MANAGED BY:
SENIN
24 FEBRUARI
UTAMA | SANGGAM | PEMERINTAHAN | PARLEMENTARIA | EKONOMI | ALL SPORT | KOMBIS
Senin, 21 Oktober 2019 12:47
Titik Nol
KENANGAN: Penulis bersama Pak Aliang di depan Toko Tolaram, Jalan A Yani. Di tempat kami berdiri, di situlah lokasi kami berjualan kain di tepi jalan.

PROKAL.CO, SAMPAI sekarang, saya belum tahu di mana lokasi titik nol kabupaten, berada. Saya pernah mengira-ngira, lokasinya di Strat Bundar (simpang empat Jalan Pemuda dan Jalan P Antasari).

Ada juga yang bilang, titik nol itu diambil persis di kantor bupati. Sebagian lagi menyebut titik nol itu di rumah dinas Bupati Berau di Jalan Cendana. Titik nol kilometer ini, jadi patokan jarak. Seperti di Jogja itu berada di bangunan Senisono.

Di Indonesia, titik nol berada di Pulau Weh, tepatnya di lokasi wisata Pulau Sabang. Sedangkan di Tiongkok, berada di pintu masuk taman Fengtian di jalur Jingguan.

Secara kebetulan, saya jumpa dengan Pak Oetomo Lianto yang lebih akrab dengan sebutan nama Pak Aliang. Entah keperluan apa, berada di Jalan Ahmad Yani. Tepat di tempat berjualan kain. Toko Tolaram.

Saya memang punya cerita dengan Pak Aliang soal tempat itu. Ceritanya 30 tahun silam. Di awal-awal perjuangan Pak Aliang dalam merintis usahanya. Saya dari dulu berteman. Setidaknya, tahu alur perjalanannya.

Makanya, jumpa di lokasi depan toko Tolaram, Pak Aliang banyak merenung. “Di sinilah dulu kita jualan kain ya?” kata Pak Aliang. Kenapa ia menggunakan kata ‘kita’. Ya, memang bersama saya ‘buka lapak’ di tempat itu.

Jualan diawali beberapa pekan sebelum Lebaran. Waktu itu, juga bersamaan dengan proses pembangunan konstruksi pabrik bubur kertas di Mangkajang. Karyawannya ribuan. Setiap malam, memadati Tanjung Redeb.

Pakaian yang ada di etalase di Toko Tolaram, sebagian dikeluarkan. Ditumpuk di tepi jalan. Pak Aliang yang menentukan harga jual. Saya hanya mengundang pembeli. Sementara, almarhum Pak Gufran, tukang bungkus sekaligus kasir.

Memang belum banyak pengusaha yang terjun di bisnis konveksi. Jauh hari sebelum masuk bulan puasa, Pak Aliang sudah memesan pakaian dari Jakarta. Ada juga yang dipesan dari Surabaya.

Usai salat Tarawih, sepanjang Jalan Ahmad Yani, hanya boleh bagi pejalan kaki. Jalannya sempit. Di tepi sungai, tak ada trotoar. Yang ada turap ulin. Turap ini berfungsi sebagai tempat sandar kapal asal kecamatan.

Setiap menjelang Lebaran, jalan Ahmad Yani berubah menjadi ‘pasar malam’. Di situlah kami bersama Pak Aliang menghabiskan waktu di malam hari. Jualan baju keperluan Lebaran.

Bagi Pak Aliang, di situlah ‘titik nol’ dalam merintis usahanya. Termasuk, usaha penjualan tiket pesawat Bouraq ‘Bali Air’. “Iyaa, betul.  Inilah lokasi saya memulai usaha. Tanpa itu semua, saya juga tidak bisa bangkit seperti sekarang,” kata dia.

Anak-anaknya masih kecil. Ada salah seorang dari putra Pak Aliang, namanya Cuncun. Saat itu, masih sangat kecil. Selalu dalam pengawasan. Tiga anak-anaknya yang lain, juga demikian.

Saya sendiri, bila satu meja di warung kopi Hokky, baru sadar. Ternyata saya ini sudah tidak muda. Sebab, dulu waktu ‘buka lapak’ bersama Pak Aliang, Cuncun masih kecil.  Sekarang sudah sama-sama minum kopi di warung Hokky.

Usia, yang membuat Pak Aliang tak selincah dulu lagi. Sama, saya juga tidak selincah ketika saya menemaninya jualan kain di tepi jalan. Kami berdua, sesekali mengenang masa-masa itu. Masa sulit sebetulnya.

Semua usaha yang digeluti Pak Aliang dulu, sudah diserahkan pada anak-anaknya. Ia tidak lagi terjun. Sesekali mereka dikumpulkan, untuk diberikan nasihat. Kan, mereka juga sudah masing-masing punya keluarga. Anak-anaknya yang menjalankan.

Dari titik nol dalam perjalanan usaha Pak Aliang, hanya menangani yang ringan-ringan. Membuka kebun buah di Kampung Bangun, Sambaliung. Juga membuka usaha ayam di Kampung Sukan.

Hari-hari lainnya, kadang kami berdua menghabiskan waktu hanya untuk bercerita. Bercerita perjalanan hidup. Kami tertawa berdua. Pak Aliang, tidak akan pernah lupa sedikitpun, awal dari perjuangannya.

Bisa jadi, ketika jumpa di Jalan Ahmad Yani, Pak Aliang lagi rindu masa lalunya. Rindu dengan usaha yang dirintisnya dari awal. ‘Titik Nol’ baginya, selain menjadi jarak waktu. Juga awal dari perjalanan hidupnya. “Tidak terasa yaa, sudah 30 tahun lebih,”katanya lirih. (*/udi)

 

 


BACA JUGA

Rabu, 19 Februari 2020 12:39

Musik Tradisi atau Musik Etnis

Menjelang perhelatan Festival dan Lomba Seni Siswa Nasional (FLS2N) yang…

Selasa, 18 Februari 2020 15:45

Corona Konro

HEBOH awal berjangkitnya Coronavirus di Wuhan,  Provinsi Hubei, juga membuat…

Senin, 17 Februari 2020 11:30

Rawan Listrik

KABAR gembira. Pak Makmur yang pernah memimpin Berau dua periode…

Sabtu, 15 Februari 2020 16:40

Segah 119 Tahun Silam

SEPERTI apa suasana Sungai Segah dan Gunung Tabur 119 tahun…

Jumat, 14 Februari 2020 15:48

Paris Van Berau

SEJAK  kapan operasional tambang batu bara di Teluk Bayur dimulai?…

Kamis, 13 Februari 2020 15:11

Sungai Ketujuh

PERNAH berkunjung ke pasar terapung Sungai Martapura Lok Baintan? Konvoi…

Rabu, 12 Februari 2020 08:29

ODT Merasa

ODT itu apa Pak Daeng? Pak Yafet Tingai, Kepala Kampung…

Selasa, 11 Februari 2020 13:33

Kampus Hercules

LUASNYA 1,5 hektare. Lokasinya di tengah sungai. Di tengah arus…

Senin, 10 Februari 2020 15:00

Napas Level 3

JADI, kita harus mendaki gunung itu? Tak ada sejarah dalam…

Minggu, 09 Februari 2020 15:24

Menguak Akar LGBT dari Sudut Pandang Hipnoterapis

MUNCULNYA kasus Reynhard Sinaga benar-benar menjadi tamparan keras bagi bangsa…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Terverifikasi Dewan Pers