trotoar pasti akan menjadi cantik.  Seperti yang ada di depan kantor bupati.

Saya lalu mampir ke salah satu warung di Jalan Pemuda.  Warung milik Almarhum Pak Nyoman Rae Saputra. Soto Banjarnya enak. Juga kopi susunya. Banyak karyawan sering mampir, sambil menunggu waktu salat.

Ternyata Bu Rodiah, juga menjadikan tempat ini untuk istirahat sejenak. Bu Rodiah ini penjual sayur keliling. Dulu ia masih berjalan kaki menjajakan dagangannya. Setelah 20 tahun Bu Rodiah sudah naik motor.

Dia harus bangun pagi sekali. Tak bisa terlambat. Harus ke Pasar Sanggam Adji Dilayas, membeli sayur-mayur dan bumbu serta ikan dan ayam untuk dijajakan kembali. Setelah berbelanja, bukan berarti kesibukan selesai. Ia harus membungkus satu persatu, sesuai porsi dan harganya. “Itu yang saya lakukan setiap hari,” kata Rodiah yang tinggal di Gang Ancol, Jalan Yos Sudarso.

Apa yang dilakukan Bu Rodiah ini, tidak seorang diri.  Jumlahnya ratusan, khusus yang menggunakan motor. Ada juga yang menggunakan mobil untuk menjangkau pelanggannya di tempat yang jauh. Ada yang sampai ke Tanjung Batu, Kecamatan Pulau Derawan, maupun ke Labanan. “Sekarang banyak yang jualan, jadi banyak saingan,” kata Rodiah.

Untuk jenis yang tahan lama, mungkin tak jadi soal. Kalau jenis ikan, bila tak ada pembeli, meskipun ada pendingin di rumahnya, tetap hanya bisa bertahan 3 hari. Kalau juga tak laku, terpaksa dikonsumsi sendiri. Kalau ayam, lebih bagus.  Sebab di tempatnya mengambil, bila tak laku bisa dikembalikan.

Bu Rodiah salah satu dari sekian banyak yang saya anggap sebagai pejuang. Ia menjadi pejuang bagi keluarganya. Juga pejuang bagi warga yang waktunya terbatas untuk menuju berbelanja langsung ke pasar. Keuletan dan semangat Bu Rodiah adalah cermin bagaimana harus bekerja keras dalam memenuhi kebutuhan hidup.

Ternyata, setelah berbincang agak lama dengan Bu Rodiah, istri saya sebagai salah satu pelanggannya. Tapi, katanya, sekarang tidak lagi. “Kenapa pak, istri bapak tidak langganan sayur dengan saya lagi,” kata bu Rodian. Aduh, bagaimana saya harus menjawabnya. “Iya, nanti kalau saya pulang ke rumah akan saya tanyakan pada istri saya,” kata saya. Bu Rodiah pun tersenyum. Sungguh, saya tidak bisa menerjemahkan senyuman Bu Rodiah. (*/udi)


BACA JUGA

Sabtu, 24 Agustus 2019 11:17

Ikan Nenek

MENGAPA disebut Ikan Nenek? Apa karena usianya atau karena tercatat…

Jumat, 23 Agustus 2019 18:58

LOB

BANYAK cara untuk menikmati wisata di laut. Salah satunya, wisata…

Kamis, 22 Agustus 2019 13:01

Puisi Sunarti

SAYA sangat percaya, wakil bupati Berau Agus Tantomo, mendapatkan banyak…

Rabu, 21 Agustus 2019 20:35

Tak Boleh Berkedip

LISTRIK baru diingat, saat listrik mati. Itu kalimat singkat Pak…

Selasa, 20 Agustus 2019 10:40

Bajakah

TIBA-TIBA jenis tanaman ini menjadi sangat terkenal. Pelajar asal Palangka…

Sabtu, 17 Agustus 2019 13:33

Berkibarlah Benderaku

GENAP 74 tahun Indonesia Merdeka. Upacara memperingati detik-detik Proklamasi digelar…

Jumat, 16 Agustus 2019 19:01

Menjadi Ibu Bahagia dengan Teknologi Pikiran

DI dunia ini semua orang pasti memilih ingin bahagia. Berbagai…

Jumat, 16 Agustus 2019 15:46

Dua Orang Hebat

JUMPA dua orang hebat yang tidak direncanakan, satu keberuntungan. Apalagi…

Kamis, 15 Agustus 2019 15:28

Darah dan Darah

HARIAN pagi Berau Post edisi Rabu (14/8) kemarin, pastilah laris…

Rabu, 14 Agustus 2019 13:30

Dikira Sarang Walet

Daerah penghasil sarang burung walet, bila diurutkan, Berau pasti berada…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia.
*