MANAGED BY:
SENIN
14 OKTOBER
UTAMA | SANGGAM | PEMERINTAHAN | PARLEMENTARIA | EKONOMI | ALL SPORT | KOMBIS

UTAMA

Rabu, 18 September 2019 17:27
Lahan Terbakar, Seluas Mata Memandang

Wabup Pantau Karhutla di Tabalar

SEPERTI PADANG ABU: Wabup Agus Tantomo didampingi aparat kepolisian dan TNI, meninjau lokasi karhutla di Tabalar kemarin (17/9).

PROKAL.CO, TANJUNG REDEB- Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) diperkirakan masih terjadi. Dari data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Berau kemarin (17/9), sebaran titik panas atau hotspot mencapai 48 titik yang tersebar di 9 kecamatan, Selasa (17/9). Yang terbanyak, 11 titik di Kecamatan Segah.

Melihat kondisi itu, Wakil Bupati Berau Agus Tantomo, bersama Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Thamrin, melakukan peninjauan lokasi karhutla yang terjadi di Kecamatan Tabalar, kemarin.

Didampingi aparat kepolisian dan TNI, Agus memantau langsung proses pemadaman yang dilakukan petugas. "Pembakarnya telah diamankan pihak kepolisian dan saat ini sudah ditahan," katanya saat diwawancarai di sela-sela pemantauan kemarin.

Dari pengamatannya dan laporan dari masyarakat, lokasi karhutla memang sangat sulit diakses. Memang tidak diketahui pasti, berapa luasan hutan yang terbakar. Namun jika melihat di lapangan, seluas mata memandang semuanya sudah menjadi abu.

Mengenai status lahan yang terbakar, Agus menyebut masuk dalam kawasan area penggunaan lain atau APL. Namun, lanjut dia, ada warga yang merasa memiliki lahan tersebut, yang diduga berniat menjadikannya perkebunan kelapa sawit. “Sehingga praktisnya, setelah lahannya kering, mereka bakar,” katanya.

Untuk memadamkan karhutla, lanjut dia, personel BPBD Berau kerap menemui kesulitan. Sebab banyak karhutla yang terjadi di kawasan yang sulit dijangkau mobil pemadam kebakaran (damkar).

"Jadi harus membuka jalan dulu supaya mobil pemadam bisa lewat," ucapnya.

Tindak lanjut setelahnya, wabup berencana mengundang aparat Polres Berau, Kodim 0902 TRD, Skadron 13/Serbu, dan pihak terkait lainnya, untuk menggelar rapat karhutla hari ini (18/9).

Khusus untuk skadron, turut diundang untuk kembali mengajukan peminjaman helikopter untuk melakukan penanganan karhutla dari sisi udara. "Hanya saja memang perlu alat (untuk memadamkan api dari udara). Tapi saya pikir tidak apa-apa kita beli, dibandingkan besarnya kerugian yang dialami masyarakat akibat karhutla ini," katanya.

Sementara bagi pelaku pembakar yang telah diamankan aparat, wabup juga mengapresiasinya. Sebab tindakan hukum tegas juga menjadi bagian dari upaya penanganan jangka pendek, karena akan membuat pelaku jera dan sebagai peringatan bagi warga lainnya. “Tujuh orang yang diamankan dan KTP-nya tercatat sebagai warga Tarakan,” terangnya.

 

Terpisah, Bupati Berau Muharram sangat menyayangkan terjadinya karhutla yang membuat munculnya asap pekat.

Menurut, dalam kurun 3 tahun terakhir, bencana kabut asap sudah tak terjadi lagi di Berau. “Bisa jadi karena ini musim tanam (jadi banyak yang membakar lahan). Ditambah tidak ada hujan, sehingga menyebabkan kabut asap dan membutuhkan waktu lama untuk hilang," ujar Muharram.

