MANAGED BY:
KAMIS
14 NOVEMBER
UTAMA | SANGGAM | PEMERINTAHAN | PARLEMENTARIA | EKONOMI | ALL SPORT | KOMBIS
Sabtu, 12 Oktober 2019 12:17
Hiu dan Hui

PROKAL.CO, "SAYA Kecolongan,” kata Pak Agus Tantomo, Wakil Bupati Berau.

Responsnya saat ia menerima kiriman foto seekor hiu “menyelinap” hingga ke meja pedagang ikan di Pasar Sanggam Adji Dilayas.

Sikap jujur Pak Agus mewakili kita semua. Bahwa informasi itu sangatlah penting. Saat ikan itu tertangkap (bisa jadi tidak sengaja masuk dalam perangkap nelayan) ada rasa serba salah. Dilepas kembali ke laut, ikannya sudah dalam kondisi tak bernyawa.

Bisa juga ada kekhawatiran nelayan akan rasa ‘pamali’ membuang kembali ke laut hasil tangkapan. Di sinilah asal mula kesenjangan informasi.

Jumlah hiu yang tertangkap hanya satu-satunya. Kata teman saya iwak kepuhunan, masuk dalam jaring. Beda kalau yang ada di pasar jumlahnya banyak.

Berpindah tangan ke pengumpul, adalah kesenjangan informasi yang kedua. Sudah melakukan pemilahan jenis dan ukuran ikan, ikan hiu itu terbawa serta. Terbawa hingga ke pasar.

Saat diturunkan di pasar, lalu dijemput pedagang, terjadi kesenjangan informasi yang ke tiga. Ikan ini sudah terbeli bersama kelompok ikan lainnya.  Tak ada alasan untuk menyisihkan dari kelompok ikan Kerapu atau Kakap merah.

Kenyataan, saat di meja pedagang ikan, ikan hiu itu tersimpan sendiri. Tidak dipajang bersama ikan lainnya. Kondisi badannya masih utuh. Sirip yang menjadi incaran banyak orang masih utuh. Masih tetap berada di posisinya masing-masing.

Kesenjangan informasi juga terjadi. Sang penjual ikan juga tidak tahu. Untung-untungan kalau ada yang mau membelinya. Hiu ini serba keras.  Kulitnya keras, kepalanya keras, dagingnya juga keras. Selain keras, ada aroma ‘Langu’ pada dagingnya.

Urutan kesenjangan informasi itu yang membuat seekor hiu dari laut hingga ke meja pedagang. Saya pastikan, mereka tidak tahu kalau hiu jenis itu dilarang diperjualbelikan. Bahkan dilarang ditangkap.

Maka betullah apa yang disampaikan Pak Agus, ia kecolongan. Dua makna kecolongan sekaligus ingin disampaikannya. Kecolongan pertama, nelayan secara tak sengaja mendapatkannya dari laut saat mencari ikan. Kecolongan yang ke dua, bahwa apa yang terjadi lepas dari pengawasan. Yang seharusnya menjadi kewajibannya untuk memberikan pemahaman kepada semua mata rantai perikanan.

Kejujuran Pak Agus mewakili kita semua pentingnya informasi.  Begitu pun informasi soal ikan hiu yang boleh dan tidak boleh ditangkap. Ada yang menyebut boleh ditangkap minimal panjangnya 2 meter dan beratnya 50 kilogram.

Ada juga catatan menyebutkan 10 jenis hiu yang dilarang ditangkap. Saya sebut saja Hiu Paus (Rhincodon Typus), Hiu Koboi (Charcharhinus Longimanus), Hiu Martil (Sphyrna spp), Hiu Tikus (Alopsias spp), Hiu Basking, Hiu Kejen, Hiu Leopar, Indonesian Angle Shark dan Borneo Shark.

Jenis ini yang perlu disampaikan kepada nelayan. Agar mereka tahu bahwa hasil laut ada juga aturan yang harus ditaati. Salah satunya, penangkapan dan memperjualbelikan hiu.

