MANAGED BY:
SELASA
02 JUNI
UTAMA | SANGGAM | PEMERINTAHAN | PARLEMENTARIA | EKONOMI | ALL SPORT | KOMBIS
Sabtu, 14 September 2019 13:54
Jerebu
ASAP TEBAL: Kondisi asap tebal yang mengurung kota Tanjung Redeb semakin mengkhawatirkan. Penulis saat berada di tepian Sungai Segah, Jalan Pulau Derawan.

PROKAL.CO, MASIH ingat peristiwa yang sama tahun 2015 lalu? Situasinya sama seperti dalam pekan-pekan terakhir ini di Tanjung Redeb. Asap tebal membuat jarak pandang terganggu. Belasan penerbangan dari dan ke Bandara Kalimarau juga dibatalkan.

Ada video pendek berdurasi 3 menit, beredar di media sosial. Dalam video itu, terdengar suara perempuan yang memberikan narasi situasi kebakaran lahan di kawasan Tumbit Dayak, Kecamatan Sambaliung. Asapnya sangat tebal.  Bahkan api sudah merembet hingga ke jalan raya. Video ini jadi viral, bagaimana hebatnya kejadian kebakaran lahan di Berau.

Kebakaran yang terjadi di beberapa titik, diduga memberikan kontribusi asap tebal yang hampir rata mengurung wilayah Berau.

Di Lapangan Batiwakkal kemarin, ada hajatan besar yang digagas Bankaltimtara. Semua persiapan sudah dilakukan. Undangan juga sudah beredar. Pedagang sejak siang sudah menata barangnya di luar pagar lapangan. Teman-teman di Bankaltimtara menggagas acara dengan tema ‘Harmoni Cinta’.

Kelompok musik Padi yang akan tampil.  Panggung beserta videotron sudah beberapa kali dicoba. Soundsystem juga sesekali mendengung kencang. Apa mau dikata, hingga pukul 17.00 Wita, rombongan grup musik Padi belum juga tiba di Berau.

Alasannya, pesawat yang sedianya akan membawa ke Tanjung Redeb, batal terbang. Jarak pandang di Bandara Kalimarau terbatas. Karena alasan ini, pastilah warga yang ingin sekali menyaksikan penampilan Padi sedikit sedih, tapi memahami situasi.

Teman-teman di Bankaltimtara juga tak nyaman hati. Pak Aris dan seluruh jajarannya, tak kuasa menyembunyikan rasa sedihnya. Mereka tak bisa berbuat apa-apa. Ini semua di luar dugaan. Asap tebal dari hari ke hari terus semakin pekat. Bisa jadi asap kiriman, ditambah asap lokal.

Yang merasa khawatir, juga teman-teman panitia peringatan Hari Jadi Kabupaten Berau. Acaranya dipusatkan di Lapangan Pemuda. Juga akan mengundang kelompok musik Geisha. Kalau asap tebal tidak berubah, kemungkinan kelompok musik ini akan mengalami nasib yang sama.

Petang kemarin, Jumat (13/9), saya sengaja berkeliling di ruang jalan utama di Tanjuung Redeb. Warga seakan tak peduli dengan kondisi udara yang menurut saya, kualitasnya tidak baik bagi kesehatan. Warga asyik saja berkendaraan tanpa menggunakan masker.

Di sepanjang tepian Jalan Pulau Derawan, tak jauh berbeda. Padahal sangat jelas Kecamatan Gunung Tabur yang biasanya nampak jelas, terhalang kabut asap. Kapal Tugboat yang menarik ponton berisi batu bara, terlihat samar-samar.

Warga dengan santainya, menikmati udara sore sambil bercengkrama menikmati segelas minuman dingin. Ada saja yang paham akan kondisi cuaca, nampak masker terpasang di bagian mulut dengan warna yang berbeda.

Teman saya, seorang dokter, mengaku khawatir dengan kondisi cuaca yang terjadi dalam beberapa hari terakhir ini. Warga, kata teman saya, sebaiknya memilih berada di rumah saja.  Kalau juga akan bepergian dengan kendaraan ataupun berjalan kaki, sebaiknya menggunakan masker. Berbahaya bagi kesehatan, terutama bagian pernapasan.

Saya tak bisa membayangkan, bila tak ada perubahan kondisi asap, penerbangan ke Kalimarau akan tertutup. Entah berapa lama.  Asap yang sangat pekat, jarak pandang terbatas.  Bandara Kalimarau walau dilengkapi dengan lampu runway, tetap saja tak bisa menembus pekatnya asap.

Kondisi asap membuat kita semua prihatin. Aktivitas pasti terganggu. Pada tingkat kualitas udara yang mengkhawatirkan, bisa saja anak-anak sekolah diliburkan. Ini tak lain, untuk menjaga kesehatan mereka.

Saya sempat bingung, ketika saya bercerita soal asap. Anak saya selalu menyela dengan menyebut kata ‘Jerebu’. Saya sempat gagap juga. Maksud anak saya apa.

Oh, ternyata akhirnya paham juga. Kata ‘Jerebu’ yang disebutkan anak saya, ternyata artinya asap. Film kartun Upin dan Ipin, sering menyebut ‘Jerebu’ berbahasa Melayu. Ternyata anak-anak lebih paham ‘Jerebu’ ketimbang asap. (*/udi)


BACA JUGA

Sabtu, 02 Mei 2020 02:38

Mengikuti Mas Agus Bagi Ayam Goreng dan Takjil

JARUM jam baru menunjukkan pukul 15.00 Wita. Tapi halaman rumah…

Sabtu, 25 April 2020 12:34

Kuatkan Diri di Bulan Suci Menghadapi Pandemi

TIDAK terasa kita sudah memasuki bulan yang istimewa bagi umat…

Jumat, 17 April 2020 13:28

Sebagian Dana Desa untuk BLT

SEBAGAI salah satu daerah terdampak Covid-19, setidaknya 18.260 keluarga di…

Sabtu, 11 April 2020 00:30

Virus Ini Lebih Berbahaya Dibanding Corona

SAAT ini, secara garis besar ada tiga virus yang berbahaya.…

Sabtu, 04 April 2020 19:31

Kisah Sampar dan Covid-19

PANDEMI Covid-19 mengingatkan kita pada ulasan Albert Camus dalam novelnya…

Kamis, 12 Maret 2020 21:37

Soundscape Bandara Kalimarau

(do mi sol do) “Perhatian-perhatian, panggilan kepada penumpang pesawat udara…

Rabu, 19 Februari 2020 12:39

Musik Tradisi atau Musik Etnis

Menjelang perhelatan Festival dan Lomba Seni Siswa Nasional (FLS2N) yang…

Selasa, 18 Februari 2020 15:45

Corona Konro

HEBOH awal berjangkitnya Coronavirus di Wuhan,  Provinsi Hubei, juga membuat…

Senin, 17 Februari 2020 11:30

Rawan Listrik

KABAR gembira. Pak Makmur yang pernah memimpin Berau dua periode…

Sabtu, 15 Februari 2020 16:40

Segah 119 Tahun Silam

SEPERTI apa suasana Sungai Segah dan Gunung Tabur 119 tahun…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Terverifikasi Dewan Pers