MANAGED BY:
KAMIS
14 NOVEMBER
UTAMA | SANGGAM | PEMERINTAHAN | PARLEMENTARIA | EKONOMI | ALL SPORT | KOMBIS
Jumat, 18 Oktober 2019 13:14
OTT
Ilustrasi

PROKAL.CO, MENUNGGU dari tadi, tak muncul juga. Teh susu buatan Bu Sukma sudah hampir habis. Ditelepon, jawabnya, “OTW bos.” Lewat pesan singkat, juga jawabannya sama. “Ini OTW bos.” Diingatkan lagi lewat WhatsApp, juga jawabannya serupa. “Ini sudah OTW di Jalan SA Maulana,” balasnya.

Rumahnya tidak seberapa jauh. Hanya dua kali belok dan sekali menunggu di traffic light. Itupun kalau persis terkena lampu merah. Kalau tidak, hanya butuh waktu beberapa menit, sudah tiba di warung kopi Hokky.

Sebutan OTW sering digunakan, untuk memastikan keberadaannya. Ada juga yang menyebutkan bahwa ia sedang menuju lokasi yang dimaksud. Sedang dalam perjalanan alias On The Way.

Ada juga teman saya yang kadang bikin kesal juga. Dia tidak ke mana-mana, hanya duduk, tapi ketika ditanya di mana posisi, jawabannya singkat ‘OTW’. Jangan-jangan teman yang saya tunggu, sebelum mandi sempat membalas WA menulis ‘OTW’.

Akhirnya datang juga. Teman saya nampak segar. Dandanannya rapi. “Dari tadi OTW, ke mana saja,” tanya saya.

”Jalan macet bos,” katanya singkat.

Saya lupa, kalau beberapa pekan terakhir ini banyak jalan yang dialihkan akibat pengerjaan trotoar. Banyak pengguna jalan yang ngomel. Memang ini salah satu risiko. Kondisi kota yang ruas jalannya sedikit, sulit mencari jalan alternatif.

Bahkan akibat pengerjaan trotoar itu, distribusi air bersih juga mengalami penghentian. Tidak lama. Hanya dua hari Sabtu dan Minggu. Setelah itu lancar lagi.

Saya berencana mengajak teman saya untuk keliling kota. Menyaksikan banyak rumah makan dan warung kopi. Sebab, sekarang sudah semakin cenderung, pegawai negeri dan swasta, tak lagi pulang ke rumah untuk makan siang. Cukup ke warung saja. Praktis. Apalagi yang rumahnya terbilang jauh.

Juga semakin banyak pegawai dan karyawan swasta, yang tidak langsung pulang ke rumah. Mampir dulu di warung kopi kesayangannya. Kadang sendiri. Tapi lebih sering terlihat bersama-sama karyawan lainnya.

Ini yang saya mau cermati. Untuk apa menghabiskan waktu, hanya untuk melihat warung mana yang ramai dan yang sepi pengunjung.

Itu penting. Bisa menjadi petunjuk kondisi perekonomian di daerah. Bisa jadi acuan perputaran uang ke mana saja dan di mana saja pusarannya.

Lihatlah Rumah Makan Pondok Borneo. Saat makan siang ramainya luar biasa. RM Celebes juga demikian.  Rumah makan Harmony apalagi. Rumah Makan Balong AA begitu juga situasinya. Juga di Rumah Makan Sop Saudara. Hampir semua rumah makan, jadi pusat kunjungan warga. Baik di hari libur, maupun di hari kerja.

“Kita mau melakukan OTT,” kata saya.

“Tidak salah bos,” kata teman saya terheran-heran.

Bukan untuk melakukan Operasi Tangkap Tangan (OTT) yang dua hari ini ramai menghiasi pemberitaan. OTT yang dilakukan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Kita hanya mau menghitung Omzet Tingkat Tinggi (OTT) dari sejumlah warung kopi dan rumah makan.

Mau belajar, apa yang menjadi resep sehingga warung itu banyak pengunjungnya. Rumah Makan Celebes yang di tepi Sungai Kelay, misalnya. Sekarang harus lihat situasi dulu. Terlambat bisa tidak kebagian tempat.

Rumah makan menjadi bisnis kuliner yang paling mudah untuk diikuti. Segmen konsumennya jelas. Walau tempatnya tidak begitu bagus, namun sajiannya yang menarik serta menunya yang asyik, konsumen pasti datang berlomba.

Apalagi, sedikit promosi lewat media sosial. Sekelas Gerobak Kopiku, yang jualan tiap sore di tepi sungai Segah saja, ramainya luar biasa. Saya pernah tanya, berapa penghasilannya setiap hari. Angkanya hanya berkisar Rp 2 juta. Gerobak Kopiku, masuk salah satu OTT di Tanjung Redeb.

Kafe yang ada di dekat lapangan basket, tak jauh dari rumah dinas wakil bupati, jadi salah satu lokasi warga untuk hang out di malam hari. Penghasilannya pastilah besar. Dalam seminggu, saya bisa berkunjung sebanyak 3 kali. Namanya IP Cafe. Juga masuk kategori kafe OTT.

Penjual sate dan warung bakso, serta warung NyukNyang di Jl Aminuddin, ditambah Rumah Makan Balong AA, semuanya masuk kategori rumah makan OTT.

Tapi, bagi Anda yang berstatus pegawai, jangan coba-coba berkunjung ke warung kopi dan rumah makan di saat jam kerja. Bukan jam istirahat. Bisa-bisa Anda terkena OTT oleh Tim Satpol PP yang rajin keliling kota. Kalau ini, bukan lagi Omzet Tingkat Tinggi (OTT). Tapi memang terkena OTT oleh Satpol PP. (*/udi)


BACA JUGA

Selasa, 05 November 2019 18:23

Geisha

SAYA tahunya Geisha itu salah satu kelompok musik asal Pekanbaru.…

Senin, 04 November 2019 19:12

Sakura dalam Pelukan

   “JANGAN lupa kunjungi Ginza.” Itu pesan teman saya sebelum…

Minggu, 03 November 2019 10:42

Joker, Keyakinan dan Radikalisme

Oleh: Endro S Efendi   Selama ini, ilmu mengenai pikiran…

Minggu, 27 Oktober 2019 01:11

Stres? Saatnya Relaksasi

MENDENGAR kata ini, yang terbayang biasanya orang duduk bersila seperti…

Sabtu, 26 Oktober 2019 14:39

Mappanre(ri)tasi

SAYA tidak punya catatan, sejak kapan acara Buang Nahas mulai…

Jumat, 25 Oktober 2019 18:17

Tangisan Bu Susi

WANITA kuat dan pemberani itu menangis. Pada acara pisah sambut…

Rabu, 23 Oktober 2019 14:18

Ada yang Gelisah

SAYA tidak mengikuti penuh pidato Pak Joko Widodo, usai dilantik…

Senin, 21 Oktober 2019 12:47

Titik Nol

SAMPAI sekarang, saya belum tahu di mana lokasi titik nol…

Senin, 21 Oktober 2019 10:56

WAJAH KOTA KOK GINI?

Jalan Kalimarau, Kecamatan Teluk Bayur, merupakan wajah Kabupaten Berau, mengingat…

Sabtu, 19 Oktober 2019 18:31

‘Kuch Kuch Hota Hai’

“Tanjung Redeb itu di mana sih?” Saya dengar pembicaraan teman…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia.
*