MANAGED BY:
SABTU
21 SEPTEMBER
UTAMA | SANGGAM | PEMERINTAHAN | PARLEMENTARIA | EKONOMI | ALL SPORT | KOMBIS
Rabu, 11 September 2019 18:49
Burung Kenari
DIMINATI: Penulis bertemu Pak Jhon, penjual burung yang menjajakan dagangannya di tepi jalan. Peminatnya lumayan banyak.

PROKAL.CO, SEJAK lama, sudah ada pedagang yang berinisiatif berjualan burung. Jualannya di pinggir jalan raya. Juga sejak lama, kelompok pencinta burung berkicau bergabung dalam beberapa kelompok. Sering mengadakan lomba. Hadiahnya juga lumayan besar.

Alhamdulillah, Selasa (10/9) kemarin, sejak beberapa hari dihajar panas dan asap, akhirnya turun hujan. Tidak terlalu lebat. Lumayan buat mengusir udara panas yang mencapai 34 derajat. Perubahan udara seperti ini, cukup rawan. Ketahanan tubuh harus diperhatikan, bila tidak ingin terserang penyakit.

Hujan turun juga menjadi berkah. Meringankan tugas penyiram tanaman median jalan, yang mulai nampak menggersang kekeringan. Juga saya tidak lagi menyiram pepohonan di halaman rumah saya. Tidak lagi menyiram jalan yang berdebu.

Sebelum hujan. Sekembalinya dari kawasan Rinding, masih menyaksikan antrean panjang kendaraan. Saya melewati 3 SPBU. Tiga-tiganya penuh antrean kendaraan. Saya kadang bingung juga, mengapa antrean ini tidak pernah habis. Jenis kendaraan yang antrepun, rasanya yang itu-itu juga.

Saya tak mau berburuk sangka. Bisa saja karena mobilitasnya yang tinggi, sehingga harus lebih banyak melakukan pengisian bahan bakar. Begitupun mobil ukuran besar, kendaraan antarkota dalam provinsi. Ada juga bernomor plat luar provinsi. Saya sempat berbelok untuk mengisi bahan bakar, yang jenis pertalite. Ternyata persediaan lagi kosong.

Saya kembali ke arah Tanjung Redeb. Saya menepi di ruas jalan, di mana terlihat ada penjual burung. Saya sering lewat, baru kali ini berinisiatif untuk mampir. Mau melihat, jenis burung apa saja yang ditawarkan. Kalau ada yang cocok, saya berencana untuk membeli.

Di rumah, ada seekor burung kenari. Hanya sendiri. Setiap pagi bernyanyi merdu. Saya tidak tahu, suara merdu itu karena memang lagi ceria. Atau, suara merdu karena kesendirian. Berencana membeli burung sejenis. Biar setiap pagi bersahut-sahutan. Agar burung kenari berwarna putih itu, ada temannya berkicau.

Namanya Pak Jhon. Penjual burung yang sudah lama malang melintang menjajakan burung. Sangkar disusun tiga tingkat. Diisi dengan burung berbagai jenis. Saya perhatikan satu persatu. Jangan-jangan dia menjual burung yang dilarang diperjualbelikan.

Aman. Lebih banyak burung hasil budi daya. Ada berapa jenis yang didapatkan dari alam liar. Ada juga kelinci yang belum usia dewasa. Juga ayam serana.  Ayam yang dadanya dibusungkan kalau berjalan. “Pembelinya tidak tentu pak,” kata Pak Jhon. 

Burung yang ditawarkan kebanyakan burung taman. Ada jenis murai dan kenari yang bisa dilombakan, masih butuh waktu lama.

Jadwal jualannya tidak tentu. Bisa sebulan di Tanjung Redeb, bulan berikutnya ada di Malinau. Berikutnya lagi, jualan di Bulungan, lanjut ke Tarakan. “Harus mendekati pembelinya,” kata Jhon. Harganya juga bervariasi. “Paling mahal dijual seharga Rp 800 ribu,” kata dia.

Saya tertarik dengan burung kenari berwarna kuning muda. Disimpan terpisah dari burung lainnya. Harganya Rp 500 Ribu tanpa sangkar. Kebetulan di rumah saya ada sangkar yang pernah dihuni sepasang love bird.

Burung kenari saya siap beli. Tapi saya tidak langsung bawa pulang. Saya simpan saja dulu. Besok atau lusa, saya akan kembali mengambilnya. “Kalau ada yang mau beli, berikan aja Pak,” pesan saya pada Pak Jhon.

Yang menarik, kata Pak Jhon, kadang ada pembeli yang mengambil dalam jumlah puluhan. Bukan untuk disimpan dalam sangkar di taman. Juga tidak dipelihara, hingga setelah pintar dan suaranya bagus ikut kontes. Tapi, burung itu dibeli lalu dilepas.

Saya percaya itu. Ada teman saya yang mau membuka usaha di Bidukbiduk. Salah satu syaratnya, melepas ratusan ekor burung di kawasan di mana ia akan memulai usaha. “Pelanggan begitu yang banyak pak,” kata Jhon.

Tepi teman saya lagi, justru sebaliknya. Dia tidak respek melihat siapapun menyimpan burung dalam sangkar. Juga tidak mau menghadiri kalau diundang acara kontes suara burung. Teman saya bilang, kalau memang menyayangi burung, kenapa harus dibuat merana dalam sangkar.

Kalau sayang burung, mengapa dieksploitasi suaranya.  Harusnya dilepas ke alam bebas. Biar kita semua mendengar suara indahnya dari alam, bukan dari balik sangkar.

Tak nyaman juga rasanya. Burung kenari saya di rumah suaranya merdu. Kalau saya lepaskan, dia akan terbang jauh. Yang dengar suara merdunya, jauh dari rumah saya. Giliran saya yang rindu suara si burung kenari. Hehe, moga saja, untuk saya ada pengecualian. (*/udi)

 

 

loading...

BACA JUGA

Jumat, 20 September 2019 17:43

Wajah Baru

BEDA seminggu. Sama-sama di bulan September. Produknya juga sama. Hasil…

Kamis, 19 September 2019 17:53

Minta Perpanjang

KIRIMAN belum datang. Berarti sudah seminggu. Petugas kargo bilang, belum…

Rabu, 18 September 2019 17:25

Ikan Belanak

TIDAK datang malam hari. Repot menembus keramaian. Sisi kiri dan…

Selasa, 17 September 2019 12:49

Buka Bungkus

ISTILAH buka bungkus biasanya disebut untuk barang baru. Barang yang…

Senin, 16 September 2019 17:54

Kado Ulang Tahun

HARI ini, Senin (15/9), Kasbupaten Berau genap berusia 66 tahun.…

Sabtu, 14 September 2019 13:54

Jerebu

MASIH ingat peristiwa yang sama tahun 2015 lalu? Situasinya sama…

Jumat, 13 September 2019 10:01

Agar Tak Lupa

TEROBOSAN ataupun inovasi, atau apapun namanya, memang perlu terus dilakukan.…

Kamis, 12 September 2019 15:04

Pilihan

CARILAH pilihanmu. pilih yang terbaik dan lakukan itu. Itu salah…

Rabu, 11 September 2019 18:49

Burung Kenari

SEJAK lama, sudah ada pedagang yang berinisiatif berjualan burung. Jualannya…

Selasa, 10 September 2019 15:43

Tidak Terbuang

HANYA beberapa bulan saja tidak mengunjungi Teluk Bayur, kemajuannya begitu…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia.
*