MANAGED BY:
RABU
13 NOVEMBER
UTAMA | SANGGAM | PEMERINTAHAN | PARLEMENTARIA | EKONOMI | ALL SPORT | KOMBIS
Kamis, 12 September 2019 15:04
Pilihan
DUKUNG KEPELABUHANAN: Penulis dengan latar belakang Hotel Sederhana di Jalan Pangeran Antasari. Kabarnya bangunan ini akan diruntuhkan dan lahannya digunakan untuk mendukung kegiatan di pelabuhan.

PROKAL.CO, CARILAH pilihanmu. pilih yang terbaik dan lakukan itu. Itu salah satu kata bijak yang saya kutip. Karena pilihan itu pula, sebuah bangunan yang penuh kenangan, akan dialihfungsikan menjadi lahan terbuka. Mendukung aktivitas pelabuhan.

Saya termasuk di antara banyak orang yang terkejut.  Terkejut dengan putusan manajemen Hotel Sederhana yang berada di kawasan sibuk, di Jalan Pangeran Antasari. Mendapat berita, hotel itu akan diruntuhkan. Lalu lahannya digunakan untuk mendukung salah satu perusahaan yang bergerak di bidang jasa kepelabuhanan.

Mendengar berita itu, saya bergegas ke hotel Sederhana. Membuktikan berita yang baru saya dapat sejam sebelumnya. Ternyata ada benarnya. Nama hotel berwarna hijau yang terpampang bagian depan bangunan, sudah tak tampak lagi. Kain gorden juga sudah terlepas. Perabot yang ditempatkan di teras, juga sudah tidak terlihat lagi. Di atapnya masih berdiri kokoh tiang milik salah satu operator telepon seluler.

Mau menjumpai teman saya yang membuka kedai kopi di ruang depan, sepertinya belum buka. Kalau semua bangunan diruntuhkan, teman saya juga pasti ikut tergusur. Padahal kopinya nikmat. Lokasinya juga strategis. Terus, teman saya mau pindah ke mana?

Saya menghadiri pesta pernikahan putra teman saya, Pak Asnawi di Hotel Derawan Indah. Saya sempat menanyakan berita itu pada Pak Junaidi. Dia bekerja di salah satu hotel terkenal di Berau. Iya mengamini cerita itu. Berarti benar, Hotel Sederhana akan mengakhiri semua aktivitasnya.

Pemilik hotel teman saya, Pak Soehartono Soecipto (Alm). Ketika hotel ini masih dengan konstruksi kayu, kami sering berbincang di salah satu ruangannya. Bila menarik waktu ke belakang, Hotel Sederhana salah satu dari sedikit hotel yang berdiri sejak lama. Kata teman-teman, ini hotel legend. Menyimpan banyak kenangan.

Saat berubah konstruksinya seperti sekarang. Saya dan Pak Hartono – sapaan almarhum Soehartono Soecipto – juga sering berbincang di restoran hotel. Ayam gorengnya enak. Juga ikan rebusnya. Teman-teman anggota dewan di Berau dan LSM, juga sering kumpul di hotel ini.

Lokasi hotel, bersebelahan dengan pelabuhan. Saya kadang bertanya dalam hati. Apa iya, tamu yang menginap tidak terganggu dengan aktivitas penyusunan kontainer di pelabuhan.

Bila melihat susunan kontainer, hampir setinggi atap hotel. Sedikit banyak pastilah terganggu. Minimal ada getaran. Getaran siang dan getaran malam.

Terakhir ini yang kuat pengaruhnya. Bisnis hotel juga kian maju pesat. Persaingan disadari atau tidak, pasti berlangsung kencang. Lokasi Hotel Sederhana sangat strategis. Tepi jalan dan tak jauh dari Sungai Segah. Mau mencari makan, tak susah. Karena strategis itu, pemodal juga membangun hotel di seberangnya.  Namanya Hotel Palmy.

Ada dua hotel yang seangkatan dengan Hotel Sederhana yang juga lokasinya berhadapan, sudah lama berakhir. Di lokasi yang lain, dibangun hotel yang lebih dari 5 lantai. Ada hotel Palmy Exclusive, Neotel, Hotel Bumi Segah, juga ada Hotel Grand Parama. Inilah yang menjadi pesaingnya.

Saya hanya meraba-raba. Dengan tingkat hunian yang di bawah 40 persen, akan sulit membiayai operasional. Mulai dari gaji karyawan, biaya listrik dan air, maupun biaya lainnya. Termasuk pajak.

Sangat yakin, manajemen sudah berusaha sekuat tenaga ‘melawan’ situasi itu. Tapi, lagi-lagi akan kehabisan tenaga untuk terus tetap bertahan. Hingga pada satu situasi, harus menyerah.

Dalam berusaha juga pilihan. Setiap pilihan yang dibuat, akan memiliki hasil akhir. Ada perusahaan yang bergerak pada jasa pelabuhan, sangat kesulitan lahan. Dia punya, tapi lokasinya jauh. Sudah ‘berdarah-darah’ dengan kritikan. Perusahaan ini berminat memanfaatkan lahan hotel.

Dan pilihan akhirnya jatuh. Ada kesepakatan dengan pihak perusahaan. Saya tidak dapat informasi apakah dibeli atau hanya disewakan saja. Konsekuensinya, bangunan harus dirobohkan. Yang diperlukan lahannya. Lahan yang hanya berbatas pagar dengan pelabuhan.

Saya merasa sedih. Saya ingat di mana kami sering bertemu dan berbincang. Di saat masih bangunan kayu, juga di saat dengan konstruksi beton. Lagi-lagi, inilah pilihan walau berat rasanya. Di balik itu, akan banyak warga tersenyum. Tak lagi berselisihan dengan kendaraan besar yang mengangkut kontainer. Katanya perusahaan ini yang diajak bekerja sama. (*/udi) 


BACA JUGA

Selasa, 05 November 2019 18:23

Geisha

SAYA tahunya Geisha itu salah satu kelompok musik asal Pekanbaru.…

Senin, 04 November 2019 19:12

Sakura dalam Pelukan

   “JANGAN lupa kunjungi Ginza.” Itu pesan teman saya sebelum…

Minggu, 03 November 2019 10:42

Joker, Keyakinan dan Radikalisme

Oleh: Endro S Efendi   Selama ini, ilmu mengenai pikiran…

Minggu, 27 Oktober 2019 01:11

Stres? Saatnya Relaksasi

MENDENGAR kata ini, yang terbayang biasanya orang duduk bersila seperti…

Sabtu, 26 Oktober 2019 14:39

Mappanre(ri)tasi

SAYA tidak punya catatan, sejak kapan acara Buang Nahas mulai…

Jumat, 25 Oktober 2019 18:17

Tangisan Bu Susi

WANITA kuat dan pemberani itu menangis. Pada acara pisah sambut…

Rabu, 23 Oktober 2019 14:18

Ada yang Gelisah

SAYA tidak mengikuti penuh pidato Pak Joko Widodo, usai dilantik…

Senin, 21 Oktober 2019 12:47

Titik Nol

SAMPAI sekarang, saya belum tahu di mana lokasi titik nol…

Senin, 21 Oktober 2019 10:56

WAJAH KOTA KOK GINI?

Jalan Kalimarau, Kecamatan Teluk Bayur, merupakan wajah Kabupaten Berau, mengingat…

Sabtu, 19 Oktober 2019 18:31

‘Kuch Kuch Hota Hai’

“Tanjung Redeb itu di mana sih?” Saya dengar pembicaraan teman…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia.
*