Lalu apa pula hubungannya antara hiu dan Hui?

Saya hanya menghubung-hubungkan kedekatan nama. Saya sering salah mengetik. Maksudnya menulis hiu tapi yang terketik ‘Hui’. Saya coba telusuri, Hui itu apa. Kalau dalam bahasa Sunda Hui itu artinya ubi Jalar.

Hui yang lain? Adalah salah satu dari lima suku tersebar di Tiongkok. Yakni Ningxia, Hainan, Gansu, Yunnan dan Qianghai. Lima suku ini adalah penduduk yang beragama Islam. Ningxia adalah daerah otonom suku muslim Hui.

Dari catatan yang saya dapatkan, Suku Hui ini asimilasi antara Persia dan Arab pada abad 7 Dinasti Tang.

Saya mencari informasi sekitar Suku Hui. Mau melihat bagaimana perpaduan wajah Persia dan Arab. Terutama wajah wanitanya. Persia saja cantik, Arab apalagi. Dua-duanya dipadukan. Maka berlipat-lipatlah kecantikannya.

Saya pernah ke Tiongkok. Saat itu diajak teman. Hanya berputar-putar di Beijing dan Sanghai. Tidak pernah mengunjungi yang bermukim di lima suku itu. Jadi tidak pernah melihat wajah perempuan perpaduan Persia dan Arab yang cantiknya berlipat-lipat.

Saat saya memesan makanan di warung kecil yang ada tulisan halal-nya, saya bertemu penjualnya yang sudah paruh baya. Tapi anaknya yang mengantar pesanan yang cantik. Putih bersih beralis tebal.

Saya pikir jangan-jangan itulah salah satu contoh gadis muslim perpaduan Persia dan Arab. Kalau ada teman saya yang mengajak lagi ke Tiongkok, saya akan minta perjalanan ke lima kota itu. Mau melihat lebih dari satu yang berwajah Persia dan Arab. Juga mau mampir di komunitas Muslim Uighur yang populasinya lebih dari 10 juta. (*/har)


BACA JUGA

Senin, 04 November 2019 19:12

Sakura dalam Pelukan

   “JANGAN lupa kunjungi Ginza.” Itu pesan teman saya sebelum…

Minggu, 03 November 2019 10:42

Joker, Keyakinan dan Radikalisme

Oleh: Endro S Efendi   Selama ini, ilmu mengenai pikiran…

Minggu, 27 Oktober 2019 01:11

Stres? Saatnya Relaksasi

MENDENGAR kata ini, yang terbayang biasanya orang duduk bersila seperti…

Sabtu, 26 Oktober 2019 14:39

Mappanre(ri)tasi

SAYA tidak punya catatan, sejak kapan acara Buang Nahas mulai…

Jumat, 25 Oktober 2019 18:17

Tangisan Bu Susi

WANITA kuat dan pemberani itu menangis. Pada acara pisah sambut…

Rabu, 23 Oktober 2019 14:18

Ada yang Gelisah

SAYA tidak mengikuti penuh pidato Pak Joko Widodo, usai dilantik…

Senin, 21 Oktober 2019 12:47

Titik Nol

SAMPAI sekarang, saya belum tahu di mana lokasi titik nol…

Senin, 21 Oktober 2019 10:56

WAJAH KOTA KOK GINI?

Jalan Kalimarau, Kecamatan Teluk Bayur, merupakan wajah Kabupaten Berau, mengingat…

Sabtu, 19 Oktober 2019 18:31

‘Kuch Kuch Hota Hai’

“Tanjung Redeb itu di mana sih?” Saya dengar pembicaraan teman…

Sabtu, 19 Oktober 2019 13:20

Bangku Taman

Oleh: ENDRO S EFENDI SELAMA ini, ilmu mengenai pikiran yang…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia.
*