Diakuinya, wilayah Berau yang luasannya masih didominasi kawasan hutan. Ditambah sebagian besar masyarakat yang masih bercocok tanam secara tradisional, menggunakan sistem bakar untuk membuka lahan.

“Sebenarnya kami juga sudah antisipasi, dengan menempatkan mobil pemadam di setiap kecamatan. Cuma ketika yang terbakar hanya punya jalan setapak, yang tidak memungkinkan mobil pemadam masuk, otomatis pemadamannya dilakukan dengan cara manual,” terangnya.

ASAP KIRIMAN

Ketua Sementara DPRD Berau Madri Pani, turut menyoroti persoalan kabut asap di Bumi Batiwakkal. “Memang setahu saya, kabut asap bukan karena karhutlah yang di terjadi Berau saja, melainkan lebih besar asap kiriman dari Kalteng dan Kalsel," katanya kepada Berau Post, Senin (16/9).

Terkait kebiasaan masyarakat yang membuka lahan untuk pertanian dengan cara di bakar, Madri tidak bisa menyalahkannya. Sebab cara tersebut sudah dilakukan turun-temurun. Namun ketika masyarakat membakar lahan untuk pertanian, terlebih dahulu melakukan antisipasi agar kebakaran tidak meluas. Dengan cara menyekat lahan yang akan dibakar, serta telah mendapat izin secara adat sebelum membakar lahan.

"Dan di tahun-tahun sebelumnya tidak ada asap. Jadi tidak bisa serta-merta menyalahkan masyarakat. Artinya, ayo kita evaluasi bersama-sama kelemahan ini dan selalu tanggap dalam permasalahan karhutla. Karena dampak yang ditimbulkan sangat berpengaruh pada kesehatan dan perekonomian masyarakat,” pungkasnya. (arp/*/plp/*/oke/udi)


BACA JUGA

Minggu, 13 Oktober 2019 19:12

Dua Figur Daftar ke Gerindra

TANJUNG REDEB - Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Partai Gerindra Berau,…

Minggu, 13 Oktober 2019 18:56

Target Tuntas 2021

TANJUNG REDEB – Pembangunan sarana pendidikan di wilayah 3T (tertinggal,…

Minggu, 13 Oktober 2019 18:54

Mengatur Lalu Lintas di Titik Pekerjaan Drainase, Dishub Akui Tak Dilibatkan

TANJUNG REDEB – Beberapa proyek pengerjaan drainase di wilayah Tanjung…

Minggu, 13 Oktober 2019 18:53

Tangkal Berita Hoaks, Kenali Sumber Informasi

Pelajar yang tergabung dalam Palang Merah Remaja (PMR) di sekolah-sekolah…

Minggu, 13 Oktober 2019 18:49

Solar Kosong, Nelayan Tidak Melaut

TANJUNG REDEB – Masyarakat nelayan di Kampung Kasai, Kecamatan Pulau…

Sabtu, 12 Oktober 2019 12:22

Deklarasi Perpisahan di Hadapan ASN

TANJUNG REDEB – Kasak-kusuk pencalonan petahana yang akan berkompetisi pada…

Sabtu, 12 Oktober 2019 12:20

Jarak Tempuh Jadi Pertimbangan Mutasi

TANJUNG REDEB – Pemerintah Kabupaten Berau kembali melakukan promosi dan…

Sabtu, 12 Oktober 2019 12:18

Ungkap Peredaran Kosmetik Ilegal

TANJUNG REDEB - Seorang ibu rumah tangga (IRT) berinisial SA…

Jumat, 11 Oktober 2019 18:48

Dilantik Hari Ini, 60 ASN Dirotasi

TANJUNG REDEB - Bupati Berau kembali akan melantik puluhan pejabat…

Jumat, 11 Oktober 2019 18:46

Jederrrr...!! Petir Menyambar, Tiga Pekerja Jatuh dan Pingsan

PULAU DERAWAN - Tiga karyawan PT Sentosa Kalimantan Jaya (SKJ)…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia.
*